“Sejelek-jelek keinginan adalah mencari dunia dengan amalan akhirat.”
Inilah kilasan tarbiyah dari seorang tabi’in besar, Sufyan ats-Tsauri yang semestinya menjadi manhaj bagi kita hari ini, untuk mendidik diri yang terkadang lalai sehingga rela menjual agama.
Sungguh, musibah bagi para dai, manakala agama menjadi pekerjaan dan alat mencari penghidupan. Atau, ketika sesuap nasi menjadi agama bagi mereka. Oleh karena itu, seorang tabi’in besar mengingatkan kita dari penyakit yang berbahaya ini. Fudhail bin Iyadh berkata, “Sungguh, mencari dunia dengan gendang dan seruling musik lebih aku sukai daripada aku mencari dunia dengan agama.”
Generasi setelah mereka juga sangat memahami akan hal ini dan menyadarinya, lalu menapaki jalan yang mereka tempuh. Abdul Qadir Al-Jailani berkata kepada para muridnya, “Semua karena kerjamu, jangan makan dengan agamamu.”
Banyak orang yang memandang remeh hal ini sehingga senang ketika mendapati orang-orang mengistimewakan dirinya karena melihat ketaatannya dalam beragama lalu memuliakannya. Memang tidak salah kalau orang memuliakan para ulama dan dai, namun yang salah adalah kalau para dai tersebut memanfaatkan ilmu dan ketaatan beragamanya sebagai alat sehingga mereka mengangkat bendera untuk dikenal atau menyematkan pada dirinya tanda pengenal, dengan tujuan agar orarng-orang mengenalinya dan berbuat baik kepadanya sehingga harga barang dimurahkan ketika dia membeli serta banyak diberi hadiah.
“Adalah Muhammad bin Midan, ia tidak membeli perbekalannya dari satu tukang roti dan tidak dari satu toko, beliau berkata, Agar mereka tidak mengenaliku lalu mengistimewakanku sehingga aku menjadi orang yang hidup dengan alat agama.”
Sering kali kita pergi membeli sesuatu dari satu toko yang telah mengenal kita. Kita juga membiasakan pergi ke orang yang pernah memuliakan kita lalu kita memanfaatkan kesempatan dalam rasa malu dia kepada kita. Sadarilah bahwa ketika itu kita termasuk orang yang makan dengan agamanya. “Suatu ketika Ibnu Muhairiz pergi ke seorang pedagang kain untuk membeli kain dan pedagang kain itu tidak mengenalnya, namun di sampingnya ada orang yang mengenalinya. Beliau bertanya, Berapa harga kain ini?
‘Sekian’, jawab si pedagang.
Orang yang mengenalnya itu pun berkata, “Berbuat baiklah kepada Ibnu Muhairiz!’
Maka beliau berkata, “Aku datang untuk membeli dengan hartaku, bukan dengan agamaku’.” Lalu beliau bangkit dan tidak jadi membeli.”
Inilah manhaj tarbiyah yang diajarkan dan dicontohkan oleh seorang tabi’in dan seorang pendidik yang bernama Ibnu Muhairiz, agar menjadi pelajaran bagi para dai setelahnya. Supaya dengan sikap tersebut, mereka menjaga diri dari membeli pakaian dengan agama mereka atau makan dengan ketaatan beragama mereka. Maka berilah peringatan kepada mereka.
Suatu hari Daud At-Tha’iberkata kepada mantan budaknya, “Aku ingn minum susu. Tolong ambil roti dan bawalah ke toko kemudiarn tukarkan dengan susu, tapi jangan memberitanhu penjaga toko untuk siapa ini.” Maka dia pergi lalu kembali membawa pesanan dan Daud memakannya. Sebelumnya, si penjaga toko mengetahui bahwa susu tersebut adalah untuk Daud, maka dia membaikinya. Daud bertanya kepada budaknya, Apakah penjaga toko mengetahui untuk siapa kamu membeli susu?” Dia menjawab,” Ya.” Maka Daud berkata, “Simpanlah Dan beliau tidak melanjutkannya lagi.”
Berusahalah selalu untuk ikhlas karena Allah sebagaimana keadaan orang-orang saleh sehingga kalian mendapatkan seperti apa mereka dapatkan.
Al-Balkhi mengatakan, “Aku pernah memberi hadiah kain kepada Sufyan Ats-Tsauri, namun dia mengembalikannya kepadaku. Aku bertanya kepadanya, Abu Abdillah, aku tidak termasuk orang yang mengambil hadits darimu, mengapa engkau menolak hadiah tersebut? Beliau menjawab, “Aku tahu engkau tidak termasuk orang yang mengambil hadits dariku, tetapi saudaramu yang mengambil hadits dariku, dan aku takut dengan menerima hadiah ini hatiku menjadi lunak kepada saudaramu lebih dari yang lainnya’.”
