“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. “(Al-A’raf 199).
Di antara manusia ada yang memandang hina sifat mengalah sehingga ia cepat emosi. Kemarahan selalu mengiringi muka masamnya. Sedikit saja ia tersinggung oleh sebuah perkataan atau tindakan maka bergetarlah tubuhnya karena emosi, seperti orang terserang demam, dan berkobar api kemarahannya seperti orang gila.
Namun, sesungguhnya, sifat memaafkan adalah akhlak yang dimiliki orang-orang kuat, yang berlapang dada dan berjiwa besar.
Orang yang lebih mengedepankan maaf adalah hamba yang berjiwa mulia, bercita-cita tinggi, penyabar dan bermurah hati. Itu sebabnya ia selalu berusaha mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan orang lain kepadanya. Apabila terpaksa harus mencelanya, ia akan melihatnya dari puncak kearifannya. Seperti pandangan orang yang bijaksana terhadap anak-anak yang sedang bermain-main di jalanan dan melemparinya batu.
Seperti itulah petunjuk rabbani dalam firman Allah Ta’ala:
“Jadilah pemaaf aan suruhlah orang mengerjakan yang makruf dan berpalinglah aari orang-orang yang bodoh”(Al-A’raf: 199).
Akhlak yang agung dan tinggi inilah yang mendorong Abdullah bin Mas’ud ketika duduk di pasar membeli makanan. Ketika hendak membayarkan beberapa dirham miliknya beliau baru mengetahui bahwa uangnya telah hilang dicuri. Orang-orang pun mendoakan jelek kepada orang yang mencurinya, namun Abdullah bin Mas’ud mempunyai pandangan lain. Beliau duduk dan berdoa, Ya Allah, apabila yang mendorong dia mencuri adalah kebutuhan yang mendesaknya maka berkahilah dia di dalamnya, namun apabila karena keberaniannya dalam berbuat dosa maka jadikanlah ini akhir dosanya.”
Dengan hati yang besar seluas dunia ini para shahabat menjalani kehidupan dan meneruskan hasil didikan nabawi kepada para pengikutnya, generasi tabi’in.
Generasi tabi’in telah mewarisi akhlak ini dengan menerjemahkannya ke dalam tingkah laku dan kenyataan. Dengan akhlak itulah mereka bergaul dengan orang lain.”Dikisahkan, ada seseorang datang kepada Ali bin Husain ia berkata kepadanya, “Sesungguhnya Fulan telah menyakitimu dan memfitnahmu.” Beliau pun berkata, “Antar aku menemui orang itu!” la pun pergi bersama beliau dan mengira bahwa beliau akan murka membela diri, namun tatkala telah menjumpai orang tersebut beliau berkata, “Kamu, apabila apa yang kamu katakan tentang diriku itu benar adanya maka semoga Allah mengampuniku, dan apabila apa yang engkau katakan itu tidak bernar maka semoga Allah mengampunimu. Was salam.”
Saudaraku, risalah apakah yang sampai kepada orang ini sehingga mampu mengantarkannya pada derajat yang luhur. Dan, risalah apakah yang sampai kepada kita?
Pada hakikatnya, ambisi untuk membela diri telah terhapus dari kamus pikiran mereka, bahkan jiwa yang ramah ini terus memburu keluhurannya hingga menjadi pemaaf. “Suatu hari Ali bin Husain pergi ke masjid, beliau berjumpa dengan seseorang yang kemudian mencelanya. Para hamba sahaya dan budak yang telah dimerdekakan pun murka kepada orang tersebut, namun Ali bin Husain melerai, katanya, “Tahanlah diri kalian menghadapi orang ini!’ Lalu beliau menemui orang tersebut, bertanya, Kejelekanku yang tidak engkau ketahui jauh lebih banyak. Apakah engkau mempunyai kebutuhan yang bisa kita bantu? Maka, orang tersebut malu dan melemparkan baju yang dia bawa lalu Ali bin Husain memerintahkan agar dia diberi seribu dirham. Setelah itu, orang tersebut berkata, ‘Aku bersaksi bahwa engkau adalah keturunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Demikianlah, ketidaktahuan orang menambahnya makin bersifat bijaksana dan sabar. Setiap kali keimanan tumbuh bersemi di dalam hati, tumbuh pula sifat tawadhu, pemaaf dan penyabar bersamanya. Termasuk sifat pemaaf kalau seseorang menepis kemarahannya sehingga tidak meledak dan menahan tangannya sehingga tidak membalas. Memaafkan orang yang berbuat jelek kepadanya merupakan tanda syukur kepada Allah yang telah menjadikan dia bisa memaafkan, meskipun ada kemampuan untuk membalas.
