Banyak dari kita mengenal hadits Nabi yang berbunyi “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.”

Permasalahannya ialah ketika sebagian besar dari kita juga masih saja berfikir bahwa menuntut ilmu itu haruslah dengan bersekolah.

Fikiran yang masih beredar adalah bahwa ilmu itu hanya bisa dituntut ketika si murid berada di sekolah, tepatnya di dalam kelas.

Tentu ini merupakan pemahaman yang salah. Inilah yang aba sebut sebagai penyakit dari faham “Sekolahisme.” “Penyakit,” adalah kata yang tepat untuk disematkan.

Karena, ketika faham ini terus terbesit bahkan sampai ke tingkat keyakinan, maka pasti aktivitas menuntut ilmu akan ada pemisahan dan pembatasan.

Setidaknya ada 2 hal yang menjadi akibat dari sebab pemeliharaan terhadap penyakit itu. Yang pertama, si murid akan berfikir bahwa agar saya bisa menuntut ilmu, maka saya harus berangkat ke sekolah.

Bayangan dia, ketika disebut sekolah, pastilah satu wilayah dengan banyak bangunan bernama kelas. Ketika itulah ia akan berfikir bahwa kelas menjadi satu-satunya faktor adanya pembelajaran.

Kalau sudah begini, pastilah tidak akan ada lagi kesadaran untuk belajar secara otodidak. Inilah yang akan membuat si anak lambat menjadi dewasa, dikarenakan keterlambatan kemandirian dalam dirinya.

Dia pun menjadi seorang yang tidak beradab kepada ilmunya. Sebab tradisi keilmuannya telah ia lakukan secara sambilan.

Pertanyannya, kalau memang sekolah dengan kelasnya itu menjadi satu-satunya sarana pencarian ilmu, mengapa Rasul mampu melahirkan generasi terbaik (generasi sahabat) sepanjang masa?

Padahal di zaman Rasul tidak ada sekolah dan Rasul pun juga bukan kepala sekolah. Rasul adalah seorang guru, tapi bukan guru di kelas.

Dari sinilah kemudian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketiadaan sekolah bukan berarti ketiadaan ilmu juga aktivitas pencariannya.

Dari sini kita mengetahui bahwa memang pada dasarnya inti dari pendidikan itu bukan pada bangunan atau kebudayaan arsitekturalnya, melainkan pada guru-gurunya. Guru, itulah ruhnya.

Ingatlah, yang terpenting dari seorang murid itu bukan bagaimana cara ia belajar dan dimana ia mendapatkan pelajaran.

Baginya ada yang lebih urgen daripada itu, yakni apa yang ia pelajari dan kepada siapa ia belajar. Jadi bukan bagaimana dan dimana, tapi apa dan siapa.

Banyak ungkapan dalam kitab Ta’limul Muta’allim yang disematkan Az-Zarnuji, mengenai hal ini. Seperti misalnya, “Khudz ma shafa wa da’ ma kadar,” dan “Fa’tabiril ardha bi asmaiha.”

Beliau juga mengutip satu cerita dimana ketika Imam Abu Hanifah menjadi tukang kain, dia senantiasa berdiskusi dengan banyak orang di tokonya tersebut. Dan ia mengaku bahwa dirinya banyak mendapat ilmu manfaat dari sana.

Lihatlah seorang Hamka, pendidikannya di sekolah hanya sampai kelas 2 SD. Namun ia mampu menjadi seorang pahlawan negara.

Begitu juga dengan pak Natsir yang hanya sampai SMA, tapi bisa mengajar dengan Pendis-nya (Pendidikan Islam). Imam Zarkasyi yang sampai 16 tahun, bisa mendirikan pesantren, dan masih banyak lagi.

Artinya tanpa sekolah, mereka masih bisa menuntut ilmu, dan kemudian menjadi orang-orang besar.

Sebetulnya sistem mulazamah, sebagaimana yang sering dilakukan ulama-ulama Betawi dulu, memberikan pesan tersirat kepada para penganut faham sekolahisme

Yang mereka datangi bukan sebuah tempat yang banyak gedung, melainkan hanya sebuah rumah kecil, rumah guru-guru mereka.

Namun, dengan modal kesungguhan, keikhlasan, kesabaran, keistiqomahan, serta kehausan akan ilmu, membuat mereka menjadi ulama-ulama yang berpengaruh di masanya.

Permasalahan yang kedua, adalah kelanjutan dari masalah yang pertama. Yaitu ketika si murid merasa bahwa tempat pendidikan hanya sekolah.

Dia akan menganggap bahwa tuntutannya dalam menuntut ilmu akan selesai, ketika sudah sampai pada jenjang perkuliahan, setidaknya S-1.

Baginya setelah itu tugasnya adalah menikah dan kemudian kerja, tanpa ada kesadaran untuk menuntut ilmu. Padahal sudah lama Rasul mengingatkan, “Utlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi.”

Tentu semua ini berawal dari jiwa yang tidak bersih. Kecintaan duniawi membuat banyak kalangan berhenti untuk menuntut ilmu.

Dengan pekerjaan, mereka mencoba untuk mencari materi sebanyak-banyaknya.

Dan mungkin ini juga ada kaitannya dengan teori monyetnya Darwin yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah.

Sebab ia telah mengubah sejarah manusia yang seharusnya melalui jalur kenabian, tapi ia ubah ke arah primata, sehingga membuat tujuan dari manusia berubah.

Yang seharusnya melanjutkan misi kenabian dan para pewarisnya yakni berjuang menegakkan kalimat tauhid, menjadi tujuan dari makhluk yang ia sebut sebagai hominid (sebangsa kera), yakni sekedar mencari makan (survive) dan memuaskan hawa nafsu.

Maka kemudian tujuan dari pembelajaran mereka hanya untuk cari kerja agar bisa makan. Karena itulah aba sering menyindir para mahasiswanya: “Kalau kalian kuliah hanya untuk makan, maka kalian lebih rendah dari monyet. Karena monyet untuk bisa makan saja tidak perlu kuliah.”

Jadi, sekali lagi, bukan tentang dimana kita belajar. Tapi apa yang dipelajari dan kepada siapa kita belajar.

************

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa Mahasiswa STID Mohammad Natsir, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan