MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR — Gerakan dakwah tidak cukup hanya dengan program yang banyak, agenda yang padat, atau kader yang aktif. Dakwah juga membutuhkan ukhuwah yang kokoh, hati yang saling terikat dalam keimanan, dan solidaritas yang nyata dalam menjalankan amanah perjuangan.
Pesan tersebut menjadi inti materi “Membangun Ukhuwah dan Solidaritas Kader dalam Dakwah” yang dibawakan Ariesman M., Ketua Pusat Penjaminan Mutu Wahdah Islamiyah, dalam kegiatan Upgrading Pengurus LDF Surau Firdaus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Ahad (4/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–10.30 WITA ini mengangkat tema pentingnya membangun hubungan antarkader yang tidak hanya didasarkan pada kepentingan organisasi, tetapi juga pada keimanan, kecintaan karena Allah, dan kesadaran untuk saling menguatkan dalam dakwah.
Ukhuwah Bukan Sekadar Kebersamaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
Persaudaraan iman merupakan ikatan yang melampaui kedekatan pribadi, kesamaan karakter, maupun kepentingan sesaat. Ukhuwah menuntut setiap kader untuk menjaga lisan, menghormati saudaranya, memberi nasihat dengan cara yang baik, dan tidak membiarkan perbedaan berkembang menjadi permusuhan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang kader tidak cukup hanya memikirkan keberhasilan dirinya. Ia juga perlu peduli terhadap pertumbuhan saudaranya, membantu ketika ada kesulitan, dan ikut bergembira atas kebaikan yang diraih orang lain.
Belajar dari Muhajirin dan Ansar
Salah satu teladan terbaik dalam membangun solidaritas adalah persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Ansar. Kaum Ansar menerima dan membantu saudara mereka yang berhijrah ke Madinah, bahkan Allah memuji sikap mereka yang mengutamakan kepentingan saudaranya meskipun mereka sendiri membutuhkan.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 9, yang menjelaskan keutamaan kaum Ansar karena kecintaan mereka kepada kaum Muhajirin dan kesediaan mereka mendahulukan kepentingan saudara.
Keteladanan ini memberikan pelajaran bahwa dakwah akan semakin kuat ketika kader tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari organisasi?” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya berikan untuk membantu saudara dan menguatkan dakwah?”
Solidaritas bukan berarti membenarkan semua tindakan saudara. Solidaritas yang benar tetap berlandaskan kebenaran, nasihat, keadilan, dan ketaatan kepada Allah.
Menjaga Hati, Menguatkan Barisan
Dalam membangun ukhuwah, para kader perlu menumbuhkan hubungan secara bertahap: saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), membangun kedekatan hati (ta’aluf), bekerja sama (ta’awun), hingga mengembangkan sikap mendahulukan kepentingan saudara dalam kebaikan (itsar).
Sebaliknya, ada sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat merusak hubungan antarkader, seperti hasad, ghibah, kesombongan, egoisme, kebohongan, dan persaingan tidak sehat untuk memperoleh posisi atau popularitas.
Karena itu, kader dakwah perlu membiasakan silaturahmi, menyebarkan salam, saling mendoakan, memberikan nasihat dengan hikmah, membantu saudara yang mengalami kesulitan, dan segera menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Perbedaan pendapat tidak harus menghancurkan persaudaraan. Justru kedewasaan kader terlihat dari kemampuannya menjaga adab ketika berbeda, menerima nasihat, mengakui kesalahan, dan mengutamakan kemaslahatan dakwah.
Kader Kuat, Dakwah Lebih Kokoh
Penguatan ukhuwah merupakan bagian penting dari pembinaan kader. Organisasi dakwah membutuhkan kader yang tidak hanya memiliki semangat beramal, tetapi juga mampu bekerja sama, menjaga amanah, menghormati sesama, dan menghadirkan suasana yang saling menguatkan.
Melalui upgrading ini, para pengurus LDF Surau Firdaus Faperta Unhas diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai ukhuwah dalam pengelolaan organisasi dan aktivitas dakwah di lingkungan kampus.
Pada akhirnya, kekuatan dakwah bukan hanya terletak pada kemampuan menyusun program, melainkan juga pada kualitas pribadi kader dan kekuatan persaudaraan yang menopang perjuangan mereka.
Ketika ukhuwah dijaga, amanah ditunaikan, dan solidaritas diwujudkan dalam tindakan nyata, insyaallah gerakan dakwah akan lebih kokoh dalam menghadapi tantangan dan lebih luas manfaatnya bagi umat.
Editor: Admin MDcom

















































