“Suatu ketika terjadimasalah antara Hasan bin Hasan dan Ali bin Husain. Hasan bin Hasan mendatangi Ali bin Husain yang sedang duduk bersama beberapa sahabatnya di masjid. la menghujaninya dengan berbagai cercaan sedangkan Ali tetap diam mendengarkan, lalu Hasan pergi. Pada malam harinya, Ali mendatangi Hasan di rumahnya. la mengetuk pintu lalu Hasan keluar menemuinya. Ali berkata, ‘Saudaraku, apabila engkau jujur dengan apa yang telah engkau katakan tadi, semoga Allah mengampuniku. Dan apabila apa yang engkau ucapkan itu dusta, semoga Allah mengampunimu. Wassalamu’alaikum. Lalu dia meninggalkan Hasan.
Mendengar hal tersebut bergegaslah Hasan mengikuti Ali. la terus mengikutinya sambil menangis hingga Ali menaruh belas kasihan. Hasan berkata, ‘Pasti aku tidak akan mengulangi mengerjakan hal yang engkau benci’. Maka Ali menjawab, ‘Aku telah memaafkan apa yang telah engkau ucapkan’.”
Sungguh, sikap yang semacam ini menunjukkan bahwa di belakangnya ada seseorang yang telah mencurahkan kesungguhannya untuk mendidik nafsunya sehingga menjadi selalu tunduk kepadanya, padahal dalam posisi yang demikian biasanya nafsu akan mendorong tuannya untuk murka dan membalas. Akan tetapi, ia mampu dengan mudah mengendalikannya untuk memaafkan dan berlapang dada.
Ibnu lyyas pernah memfitnah Umar bin Dzar dan mencacinya. Umar bin Dzar pun menemuinya dan berkata, “Janganlah engkau berlebihan dalam mencaciku, dan berilah tempat untuk berdamai karena aku tidak akan membalas orang yang bermaksiat kepada Allah lebih dari ketaatan kepada Allah di dalamnya. “
Betapa banyak sikap kita membutuhkan kekangan sifat pemaaf, namun jiwa bodoh yang ada bersama kita cenderung bersikap bodoh dan membela diri. Waspadalah terhadap kebodohannya. Hendaknya, kita terus menatanya hingga menjadi jernih sebagaimana kejernihan jiwa generasi yang terpuji ini.
“Suatu saat kasur Rabi’ bin Khutsaim dicuri. Orang-orang yang bermajelis dengannya berkata, ‘Doakan kejelekan untuk pelakunya’. Akan tetapi, beliau berkata, ‘Doakan pelakunya dengan kebaikan!’ Ya Allah, apabila pelakunya kaya maka bukalah hatinya, dan apabila pelakunya miskin maka cukupkanlah dengannya’.”
Sungguh, mereka yang mau merenungi sikap ini dan sikap shahabat rasul Abdullah bin Mas’ud maka akan mengetahui bahwa kedua sikap ini tidak keluar kecuali dari satu lentera dan keduanya tidak keluar kecuali dari satu madrasah.
“Tatkala Amir bin Abdillah bin Qais difitnah sehingga diperintahkan untuk keluar daerah, dia berjalan menuju Syam. Saudara-saudaranya pun mengiringinya hingga sampai di Marbad, beliau berkata, ‘Aku akan berdoa, maka aminkanlah! Mereka menjawab, ‘Berdoalah, hal ini yang sudah kita tuggu-tunggu dan harapkan!’ Lalu beliau berdoa, Ya Allah, barang siapa yang memfitnahku dan menyebarkan kedustaan atas namaku, yang telah mengeluarkanku dari Mesir dan memisahkan antara aku dan saudara-saudaraku, ya Allah banyakkanlah harta dan anaknya, sehatkanlah badannya serta panjangkanlah umurnya’. “
Ada seseorang yang menimpakan batu ke kepala Rabi’ bin Khutsaim sehingga kepalanya terluka. Beliau mengusap darah yang mengalir di wajahnya dan berkata, “Ya Allah, ampunilah dia karena dia tidak sengaja melakukan itu kepadaku.”
