Pembaca yang budiman, tugas utama Rasulullah Muhammad ﷺ ialah mengubah umat manusia menjadi insan yang ‘abid, saleh, dan mushlih yakni mampu melakukan perbaikan sekaligus perubahan. Fokus pembinaannya dalam empat hal, yaitu menanamkan akidah, penyucian jiwa, mengajarkan Al-Qur’an dan hadis, serta membina keterampilan umat. Dalam Qur’an surah Al Jumu’ah ayat 2 dijelaskan:

Artinya, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Beliau ﷺ telah melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga generasi sahabat adalah generasi terbaik. Hal itu sebagaimana disabdakan beliau, “Sebaik-baik abad adalah abad generasiku.’’ (HR al-Bukhari dan Ibnu Hibban). (Lihat QS at- Taubah: 100).

Dalam memperbaiki kondisi akhlak masyarakat Arab Jahiliyah, Nabi ﷺ mengonsep beberapa cara, agar tujuan terciptanya masyarakat bertauhid, kondusif, saling menjaga, dan hidup tenteram berdampingan mudah dicapai.

Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup dalam kerangka ibadah hanya kepada-Nya. Dengan iman, inilah yang akan menjadi landasan utama umat dalam bergerak. Bagaimana muamalahnya dengan sesama manusia, peribadatannya kepada Allah, dan bagaimana ia dalam berucap dan bertindak.

Kedua, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.” (HR Ahmad dan Turmudzi) Dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati (HR Muslim). Ketakwaan akan mengingatkan manusia yang beriman, walau ketika digoda iblis (QS al-A’raf 201).

Takwa ini penting. Kenapa? Karena hanyalah mereka yang bertakwa yang akan mudah diubah akhlaknya. Bagaimana mungkin seorang yang tak bertakwa bisa baik akhlaknya. Bagaimana bisa, orang yang tak percaya dosa dan pahala bisa melakukan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain? Karenanya, bila ketakwaan sudah menguasai hati, akhlak seseorang akan menjadi sangat mulia.

Ketiga, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan. Salah satu contohnya, adalah bagaimana Rasulullah ﷺ tatkala hendak menuju medan Tabuk, beliau pun mengumpulkan para sahabatnya. “Wahai sahabatku, siapa diantara kalian yang ingin membantu perjuangan ini?” kata beliau ﷺ. Maka berbondong-bondonglah para sahabat dari generasi awal hingga yang baru-baru memeluk Islam. Mereka yang berasal dari kalangan berada, hingga sahabat yang miskin papah.

Tujuannya sangat jelas, agar para sahabat, bisa dilatih keikhlasannya. Yang banyak atau pun sedikit, tentunya landasan dan persoalan keikhlasan ini menjadi begitu penting pembahasannya dalam bab amal.

Keempat, zuhud dan selalu mengingat akhirat. Rasulullah ﷺ mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian (HR Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Ma jah).

Kelima, Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya. Para sahabat ditarbiyah dengan baik, bahkan saking hausnya mereka dengan ilmu, generasi pelanjut mereka bahkan sampai berkilo-kilo berjalan, hanya untuk mendengarkan satu buah hadist.

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan.

Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad Rahimahullah mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

Jika kita ingin menyandang kehormatan luhur, kemuliaan yang tak terkikis oleh perjalanan malam dan siang, tak lekang oleh pergantian masa dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, kedigdayaan tanpa senjata, kebangsawanan tanpa keluarga besar, para pendukung tanpa upah, pasukan tanpa gaji, maka kita mesti berilmu.

Namun, yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan” (Fathul Baari, 1/92).

Keenam, memberikan teladan yang baik dan selalu berada di garda terdepan dalam memproklamirkan kebaikan-kebaikan. Ketujuh, menanamkan kebebasan dan sikap yang positif. Bebas bukan berarti tidak terikat dengan syariat, tapi bebas yang dimaksud adalah bebas dari belenggu dan bisikan iblis, dan bebas dari berbuat maksiat dan kerusakan.

Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plin-plan lalu berkata, ‘Bila orang-orang baik, kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut.’ Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila orang-orang baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’ (HR at-Turmudzi).

Kedelapan, memperhatikan kejiwaan orang yang mau diubah dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Kesembilan, mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR al-Bukhari).

Kesepuluh, bervariasi dalam cara mengubah, seperti dengan membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun hal lainnya agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat. Nah, pembaca yang budiman, ke sepuluh konsep tersebut telah berhasil diamalkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau.

Konsep akhlak ini menjadi penting karena ialah yang akan menjadi penentu baik tidaknya diri dan pribadi seseorang. Dampaknya seperti apa jika hal ini menjadi sumber masalah? Tentu saja akan menjurus ke pola tata hidup masyarakat, bahkan hingga ke bagian struktur terbesar sebuah negara.

Mengapa korupsi mewabah, dan terkesan dianggap biasa-biasa saja? Karena AKHLAK-nya bermasalah.
Mengapa banyak ulama-ulama dinista, tanpa tabayyun dengan duduk persoalan, sebab AKHLAK yang bermasalah.
Mengapa ada yang dengki, merasa kebohongan adalah perkara yang terlalu biasa, sebab ia tak paham, bohong adalah bagian dari pelajaran AKHLAK. Bahwa ia tercela, bahkan pelakukanya diancam neraka.

Simpulannya, semua masalah di negeri kita, ada pada bagaimana AKHLAK yang masih jadi seumber MASALAH. Jadi, mari kita kembali meneladani akhlak Rasulullah ﷺ. Kita amalkan ke sepuluh konsep itu agar tak jadi buntu. STOP narasi-narasi kegaduhan, yang bisa menjadikan kita bertikai sesama anak bangsa. Silakan masing-masing introspeksi diri, bagaimana akhlak kita, sudah baikkah atau bagaimana?

***********

Penulis: Zulkifli Tri Darmawan, S.Si., M.Si
(Penulis Buku, Pengurus PP LIDMI dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)