Kita memperbaiki dunia kita dengan mencabik cabik agama kita
Namun, tiada agama tersisa dan tiada dunia terangkat.
Muhammad bin Wasi mengatakan, “Luqman pernah berkata kepada anaknya, “Anakku, bertakwalah kepada Allah dan jangan pamerkan kepada orang-orang bahwa dirimu takut kepada Allah Azza wa Jalla agar mereka menghormatimu karenanya, sedangkan hatimu durhaka’.”
Lebih berbahaya lagi, kalau kita menjual agama agar menjadi dekat dengan penguasa sehingga menjadi penyebab kebinasaan. Oleh karena itu, seorang pendidik yang terdidik di atas manhaj salafus saleh mengingatkan kita tentang hal ini, Abdul Qadir Jailani berkata kepada salah seorang muridnya, “Nak, jangan menjual agama dengan buah tin, jangan menjual agamamu dengan buah tin para penguasa, raja, orang-orang kaya dan pemakan barang haram. Apabila engkau makan dengan agamamu, hatimu menjadi hitam.”
Hitamnya hati adalah hukuman paling ringan bagi pencari dunia dengan amalan akhirat. Karena hukuman itu, penyakit cinta dunia berhasil menguasai hatinya. Malik bin Dinar mengatakan, “Aku berkata kepada Hasan, ‘Apa hukuman bagi seorang alim yang cinta dunia? Beliau menjawab, “Matinya hati. Karena ia cinta dunia maka ia mencarinya dengan amalan akhirat. Pada saat itulah berkah ilmu akan pergi darinya. Yang tersisa hanya tulisannya’.”
Oleh karena itu, generasi tabi’in sangat tidak suka mencari dunia dengan amalan akhirat. Apabila kondisi dunia mereka sangat sempit, mereka bersabar dengannya dan menganggap bahwa mendekat kepada para penguasa atau menganmbil harta dari mereka adalah menghinakan agama. “Suatu ketika Hasan melewati para hafidz yang sedang berada di pintu para penguasa, maka beliau berkata kepada mereka, Kalian telah menghitamkan dahi kalian, dan kalian telah melebarkan sandal kalian (karena banyak berjalan untuk mencari ilmu), lalu kalian mendatangi pintu-pintu mereka dengan memanggul ilmu sedang mereka tidak merasa butuh kepada kalian! Seandainya kalian duduk dirumah hingga merekalah yang mengirim utusan kepada kalian tentu hal tersebut lebih menjaga kewibawaan kalian di mata mereka. Bubarlah! Kalau tidak, semoga Allah menimbulkan perselisihan di antara kalian.”
Lebih dari itu, mereka menganggap bahwa menerima harta dari penguasa merupakan hukuman yang sangat menyakitkan bagi jiwa mereka sehingga mereka selalu beristightar. Sufyan bin Uyainah mengatakan, Sejak aku menerima harta dari penguasa Fulan, aku terhalang dari apa yang dahulu aku dapat dari memahami Al-Qur’an.”
Ketika Alqamah bin Qais An-Nakha’i ditanya, “Tidakkah Anda menemui penguasa sehingga Anda mendapat manfaat?” Beliau menjawab, “Sebesar apa aku mendapatkan dari dunia mereka sebesar itu pula agamaku terkena musibah.”
Suatu ketika salah seorang khalifah mengutus budak dengan membawa seratus dinar untuk diberikan kepada salah seorang dari para tabiin. Khalifah menjanjikan, “Jika dia menerima uang ini maka kamu merdeka.” Budak itu pun membawanya dan memberikannya kepada tabiin yang dimaksud, namun dia menolaknya. Terimalah hadiah ini karena dengan begitu aku akan merdeka.’ Bujuk budak tersebut. Tabi’in itu menjawab, “Memang dengan itu kamu merdeka, tapi dengan itu pula aku berubah menjadi budak.”
Saudaraku, Demikianlah kehidupan para tabi’in, mereka mengetahui kemuliaan agama dan kemuliaan ilmu yang mereka bawa. Dengan itu, jiwa mereka menjadi mulia. Apabila seseorang menghinakan agama karena harta atau urusan dunia lainnya, maka Allah akan menghinakannya.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 141-145
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=_5TgXLz6ObMQ7kNvwEs9wzU&_nc_oc=Adp0uphAg7OvUt80Hs3vKteLeVeTjaFnjK6WZbDqwqB-DtjKcGj3uduyn63I0nLvGZc&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=FkOMhpRpYFFG5oLwUjnmtg&_nc_tpa=Q5bMBQLJLXXbF4AKL2H9hlfyVy-e3ijGG-YysfoBZ9Q1Dz-6A2ir4RNY-tgAcJqx3aP2tJ3sv31qN5oC&oh=00_AQE7cUcxIwHorLcodovH2RXs8JMy330pbfPgy-XKVzMoHQ&oe=6A8EF376)