Sampai di sini, mereka tetap tidak mau membela diri karena jiwa mereka luhur sehingga memaafkan kebodohan orang-orang yang bodoh. Tidak marah kecuali karena Allah. Inilah janji yang mereka ambil dari diri mereka sehingga tidak murka selama tidak melampaui batas. Namun, apabila masalahnya berkaitan dengan apa yang diharamkan Allah, maka saat itu Anda akan melihat mereka seperti singa-singa yang memperlihatkan taring-taringnya.
Betapa kita membutuhkan nilai-nilai tarbiyah semacam ini. Ar-Rasyid mengatakan, “Seorang da’i yang handal tidak sempurna kecuali apabila menjadikan marahnya hanya karena Allah. Kalau dia sampai pada derajat Imam Ahmad bin Hambal serta bangga dengannya maka dia akan marah karena Allah, bukan marah karena dirinya dan membelanya. Apabila dalam urusan agama maka kemarahannya memuncak hingga seakan-akan itu bukan dia.”
“Terkadang sebuah kata hinaan yang menimpaku mewariskan kepadaku kemuliaan yang panjang.”
Begitu pula seorang tabi’in besar Urwah bin Zubair bin Awwam, beliau memberi kita hadiah sebuah kesimpulan tarbiyah, beliau berkata, “Terkadang sebuah kata hinaan yang menimpaku mewariskan kepadaku kemuliaan yang panjang.
Betapa banyak kata-kata hinaan yang menimpa penghuni barisan Islam. Kalau mereka menerimanya tanpa kemurkaan dan pembelaan diri, sungguh itu menjadi penyelamat barisan dari munculnya banyak problematika, yang menyita banyak waktu untuk menyelesaikannya, serta menjauhkan kita dari berbagai krisis yang banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Oleh karena itu, Mujahid bin Jubair tidak suka kepada orang yang marah untuk memuliakan dirinya. Beliau juga tidak suka kepada orang yang tidak marah untuk memuliakan agamanya. Beliau berkata, “Barang siapa memuliakan natsunya maka dia merendahkan agamanya, dan orang yang merendahkan nafsunya maka dia memuliakan agamanya.”
Saudaraku, Demikianlah, mereka meninggalkan untuk kita warisan tarbiyah untuk dipelajari dan dipahami. Terkadang, di antara kita ada yang tidak mau memaafkan karena mengira hal tersebut sebagai kehinaan bagi dirinya. Akan tetapi, rasul kita sebagai pendidik pertama mengajarkan kepada kita dengan sabdanya:
“Sedekah itu tidak mengurangi harta; dengan memaafkan Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba kecuali kemuliaan; dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu’ kecuali Allah akan mengangkatnya. “
Ketika didatangkan kepada Abdul Malik bin Marwan para tawanan Ibnul Asy’ats pada zaman fitnah, maka Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Raja’ bin Haiwah, “Apa pendapatmu?” Dia menjawab, “Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah memberimu kemenangan yang engkau cintai maka berikanlah kepada Allah sifat maaf yang Dia cintai.” Maka beliau memaafkan mereka.16
Renungkan dan berakhlaklah dengan akhlak mereka. Kita memohon kepada Allah agar dikaruniai sifat maaf, kesehatan dan keselamatan dunia dan akhirat. Ya Allah, jika Engkau tidak memberi kami pahala orang-orang saleh maka janganlah Engkau haramkan aku dari pahala orang-orang yang berhasil dalam menghadapi musibahnya. Amin.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 134-140
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=_5TgXLz6ObMQ7kNvwEs9wzU&_nc_oc=Adp0uphAg7OvUt80Hs3vKteLeVeTjaFnjK6WZbDqwqB-DtjKcGj3uduyn63I0nLvGZc&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=FkOMhpRpYFFG5oLwUjnmtg&_nc_tpa=Q5bMBQLJLXXbF4AKL2H9hlfyVy-e3ijGG-YysfoBZ9Q1Dz-6A2ir4RNY-tgAcJqx3aP2tJ3sv31qN5oC&oh=00_AQE7cUcxIwHorLcodovH2RXs8JMy330pbfPgy-XKVzMoHQ&oe=6A8EF376)



