Setiap manusia memiliki harapan agar kehidupannya di dunia berjalan dengan penuh kabahagiaan. Keinginan yang besar agar semua mimpi dan cita-citanya bisa tercapai, sesuai dengan apa yang telah Ia rencanakan.

Dalam perjalanan mewujudkan itu semua, kadang kala kita diperhadapkan pada sebuah pilihan demi pilihan saat berjalan menuju kepada harapan itu.

Bukan hal yang tak mungkin, karena ia merupakan bagian dari fitrah kehidupan yang takkan terelakkan oleh manusia. Yaitu ketika hati harus memilih di antara banyaknya pilihan, manakah yang tepat dan terbaik untuk dirinya.

Perihal memilih, setiap kita pasti pernah menjumpainya. Mulai dari pekerjaan, kuliah, teman atau sahabat, apatah lagi menyoal perkara memilih jodoh. Semuanya tak terlepas dalam kehidupan, dan tentunya harapan dari semua itu adalah ketetapan yang terbaik dari Nya.

Dalam Islam, pilihan yang baik dan buruk tidak dapat diukur dengan kacamata manusia. Penentuan akan baik ataupun buruk sebuah tindakan haruslah melalui kacamata syariat.

Terkadang apa yang kita impikan tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, kita harus yakin bahwa di balik itu semua ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam al-Qur’an;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Sebagian di antara manusia ketika menetapkan sebuah impian, mereka pun berusaha untuk menggapainya dengan usaha yang tak sedikit. Berbagai macam cara ditempuh agar pilihan dan keinginannya itu bisa tercapai. Akan tetapi, kebanyakan kita lupa bahwa yang paling mengetahui baik atau buruknya semua impian itu hanyalah Allah Ta’ala.

Oleh karenanya, segala urusan kita seharusnya disandarkan hanya kepada Allah. Memohon petunjuk kepada Rabb yang mengetahui segala kebaikan dan keburukan bagi hamba-hamba Nya. Bukan justru mengandalkan usaha dan kemampuan diri semata, seolah tak melibatkan Allah di atas segala urusan. Karena sesungguhnya Kita hanyalah manusia yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan.

Syariat telah menuntun Kita bagaimana langkah demi langkah yang harus ditapaki dalam menempuh sebuah impian yang ingin Kita capai. Karena untuk mewujudkannya, bukan hanya tentang bagaimana membumikan ikhtiar, tetapi yang terpenting adalah bagaimana melangitkan doa dan harapan.

Salah satu tuntunan yang diajarkan dalam Islam agar diberikan pilihan terbaik dari setiap impian adalah dengan “Shalat Istikharah.” Bagi seorang muslim, istikharah merupakan salah satu di antara bentuk ibadah terbaik untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar harapan dan cita-cita Kita terkabulkan.

Seorang mukmin sepatutnya menggantungkan semua harapannya hanya kepada Allah. Ketika melangkah pada sebuah pilihan, pintalah agar pilihan tersebut membawa kebaikan untuk dunia dan akhirat, serta mendatangkan ridha dari Allah untuk kehidupan Kita.

Perwujudan akan sebuah mimpi tidak hanya butuh ikhtiar semata. Tetapi perlu bimbingan petunjuk dari Sang Khalik dalam menentukan jawaban atas pilihan hidup yang kita inginkan agar semuanya berjalan sesuai dengan ketetapan Nya.

Istikharah mengajarkan kepada Kita bagaimana menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Menunjukkan kepasarahan di hadapan-Nya atas segala urusan seorang hamba. Selama ini kita menganggap bahwa istikharah hanya sebatas untuk memilih jodoh semata, padahal lebih dari itu semua, ia mencakup segala aspek dalam kehidupan.

Dalam bait-bait doa yang dilantunkan, Kita memohon agar setiap harapan yang diimpikan adalah ketetapan terbaik dari Nya. Dengan ilmu Nya; keputusan takdir Nya; serta ke-Maha Kuasaan Nya.

Renungkanlah!
Doa dalam ‘Munajat Istikharah’ yang diajarkan oleh Sang Rasul yang Mulia; Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam…

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَاَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَاَسْئَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ. فَاِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَآاَقْدِرُ وَلَآاَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ

“Ya Allah, aku meminta petunjuk kebaikan-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon keputusan-Mu dengan qudrat-Mu dan aku meminta dengan karunia-Mu yang besar, karena sesungguhnya Engkau yang berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa, Engkau yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, Engkau Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Dialah yang mengetahui setiap pilihan terbaik yang kita inginkan. Karena ukurannya bukan soal apa kata manusia, tetapi apa yang menjadi ketetapan Allah Ta’ala meskipun berbeda dengan harapan sang hamba, itulah yang terbaik.

اَللّٰهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هَذَااْلاَمْرَ (…) خَيْرٌلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ فَاقْدُرْهُ لِىْ وَيَسِّرْهُ لِىْ ثُمَّ بَارِكْ لِىْ فِيْهِ

“Ya Allah, sekiranya engkau ketahui bahwa (sebutkan pilihan yang sedang dihadapi) baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir dari perkaraku ini, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia, lalu berkahilah aku padanya.”

Berpesangka baik kepada Allah atas semua ketetapan Nya adalah sebuah kewajiban. Karena sesungguhnya di balik itu semua, ada mutiara hikmah yang harus kita petik sebagai pelajaran dalam kehidupan.

وَاِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَااْلاَمْرَشَرٌّلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ وَعَاقِبَةِ اَمْرِىْ وَعَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّىْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْهُ لِيَ الْخَيْرَحَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِىْ بِهِ

“Ya Allah, dan sekiranya engkau mengetahui buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir dari perkaraku ini, maka hindarkanlah aku darinya, kemudian takdirkanlah untukku kebaikan bagaimana pun adanya, lalu berilah aku keridhaan dengannya.” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Sungguh indah doa yang terlantunkan dalam “Munajat Istikharah” ini. Sebuah aktualisasi penghambaan, ketundukan, tawakkal, serta pengakuan atas kelemahan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Belajarlah untuk ridha menerimanya. Karena ‘Harapanmu’ yang sesungguhnya adalah engkau ridha terhadap apapun ketetapan dari Nya. Dan yakinlah bahwa itu yang terbaik…

***********

Villa Samata – Gowa, 05 Maret 2021

Penulis: Muhammad Ikram, S.Sos.I.
(Founder Pena Ibnu Taimiyah, Pembina Daar Al-Qalam dan Pemred mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan