“Aku berusaha mengekang nafsuku selama 40 tahun hingga lurus.”(Muhammad bin Al- Munkadir dalam Hilyatul Auliya: 3/147).

Menundukkan nafsu agar berjalan di jalan Allah yang lurus dan selalu memegang kendalinya sehingga tidak membelot dari ketaatan kepada kemaksiatan, membutuhkan pengekangan demi pengekangan sehingga ia tidak dikuasai oleh setan terkutuk.

Mengekang, bermujahadah, dan mengendalikan nafsu adalah pekerjaan yang berat, yang mau tidak mau harus dikerjakan dan bersifat terus-menerus. Berat karena nafsu bertabiat cinta kebebasan tanpa batas agar bisa melahap semua syahwat dan kesenangan. Berat karena banyaknnya syahwat dan kesenangan di mana-mana sehingga tidak membiarkan diri untuk merasa tenang, meskipun hanya sekejap tanpa ada gejolak kepada syahwat tersebut. Berat karena kebanyakan manusia membantu perbuatan maksiat dan meninggalkan ketaatan.

Oleh karena itu, sedikit sekali engkau dapatkan kawan yang tepercaya yang selalu menarik kedua tanganmu setiap kali engkau tergelincir. Di samping itu, setan terlaknat tidak pernah putus asa menggoda manusia untuk menyelisihi perintah Allah dengan berbagai sarana dan cara. Selain itu, nafsu selalu cenderung kepada rehat dan bersenang-senang, serta bosan dengan jauhnya perjalanan sehingga mengajak tuannya untuk ridha dengan aib yang ada. Rasululah bersabda,

“Surga dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci nafsu sedang neraka dikellingi hal-hal yang disukai nafsu. ” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, usaha mengendalikan nafsu sangatlah susah. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Tidak ada yang lebih susah kuobati daripada menundukkan nafsuku. Karena kadang aku kalah dan kadang aku menang.”

Kadang kala nafsu yang berhasil menguasai dan menang, tetapi seorang mukmin akan selalu berusaha mengekangnya dan bersegera mengembalikannya kepada jalan yang benar dengan terus berusaha melemahkannya. Pergiliran antara menang dan kalah ini terkadang terjadi berulang kali sehingga nafsu berhasil dikuasai setelah mengalami beberapa kekalahan. Pada saat itu, tidak ada pilihan lagi kecuali dia harus melepaskan baju kemaksiatan dan pembangkangan, serta akan selalu taat kepadamu. Tapi ini tidaklah mudah.

Abu Yazid Al-Busthami berkata, “Aku telah menangani berbagai hal, tapi tidak ada yang lebih susah dari menangani nafsuku, dan tidak ada yang lebih mudah darinya. Sesungguhnya, pengekangan tidaklah disukai oleh nafsu dan tidak cocok dengannya. Tetapi, siapa saja yang ingin sampai tujuan dan ingin mendapatkan barang dagangan yang berharga maka ia harus mengekang nafsunya hingga lurus. Apabila generasi tabiin dan setelahnya selalu mengekang dan meluruskan nafsu maka tidak diragukan lagi bahwa kita jelas lebih membutuhkannya. Sebab, diri kita tidak seperti diri mereka sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mubarak, “Sesungguhnya nafsu orang-orang saleh terdahulu mudah menuruti mereka untuk berbuat baik, sedangkan nafsu kita tidak mau turut kecuali harus dipaksa. Karena itu, hendaklah kita selalu memaksanya.”

Lantas, bagaimana dengan nafsu kita yang lebih membangkang dan membelot dalam menerima kebaikan, dan tidak mudah mengikuti kita kecuali harus dikerasi?

Ibrahim Al-Khawas mengatakan, “Muhammad bin Fadhl Al-Balkhi berkata kepadaku, ‘Aku selama 40 tahun tidak pernah melangkah satu langkah pun untuk selain Allah. Selama 40 tahun pula aku tidak pernah mempertimbangkan sesuatu yang diriku memandangnya baik (namun tidak ada dalil) karena malu kepada Allah. Dan selama 30 tahun aku tidak pernah mendekte kedua malaikat yang mengiringiku sesuatu yang aku benci, yang jika aku kerjakan, sungguh aku malu pada diriku’.”

Contoh pengekangan nafsu untuk memperbaiki kekurangannya adalah apa yang dikerjakan oleh tabi’in ini, Daud At-Tha’i. la sering duduk di majelis Abu Hanifah. Suatu ketika, Abu Hanifah berkata kepadanya, “Wahai Abu Sulaiman, sesungguhnya perangkat ilmu sudah aku berikan.” Daud berkata, “Lalu, apalagi yang tersisa?” Beliau menjawab, “Tinggal mengamalkannya.” Daud berkata, “Nafsuku mendorongku untuk keluar dari majelis beliau dan membuka kajian sendiri, maka aku berkata kepadanya, “Tidak, hingga kamu tetap duduk bersama mereka dan jangan menjawab satu pertanyaan pun. Maka dia tetap duduk bersama mereka selama satu tahun sebelum kemudian membuka kajiannya sendiri. Dia berkata, “Banyak pertanyaan yang datang dan aku mengekang ambisiku untuk menjawab lebih dari hasrat seorang yang kehausan air, dan aku tetap tidak menjawabnya. Kemudian setelah itu aku menyendiri dari mereka untuk membuka kajiaan sendiri.”

