A. Hukum Puasa Ramadhan bagi Orang yang Sakit

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah: 185).

Hukum puasa bagi orang yang sakit ada 2 macam:

Pertama, orang yang terus menerus sakit atau tidak diharapkan sembuh dari sakit yang diderita seperti kanker. Orang dengan kondisi seperti ini tidak wajib berpuasa, karena ia tidak memiliki kondisi yang diharapkan untuk mampu berpuasa. Oleh karena itu, cukup baginya mengganti puasa dengan membayar fidyah setiap harinya untuk 1 orang miskin2. Pembayaran bisa juga dengan cara mengumpulkan orang-orang miskin sebanyak hari-hari puasa yang ditinggalkan lalu memberi makanan siap santap untuk orang-orang miskin tersebut. Baik makanan tersebut diberikan pada waktu malam hari (makan malam) atau pada waktu siang hari (makan siang), sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik Radhiallahu Anhu saat beliau telah tua.

Dapat juga dengan membagi bahan makanan pokok kepada orang-orang miskin sebanyak hari-hari puasa yang ditingalkan. Setiap orangnya berupa ¼ sha’ nabawi. Jika dikonversikan dengan timbangan sebesar ½ kg + 10 gr (= 510 gr) berupa gandum1yang bagus. Dianjurkan juga untuk sekaligus memberikan lauk dari makanan pokok tadi2, berupa daging atau minyak.

Semisal pula dengan orang yang sakit yang tidak diharapkan kesembuhan dari penyakitnya sehingga sudah tidak mampu lagi berpuasa adalah orang yang sudah tua yang tidak mampu lagi berpuasa. Orang yang sudah tua seperti ini juga mengganti puasa dengan membayar fidyah, tiap harinya untuk satu orang miskin.

Kedua, orang yang sebelumnya sehat lalu jatuh sakit, dan masih berharap dapat sembuh (ada harapan sembuh), seperti sakit berupa demam tinggi dan yang semisalnya. Ada tiga rincian untuk keadaan orang seperti ini:

1)Apabila tidak repot dan tidak berbahaya baginya untuk berpuasa tetap wajib berpuasa, karena pada kondisi seperti tersebut tidak ada keringanan baginya untuk tidak berpuasa. Contohnya orang yang sakit berupa demam ringan, sedikit pusing, atau sakit gigi yang ringan (tidak parah).

2)Apabila menyulitkan atau merepotkan dirinya untuk berpuasa, namun tidak sampai membahayakannya. Dalam keadaan seperti ini hukumnya makruh untuk berpuasa. Karena ia meninggalkan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa dalam kondisi sakitnya memang merepotkannya untuk dapat berpuasa. Ia dianjurkan untuk tidak berpuasa dalam rangka mengambil rukhshah saat kondisi sakitnya seperti itu.

3)Apabila puasa membahayakan dirinya. Dalam kondisi ini hukumnya haram baginya berpuasa karena menimbulkan bahaya pada dirinya. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat An-Nisaa’ ayat 29,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”(Surat An-Nisaa’: 29)

Dan juga pada Surat Al-Baqarah ayat 195,

yang artinya), “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-Baqarah: 195).

Begitu pula sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,

Dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak boleh menimbulkan bahaya (bagi orang lain) dan membahayakan diri sendiri (baik sengaja atau tidak sengaja).”

Imam Nawawi Rahimahullah berkata, “Hadits ini memiliki jalur-jalur periwayatan hadits yang saling menguatkan sebagiannya dengan sebagian yang lain”.

Cara mengetahui bahaya yang akan terjadi apabila dalam keadaan sakit berpuasa itu ada dua cara. Pertama dengan pertimbangan pribadi orang tersebut. Dia merasa apabila lanjut berpuasa akan menimbulkan bahaya pada dirinya. Kedua, berdasarkan berita atau informasi dari dokter yang terpercaya.

Apabila orang yang sakit tidak berpuasa pada keadaan yang membolehkan tidak berpuasa berkewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan di hari-hari yang lain ketika sudah sehat. Namun apabila ia meninggal sebelum sembuh dari sakitnya hilang darinya kewajiban ganti (qadha’) puasa. Alasannya kewajiban mengganti hari-hari puasa yang ditinggalkannya tersebut itu di hari-hari yang lain, sedangkan ia belum menjumpai hari-hari yang lain tersebut karena sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Sehingga tidak ada kewajiban qadha’ puasa baginya. Keluarganya juga tidak berkewajiban mengqada puasanya atau membayar fidyah.

B. Hukum Puasa Ramadhan bagi Orang yang Sedang Safar (Musafir)

Ketentuan untuk orang yang safar/berpergian jauh (musafir) ada 2 rincian:

Pertama, orang yang safar dengan tujuan mengakali agama atau cari trik agar dapat tidak berpuasa. Dalam keadaan seperti ini tidak boleh bagi orang tersebut berbuka puasa. Tipu daya (cari trik) untuk menghindari kewajiban dari Allah Ta’ala itu tidaklah menggugurkan kewajiban tersebut.

Kedua, seseorang yang berpergian (bersafar) karena memang ada keperluan untuk bersafar (tidak untuk tipu daya/cari trik). Maka ada 3 rincian:

1)Apabila kerepotan untuk berpuasa dengan kerepotan/kesulitan yang besar orang seperti ini hukumnya haram untuk berpuasa. Karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada peperangan Fathul Makkah dalam keadaan berpuasa. Lalu ada yang menyampaikan kepada Nabi bahwa banyak orang kerepotan untuk berpuasa dan mereka menunggu atas apa yang akan Nabi lakukan. Lalu Nabi meminta satu gelas berisi air di waktu setelah Ashar lalu Nabi meminumnya (dalam keadaan banyak orang menyaksikannya). Lalu ada orang yang lapor kepada Nabi: “Ada sebagian orang yang tetap nekat berpuasa”. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan: “Mereka semua itu pelaku maksiat, Mereka semua itu pelaku maksiat.” (HR. Muslim no. 1114).

2)Apabila kesusahan untuk berpuasa dengan kesusahan yang tidak berat. Orang dalam keadaaan seperti ini hukumnya makruh untuk berpuasa, karena ia meninggalkan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa di saat dirinya memiliki kesusahan apabila berpuasa.

3)Apabila tidak susah baginya jika berpuasa, dibolehkan memilih mana yang paling mudah antara berpuasa atau tidak berpuasa. Mengingat firman Allah Ta’ala,

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah: 185).

Iradah (kehendak) Allah di sini adalah iradah syar’iyyah yang bermakna kecintaan Allah. Namun apabila sama-sama mudah pendapat yang diambil oleh penulis (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah) adalah lebih baik berpuasa, karena itulah perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalil untuk pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

Dari Abu Darda’ Radhiallahu Anhu ia berkata: Kami berangkat safar bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di hari Bulan Ramadhan pada kondisi cuaca yang sangat terik sampai ada salah satu dari kami yang meletakkan tangannya di kepalanya untuk mengurangi teriknya saat itu dan sampai-sampai tidak ada dari kami yang berpuasa kecuali Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan ‘Abdullah bin Rawahah.” (HR. Muslim no.safar).

Lantas apa batasan seseorang yang berpergian teranggap safar

Seseorang itu disebut musafir apabila ia telah keluar dari daerahnya (tempat domisilinya) sampai ia kembali lagi ke tempat domisilinya itu tersebut. Seorang yang bersafar tetap dihukumi sebagai musafir meskipun ia tinggal dengan selang waktu tertentu di tempat safarnya selama ia tidak berkeinginan untuk tinggal selamanya di tempat tersebut dan akan kembali apabila tujuan atau kebutuhan safarnya telah selesai.

Selama jangka waktu ini ia boleh mengambil keringanan-keringan safar, meskipun demikian lama jangka waktu ia tinggal di tempat tujuan safarnya tersebut. Dalilnya tidak terdapat bukti yang valid (shahih) tentang penetapan jangka waktu akhir safar. Hukum asalnya adalah masih berstatus musafir dan hukum-hukum yang berlaku saat bersafar tetap berlaku sampai ada dalil yang menghapus dan menghilangkan berlakunya hukum-hukum tersebut.

Tidak ada perbedaan untuk safar yang mendapatkan keringanan, antara safar yang insidental (dengan jangka waktu tertentu) seperti haji, umrah, mengunjungi sanak kerabat, keperluan bisnis atau yang semacam itu, dengan safar yang bersifat terus menerus (non insidental) seperti safar pada supir taksi atau kendaran-kendaraan lain yang besar. Orang yang berprofesi sepeti ini dinilai sebagai musafir apabila telah keluar dari daerahnya dan dibolehkan baginya hal-hal yang dibolehkan bagi seorang musafir, berupa berbuka di siang hari Bulan Ramadhan, meng-qashar (meringkas) shalat yang berjumlah 4 rakaat menjadi 2 rakaat, serta menjama (menggabungkan) shalat apabila ada kebutuhan untuk menjamak antara shalat Dzuhur dengan shalat ‘Ashar dan antara shalat Mahgrib dengan shalat ‘Isya.

Pilihan berbuka atau tidak berpuasa itu lebih utama bagi mereka apabila dengannya lebih memudahkan mereka. Mereka bisa mengganti-nya nanti di musim-musim dingin (di luar Bulan Ramadhan). Hal ini karena mereka memiliki domisili (tempat tinggal) yang mereka disebut sebagai penduduk daerah tersebut. Ketika mereka tinggal di negernya statusnya mereka adalah mukim, bukan musafir. Dalam kondisi demikian mereka memiliki hak sebagaimana orang yang mukim dan memiliki kewajiban sebagaimana orang yang mukim. Ketika mereka kembali melakukan safar statusnya menjadi musafir lagi. Mereka punya hak sebagaimana hak musafir dan punya kewajiban sebagaimana kewajiban musafir.

**********

Sumber: Ramadhan Yang Kunanti, Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I., hal 31-48

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan