Dengarkanlah seruan kebenaran dari Rabi’ bin Khutsaim kepada mereka yang selalu sibuk dengan aib orang lain. Dia menyeru mereka dengan keras ketika dikatakan kepadanya, “Kita tidak pernah melihatmu menjelekkan atau mencela seseorang.” Maka dia menjawab, “Aku sendiri belum bisa ridha dengan diriku sehingga bisa diam, tidak mencelanya lalu sibuk mencela orang lain. Kebanyakan orang merasa takut kepada Allah dalam dosa-dosa orang lain sehingga mereka sibuk mencela, sedangkan terhadap dosa-dosa sendiri mereka merasa aman-aman saja dari murka Allah.”

Generasi ini sangat sadar bahwa sibuk dengan aib orang lain sampai lupa dengan aib sendiri adalah penyakit berbahaya dan virus ganas yang mematikan. Seperti penyakit yang banyak diderita generasi hari inı, yang kita hidup di dalamnya. Mereka benar-bernar memeriksa tabiat virus ini dan mengetahui bahwa orang yang mengidap virus ini adalah mereka yang sibuk dengan aib orang lain dan lupa dengan aib sendiri.

Salah seorang dari generasi ini memberikan kata nasihat bagi mereka yang telah terjangkit penyakit ini, “Sesungguhnya kesibukarnmu mengurusi aib orang lain itu menunjukkan banyaknya aib yang ada pada dirimu. Karena, pemburu aib itu akan memburu sesuai kadar yang ada pada dirinya.”

Anda melihat kerasnya kata terhadap jiwa yang mengidap penyakit ini agar merasakan pahitnya obat sehingga bisa membaik kondisinya, atau sebagaimana yang dikatakan Ar- Rasyid, Berapologi itu tidak memberikan manfaat dalam pendidikan dai.”

Aku heran dengan orang yang menangisi kematian orang lain
dengan air mata, sedang ia tidak menangisi dirinya dengan darah
Dan lebih mengherankan lagi bahwa dia melihat aib orang lain
sangat besar, sedangkan terhadap aib sendiri dia buta.

Pada suatu hari Muhammad bin Sirin mendengar salah seorang yang duduk di sampingnya mencela Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi setelah kematiannya. Beliau tidak membiarkan orang itu begitu saja, tetapi beliau mengajari murid-murid yang duduk di sekelilingnya sebuah pelajaran mendidik yang sangat dibutuhkan bagi mereka yang ingin sadar akan hakikat nafsu ini. Beliau berkata, “Diamlah, wahai anak saudaraku. Hajaj telah pergi menghadap Rabbnya, dan engkau ketika menghadap Allah akan mendapati bahwa dosa yang paling ringan yang telah engkau kerjakan di dunia adalah lebih besar dari dosa paling besar yang dikerjakan Hajaj. Pada hari itu, setiap dari kalian mempunyai urusan yang menyibukkan. Dan ketahuilah, Nak, sesungguhnya Allah akan membalas Hajaj untuk orang-orang yang telah ia zalimi, sebagaimana juga membalaskan untuk Hajaj terhadap orang-orang yang menzaliminya. Maka, setelah hari ini, jangan sekali-kali kamu sibuk dengan aib orang lain.”

Orang yang sibuk dengan aib orang lain itu karena lalai dengan aibnya sendiri. Kelalaian itulah yang dikatakan seorang pembesar tabï’in yang bernama Aun bin Abdillah bin Utbah, “Aku memandang seseorang yang sibuk dengan aib orang lain karena kelalaiannya terhadap dirinya.”

Engkau memberi uzur kepada dirimu ketika berbuat salah
sedang orang lain yang beruzur tidak engkau biarkan
Engkau mampu melihat debu halus yang ada di matanya
sedang batu di matamu engkau tidak melihatnya.

Memahami pendidikan yang semacam ini menjadi kewajiban bagi setiap Muslim hari ini. agar hal itu benar-benar diperhatikan dan diamalkan dalam perjalanan mendidik diri. Berapa banyak larangan yang kita terjang, rambu-rambu yang kita langgar, dan betapa sering kita terjatuh ke dalam dosa besar ketika kita menyibukkan diri dengan aib orang lain. Salah seorang dari generasi ini mengingatkan kita bahwa itu adalah istidraj (kenikmatan yang membawa azab).

As-Sirri As-Saqthi berkata, “Salah satu tanda istidraj pada seorang hamba adalah buta terhadap aib sendiri dan jeli dengan aib orang lain.”

Sejelek-jelek manusia adalah yang sibuk dengan aib orang lain
seperti lalat yang selalu mencari tempat-tempat penyakit.

Sahal bin Abdillah At-lusturi salah seorang pendidik generasi tabi’in, beliau memberi kita wasiat dan ringkasan pengalamannya. Beliau berkata, Jangan mencari-cari kejelekan dan akhlak jelek orang lain. Akan tetapi periksa dan carilah akhlak-akhlak islami sejauh mana engkau mengamalkannya sehingga engkau selamat. Dan hal tersebut menjadi besar bagi nafsu dan dirimu.”

Saudaraku, mari kita mengadakan loncatan perbaikan dan perubahan pada keadaan kita yang lalu. Kita umumkan keinsyafan kita. Kita mengambil petunjuk para ulama salaf, karena meremehkan aib sendiri adalah kebinasaan yang nyata.

Begitulah generasi tabi’in dalam mendidik dan membimbing nafsunya karena mereka paham bahwa mendidik dan mengurusi nafsu adalah awal yang harus dikerjakan bagi siapa saja yang ingin selalu istiqamah menjalankan perintah Allah. Maka, mari kita senantiasa mendidik dan membimbing nafsu kita sebagaimana para tabi’in mendidik dan membimbing nafsunya. Dari mereka kita belajar bahwa sibuk dengan aib orang lain sampai lupa dengan aib sendiri adalah merupakan sejelek-jeleknya manusia seperti lalat yang selalu mencari tempat-tempat penyakit.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.48-51

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)