Shalat Tarawih adalah shalat di malam hari secara berjama’ah di Bulan Ramadhan. Waktu pelaksanaannya mulai setelah selesai mengerjakan shalat ‘Isya1sampai terbit fajar. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memotivasi untuk mengerjakan qiyam Ramadhan (shalat Tarawih). Beliau bersabda,

“Barangsiapa yang qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari).

Dalam Shahih Bukhari, dari ‘Aisyah Radhiallahu Anha beliau menceritakan,

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pada suatu malam di Bulan Ramadhan mengerjakan shalat di masjid. Shalat beliau diikuti oleh sejumlah orang. Pada malam berikutnya Nabi kembali shalat dan bertambah banyaklah orang yang mengikuti beliau. Orang-orang berkumpul di malam ketiga dan keempat di masjid, namun Nabi tidak keluar dari rumah beliau ke masjid. Setelah pagi tiba (setelah shalat Shubuh), Nabi bersabda kepada para sahabatnya: “Aku mengetahui apa yang kalian lakukan, menunggu di masjid dan menunggu kehadiranku. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar bertemu kalian (dan shalat Tarawih bersama) kecuali karena aku khawatir shalat Tarawih menjadi diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari no. 2012 dan Muslim no. 761). Dan ini adalah kejadian di Bulan Ramadhan.

Yang sesuai dengan sunnah pada shalat Tarawih adalah mencukupkan diri dengan bilangan shalat 11 rakaat, dengan salam setiap 2 rakaat (dikerjakan 2 rakaat 2 rakaat). ‘Aisyah Radhiallahu Anha pernah ditanya tentang bagaimana tatacara shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di Bulan Ramadhan. ‘Aisyah menjawab, “Tidaklah Nabi menambahkan (rakaat) baik di Bulan Ramadhan maupun di luar Bulan Ramadhan lebih dari 11 rakaat.” (Muttafaqqun ‘alaih).

Diriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwatha’, dari Muhammad bin Yusuf –perawi yang tsiqqatun tsabitun (terpercaya dan dapat diambil riwayatnya)-, dari Saib bin Yazid, bahwasanya ‘Umar bin Al-Khatthab Radhiallahu Anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk mengimami shalat Tarawih secara berjama’ah dengan 11 rakaat.

Akan tetapi jika ada yang memilih shalat Tarawih lebih dari 11 rakaat maka tidaklah mengapa. Alasannya karena Nabi n pernah ditanya tentang shalat malam dan beliau bersabda,

“Shalat malam itu 2 rakaat 2 rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Shubuh telah tiba shalatlah 1 rakaat (witir) sebagai penutup bagi shalat sebelumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan membiasakan shalat Tarawih dengan bilangan rakaat yang ada sunnahnya dari Nabi disertai dikerjakan dengan pelan-pelan (tidak terburu-buru), shalat diperlama tanpa menyusahkan para makmum, ini lebih utama dan lebih sempurna.

Adapun model shalat Tarawih yang dilakukan oleh sebagian orang yang terlalu cepat adalah perbuatan menyelisihi yang tuntunan agama. Apabila shalat dengan cara semisal ini menyebabkan ada wajib-wajib atau rukun-rukun shalat yang ditinggalkan, hal itu membatalkan shalat.

Hal yang sering dilakukan oleh sebagian imam shalat adalah tidak pelan-pelan (ngebut) ketika mengerjakan shalat tarawih. Ini adalah sebuah kesalahan. Imam tidaklah shalat hanya untuk dirinya saja. Melainkan ia shalat untuk dirinya dan untuk makmum. Wajib atas imam melakukan yang terbaik untuk makmum yang dipimpinnya. Para ulama juga menyebutkan bahwa makruh hukumnya bagi imam mengerjakan shalat dengan cepat sehingga menghalangi para makmum untuk melakukan hal yang wajib (wajib shalat).

Hendaknya kaum muslimin antusias menegakkan shalat Tarawih ini dan tidak menyia-nyiakannya dengan pergi dari satu masjid ke masjid lain. Karena barangsiapa yang shalat Tarawih bersama imam sampai selesai akan dicatat baginya pahala seperti pahala shalat semalam penuh, meski setelah itu ia tidur nyenyak di atas tempat tidurnya (tidak shalat malam lagi).

Dan tidak mengapa bagi perempuan mengikuti shalat Tarawih di masjid jika aman dari fitnah, dengan syarat perempuan tersebut keluar dari rumah dalam keadaan menampakkan rasa malu, tanpa berdandan dengan berbagai macam hiasan dan tidak pula memakai parfum/minyak wangi.

**********

Sumber: Ramadhan Yang Kunanti, Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I., hal 61-67

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan