“Kemaksiatan adalah akibat dari kemaksiatan sebelumnya, dan kebaikan setelah kebaikan adalah buah dari kebaikan yang pertama.”
Apabila engkau melihat dirimu cenderung berbuat maksiat maka ketahuilah bahwa penyebabnya ialah kemaksiatan yang telah engkau kerjakan sebelumnya. Sebab, kemaksiatan itu menumbuhkan kemaksiatan yang lain, dan dosa menumbuhkan dosa yang lain. “Kemaksiatan adalah akibat dari kemaksiatan sebelumnya, dan kebaikan setelah kebaikan adalah buah dari kebaikan yang pertama.” Seperti juga dikatakan Abul Hasan Al-Muzani, “Dosa setelah dosa adalah akibat dari dosa yang pertama, dan kebaikan setelah kebaikan adalah buah dari kebaikan yang pertama.” Persis mata rantai yang antara satu dengan yang lain saling menguatkan. Atau, seperti biji-bijian yang terangkai menjadi satu, apabila satu biji terjatuh dari rangkaian itu maka ikatan akan kendor dan biji-biji yang lain akan ikut berjatuhan.
Urwah bin Zubair bin Awam membuat sebuah kaidah untuk mengingatkan para dai setelahnya, “Apabila engkau melihat seseorang mengerjakan suatu kebaikan maka ketahuilah bahwa kebaikan tersebut akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain yang akan ia kerjakan. Apabila engkau melihatnya mengerjakan kejelekan maka ketahuilah bahwa kejelekan tersebut akan melahirkan kejelekan-kejelekan yang lain. Karena kebaikan menunjukkan kebaikan yang lain dan kejelekan menunjukkan kejelekan yang lain.”
Apabila engkau melihat orang-orang meninggalkanmu dan menjauh maka segera koreksi diri Anda. Periksalah kejelekan apa yang telah engkau perbuat. Sebab, dosa dan maksiat itu menyempitkan dada-dada manusia sehingga muncul ketidaksukaan antara hatimu dan hati mereka. Ibnul Qayyim mengatakan, “Barang siapa yang mengagungkan kedudukan Allah dalam hatinya sehingga tidak bermaksiat kepada-Nya maka Allah akan mengagungkan dia di hati makhluk-Nya sehingga mereka tidak menghinakannya.”
Sama seperti yang dikatakan Ibnul Jauzi, “Sesuai kadar keberanian seseorang berbuat dosa dan sejauh mana kadar dosa tersebut maka seperti itu pula akan keluar aroma busuk darinya sehingga hati membencinya.”
Oleh karena itu, apabila engkau melihat kewibawaan telah sirna maka ketahuilah bahwa penyebabnya adalah dosa. “Terkadang, seseorang menjadi sangat lemah pada masa tuanya sehingga hati merasa kasihan kepadanya, sedang dia tidak tahu bahwa itu disebabkan karena kelalaiannya terhadap hak Allah di masa mudanya. Maka, apabila engkau melihat seseorang terkena hukuman maka ketahuilah bahwa itu disebabkan karena dosa,”
Apabila engkau melihat seseorang tidak merasa tinggi dengan ketaatan atau melihat seseorang yang tidak bersedih dengan kerendahan yang disebabkan kemaksiatan yang telah diperbuat maka ketahuilah bahwa telah tiba saat kematian hatinya. Maka, ber-ta’ziyah-lah kepadanya. Dikatakan kepada Said bin Al-Musayyib, “Abdul Malik bin Marwan berkata, Aku sekarang tidak bergembira dengan kebaikan yang aku kerjakan, dan tidak bersedih dengan kejelekan yang aku langgar.” Beliau pun berkata, “Sekarang tibalah kematian hatinya.”
Apabila engkau melihat akibat kemaksiatan maka waspadalah! Karena, terkadang, hukumannya tidak nampak olehmu. Seorang alim dari Bani Israil berkata, “Wahai Rabb-ku, berapa kali aku bermaksiat kepada-Mu namun Engkau tidak menghukumku?” Maka dikatakan kepadanya, “Berapa kali Aku menghukummu tetapi kamu tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah menghalangimu dari merasakan nikmatnya bermunajat kepada-Ku?”