Ketika Daud At-Tha’i mengetahui kejelekan yang ada pada nafsunya maka dia mengekangnya hingga dia belajar bagaimana mengendalikannya. Tetapi, berapa banyak di antara kita yang tidak bisa mengendalikan nafsunya dan membiarkannya berbicara tanpa kendali hingga yang mendengarnya bosan. Berapa banyak di antara kita yang berada dilembaga pendidikan yang keluar dari kelayakan dan etika. Waktu sudah ditentukan baginya, namun tidak bisa membatasi nafsunya.

Renungkan apa buah dari pengekangan ini. Apa hasil yang didapat Daud At-Tha’i setelah mengekang nafsunya. Sebelumnya, dia banyak bicara dan dia mengobatinya dengan tidak bicara, maka hal tersebut menjadikannya banyak berpikir, dan dengan banyak berpikir dia lebih bisa menguasai dirinya.

Seorang tabiin yang bernama Muriq Al-Ajli berkata, “Ada satu hal yang selalu aku buru selama 20 tahun, namun belum juga aku mendapatkannya, dan aku tetap akan terus memburunya.” Mereka bertanya, “Apakah itu, wahai Abul Mu’tamir?” Beliau menjawab, “Diam dari apa yang tidak bermanfaat bagiku.”

Berapa banyak dari kita yang tidak bisa belajar diam. Anda sering mendapati orang yang selalu menjawab semua pertanyaan. Seakan-akan ia menguasai semua ilmu. la berbicara dalam masalah yang sebenarnya tidak ada hak baginya untuk berbicara sehingga salah atau menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Padahal, kalau ia diam, itu akan lebih menjaga kedudukannya. Kalau Anda termasuk dari mereka maka seorang tabiin besar yang bernama Abdullah bin Abi Zakaria mengajarkan kepadamu bagaimana cara belajar diam: Abdullah bin Abi Zakaria telah meletakkan batu di mulutnya bertahun-tahun untuk belajar diam.

Tahukah Anda, berapa tahun beliau mengobati penyakit ini? Anda pasti terkejut mendengarnya. Kata beliau, “Aku mengobati lisanku (untuk belajar diam) selama 20 tahun, yaitu sebelum aku bisa mengendalikannya.”

Dua puluh tahun beliau meletakkan batu di mulutnya sebagai obat dari penyakit nafsu yang sering kali menyakiti perasaannya dan menggores hatinya, sehingga beliau bersabar atas payahnya menggigit batu yang keras.

Meskipun demikian, beliau mengaku belum sampai pada tujuan yang diinginkannya, beliau berkata, “Aku mengobati untuk bisa diam selama 20 tahun, namun aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan.”

Beliau telah mengekang nafsunya sepanjang waktu ini untuk belajar istiqamah, dan panjangnya malam selama 20 tahun tidak membuatnya putus asa agar dia bisa meraih keinginannya. Coba, berapa kali kita memikirkan kejelekan diri dan berusaha mengekangnya untuk membuang kejelekan tersebut sehingga bisa terlepas darinya. Berapa kali kita merasakan pahitnya obat yang lebih dahsyat? Namun, sepertinya kita tidak pernah tergerak untuk mengobatinya atau bersegera mengambil obat dari para dokter hati dari generasi tabi’in.

Berapa banyak ibadah yang tidak mampu nafsu lakukan kecuali dengan dipaksa. Naifnya, kita sering puas dengan apa yang dimampui nafsu serta merasa cukup dengannya. Akibatnya, kita tidak bisa merasakan manisnya ibadah. Namun, lain halnya dengan generasi tabi’in, mereka mengekang dan memaksa nafsunya untuk beribadah, meskipun memerlukan waktu cukup lama sampai dapat merasakan manisnya ibadah. Utbah Al-Ghulam berkata, “Aku memaksa diriku untuk shalat selama 20 tahun, dan aku bisa merasakan kenikmatannya selama 20 tahun.”

Yusuf bin Asbath pernah mengatakan, “Pelajarilah benarnya amalan dari rusaknya, karena aku mempelajarinya selama 22 tahun.”

Harus ada ketegasan dan keberanian untuk menundukkan nafsu hingga kita berhasil memegang tali kendalinya dan mengendalikannya sesuai yang diinginkan.

Apabila nafsu berpaling dari kebenaran
Kita harus menghalaunya
Apabila ia condong pada dunia daripada aklhirat
Kita harus mencegahnya
Dia menipu kita dan kita memperdayanya
Dengan kesabaran kita pasti menang
Dia takut dengan kefakiran
Dan dalam kefakiran kita menundukkannya.

Saudaraku, mengekang dan mengendalikan nafsu adalah bukan pekerjaan yang ringan, namun harus kita kerjakan secara continue demi tercapainya tujuan dan keinginan kita untuk mendapatkan barang berharga dari perdagangan kita dengan Allah yaitu Surga-Nya. Pengekangan yang dilakukan secara continue kepada nafsu, lama kelamaan ia akan menyatakan kekalahannya dan akan selalu taat kepada kita.

Kita tahu bahwa nafsu orang-orang shaleh terdahulu lebih mudah menuruti tuannya dibandingkan nafsu generasi hari ini, yang kita hidup di dalamnya. Oleh karenanya, kita membutuhkan pengekangan dan pengendalian nafsu yang lebih keras yang turut kecuali harus dipaksa. Karena itu, hendaklah kita selalu memaksanya.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 56-61

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)