Begitulah nafsu jika engkau tidak menyibukkan, dengan kebaikan, ia akan memyibukkamu dengan kebatilan
Ibnu Al-Jauzi sangat heran jika Anda mengira akan dikalahkan nafsu dan yakin tidak bisa mengalahkannya.
Sungguh mengherankan kalau nafsu kita bisa mengalahkan diri kita, menggerakkan dan menguasai kita, atau kita tidak bisa mengalahkan dan menguasainya. Apabila nafsu berhasil mengalahkan kita, dia akan berani kepada kita dan menjadikan kita sebagai budaknya. Akan tetapi, generasi tabi’in mengajarkan kepada kita supaya kita lebih dahuluu bersiasat dan bersikap lembut dengannya. Namun, apabila nafsu tetap tidak mau tunduk maka kita harus memakai cara keras yang dikombinasi dengan kelembutan sehingga kita bisa mengalahkannya dan dia taat kepada kita. Bukannya kita yang malah menjadi budaknya.
Mujahadah (kesungguhan) adalah peperangan yang tidak layak dihadiri kecuali oleh para jawara. Bertolak dari sini, kewaspadaan terhadap nafsu harus selalu terjaga. Kita juga harus selalu bersiap-siap menghadapinya, sebagaimana dikatakan Hatim Al-Asham, “Nafsuku adalah obyek penjagaanku, ilmuku adalah senjataku, dosaku adalah kegagalanku, setan adalah musuhku, dan aku akan mengingkari nafsuku.”
Ibnul Qayyim mengatakan, “Manusia dalam menghadapi nafsunya terbagi menjadi dua kelompok:
•Kelompok yang dikalahkan oleh nafsunya. Mereka dikuasai dan dibinasakan oleh nafsunya. Mereka selalu taat kepada nafsu dan berada di bawah kendali perintahnya.
•Kelompok yang berhasil mengalahkan nafsunya dan menundukkannya. Maka nafsu mereka selalu taat dan tunduk kepada mereka.”
“Barang siapa dikuasai nafsunya maka ia akan menjadi tawanan nafsunya sehingga ia mencintai syahwatnya, terbelenggu dalam penjara kelalaiannya, dan nafsunya menghalangi masuknya hikmah ke dalam hati.”
Berapa kali nafsumu membisikkan kepadamu agar kamu tidak bangun untuk shalat Subuh supaya puas beristirahat. Apakah Anda berhasil mengalahkannya, atau malah dia yang mengalahkan Anda?
Berapa kali nafsumu membisikkan kepadamu agar kamu mau melihat dan melepas pandangan kepada yang diharamkan Allah. Apakah Anda berhasil mengalahkannya, atau malah dia yang mengalahkanmu?
Untuk kita, generasi tabi’in telah menyusun beberapa cara mengalahkan nafsu. Dahulu mereka selalu memerangi nafsu hingga berhasil mengalahkannya, bahkan mereka memeranginya dalam masalah-masalah yang mubah sebagai tindakan antisipasi. Utsman bin Ibrahim Al-Himyari -sahabat Malik bin Dinar-berkata, “Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada salah seorang kawannya, ‘Sungguh, aku sangat ingin makan roti lunak dengan susu kental’ Maka kawannya tadi pergi dan kembali membawa roti dan susu. Kemudian Malik mengoleskan susu kental di atas roti, namun dia hanya membolak-balik roti tersebut dan mengamat-amatinya, lalu berkata, ‘Aku sangat ingin memakanmu sejak 40 tahun dan aku berhasil mengalahkanmu hingga hari ini, wahai nafsuku, dan sekarang kamu mau mengalahkanku? Menyingkirlah dariku!’ Akhirnya beliau tidak mau memakannya.”
Tabi’in yang lain juga menghadapi nafsunya dengan Cara yang sama dan berhasil mengalahkannya. Abdullah bin Mubarak berkisah tentang Wahib bin Al-Wird, “Beliau tidak pernah makan buah-buahan. Setelah berlalu satu tahun dan buah-buahan sudah tidak musim lagi, beliau membuka perutnya dan melihatnya, lalu berkata, ‘Hai Wahib, aku tidak melihat ada masalah yang menimpamu. Aku juga tidak melihat sesuatu yang membahayakanmu akibat engkau tidak memakan buah-buahan’.”