Dari uraian di atas, tampaklah bahaya dan akibat dosa. “Dosa bagaikan luka. Betapa banyak luka yang menyebabkan kematian.”
“Hai, orang yang penuh luka dosa! Kalian telah merngetahui obat dari luka tersebut maka obatilah luka-luka dosamu. Orang yang mempunyai tekad bulat, pantang ragu dalam melangkah. Kapankah tekad menjadi bulat?” Menangislah karena gelapnya hatimu, semoga menjadi terang.
“Tidak ada air yang mampu membersihkan bekas-bekas dosa dari pakaian hati kecuali air mata. Apabila percikan air tidak mampu menghilangkan bekas tersebut maka harus menimba air dari lautan pengakuan. Datangilah majelis para mujtahid dan serulah mereka: berbahagialah atas air yang kalian peroleh untuk menyirami hati kalian dan kasihanilah orang yang belum mendapatkannya.”
Bersegera dan bergegaslah, waspada dan cepatlah karena, “Jatuhnya dosa pada hati adalah bagaikan jatuhnya minyak pada pakaian. Apabila engkau tidak segera mencucinya maka dia akan menyebar. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat. “(An-Nisâ’:72)
Sangat berbahaya kalau kita berbuat dosa lalu tidak memerhatikan dosa-dosa kita, “Aku melihat setiap orang yang terpeleset akibat sesuatu, atau tergelincir dalam hujan pasti dia melihat penyebab jatuhnya. Memang ini tabiat setiap makhluk untuk lebih berhati-hati agar tidak jatuh untuk kedua kalinya atau untuk melihat dengan kehati-hatian dan kesadarannya bagaimana dia bisa hilang keseimbangan karenanya. Belajar dari hal ini, aku katakan, ‘Hai, orang yang tergelincir berkali-kali! Tidakkah engkau melihat penyebab jatuhmu sehingga engkau bisa lebih berhati-hati. Atau, engkau mencela perbuatanmu dan memegang kendalinya agar tidak terjatuh untuk kedua kalinya. Kebanyakan orang yang memerhatikan bagaimana ia terjatuh, itu karena kehati-hatiannya, sebagaimana pendapatku. Namun, yang mengherankan adalah dirimu. Bagaimana engkau tergelincir karena suatu dosa lalu mengulanginya lagi?”
Demikianlah, kita ketahui bagaimana generasi tabi’in sangat waspada terhadap luka-luka dosa beserta akibatnya, Saudaraku, engkau telah mendengar kabar tentang generasi ini maka berjalanlah di atas jalan mereka. Engkau telah tahu pemahaman mereka maka pahamilah sebagaimana mereka memahami. Kapan pun engkau menempuh jalan mereka, engkau menjadi pendamping mereka.”
Ya Rabbi,
Berapa kali aku tergelincir dan aku tidak mengingati-Mu
Sedangkan Engkau Tuanku dalam kegaiban selalu ingat padaku
Sungguh, aku akan menangis dengan air mata penuh penyesalan
Dan aku akan menangis dengan tangis kesedihan
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang orang yang berdoa kepada-Mu dengan badan, namun hatinya lari dari-Mu. Ya Allah, wahai Zat yang paling kami cintai, wahai Zat yang paling kami muliakan, janganlah Engkau jadikan kami orang hina di sisi-Mu.
Ya Allah, aku tidak akan melupakan dosaku. Aku memohon ampunan kepada-Mu. Ya Allah, berilah aku rezeki tobat yang benar-benar ikhlas. Wahai Zat yang Mahamulia, ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahannam dan dari panas neraka Jahannam. Ya Allah, apabila Engkau mengazabku maka janganlah Engkau mengazabku di depan salah seorang dari makhluk-Mu sehingga tidak dikatakan telah diazab orang yang berdoa kepada-Mu. Ya Allah, berilah aku rahmat karena saudara-saudaraku dan janganlah Engkau haramkan mereka dari rahmat-Mu karena aku. Amin, amin.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 130-133
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