Berapa kali Anda merasa sangat kehausan ketika mengerjakan puasa sunah, namun Anda terus berusaha menepis nafsu yang selalu membisikkan betapa segar air dingin itu. Apakah Anda berhasil mengalahkan nafsu atau nafsu yang mengalahkan Anda? Muhammad bin An-Nadhr Al- Harisi pernah berjalan ketika sedang berpuasa dan mendatangi sebuah tempayan air yang telah dingin, lalu berkata, “Hai nafsuku, engkau menginginkannya? Sungguh, engkau tidak akan merasakannya.”
Maka berapa kali dia mendorongmu untuk bermaksiat, lalu siapakah yang menang?
Ibnu AI-Jauzi mengatakan, “Demi Allah, apabila seseorang menyendiri dengan mengerjakan apa yang disukai, dan meninggalkan apa yang dilarang sementara dia mampu mengerjakannya serta hasratnya bergejolak untuk mengerjakannya, namun dia sadar bahwa Allah melihatnya maka dia malu atas kecenderungan nafsunya kepada yang dibenci, kemudian hilanglah hasratnya itu.”
Begitulah nafsu, ia selalu memperdaya manusia, menjadikannya menganggap ringan suatu kemaksiatan, melapangkan untuknya segala aspek kemungkaran, dan menjadikannya lupa akan akibat kemaksiatan yang diperbuat. Apabila nafsu mampu mengalahkan tuannya maka dia berkuasa penuh atasnya. Begitulah nafsu, kalau Anda tidak mengalahkannya maka dia akan mengalahkan Anda, dan apabila Anda tidak menyibukkannya dengan kebaikan maka dia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.
Salah seorang tokoh generasi ini memberikan uraian yang mendidik, yang sangat membantu Anda dalam mengalahkan nafsu. Muhammad bin Fadhl mengatakan, “Perlakukan nafsu Anda seperti Anda memperlakukan sesuatu yang tidak Anda butuhkan, tetapi harus ada. Karena, barang siapa yang mampu menguasai nafsunya maka dia akan mulia, sedangkan siapa yang dikuasai oleh nafsunya maka dia akan hina.”
Seorang pakar tarbiyah pada zaman ini, ustadz Ar-Rasyid, menjelaskan kepada kita beberapa hal yang mesti harus dikerjakan, “Hendaklah seorang dai mampu menguasai nafsunya, dan dari sana dia merencanakan masa depannya. Jangan sampai membiarkan nafsu menguasai dirinya karena barang siapa yang tidak mampu menguasai nafsunya maka dia kehilangan kebebasannya dan diperbudak oleh nafsunya. Sesungguhnya ini seruan untuk orang-orang yang berjiwa merdeka dan mulia, yang disambut oleh setiap yang cepat langkahnya. Barang siapa rela diperbudak dan terjerat dalam belenggu dan ikatan maka dia akan berada di belakang kafilah atau ditinggal oleh kafilah yang terus melaju.”
Saudaraku, marilah kita bebaskan jiwa kita dari segala bentuk belenggu dan tipu daya nafsu yang cenderung kepada kemaksiatan, popularitas, malampaui batas, dan berlebihan.
Mengalahkan nafsu serta menjadikan jiwa kita merdeka bukanlah hal yang mudah, tidak sedikit dari kita hari ini, merasa lelah dan kewalahan bahkan ada yang menyerah sebelum sampai pada tujuannya. Kecuali mereka yang senantiasa terikat dengan Allah Subhanahu Wata’ala.
Mulai sekarang, mari kita segera bersikap kepada nafsu kita. Jangan meniru kebanyakan orang hari ini yang tergolomg orang-orang yang lalai terhadap pendidikan nafsunya. Semoga Allah memberi balasan kepada mereka dalam mendidik dan membina nafsu mereka.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 76-79
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































