Seorang mukmin yang cerdik akan selalu mengendalikan nafsunya

Kita mulai dari perkataan shahabat Ali bin Abi Thalib , “Sesungguhnya semangat itu kadang naik kadang turun. Apabila sedang naik bawalah ia untuk mengerjakan amalan amalan yang sunah. Dan apabila sedang turun, cukupkanlah dengan amalan-amalan wajib saja.”

Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Hati itu kadang mati kadang hidup. Apabila sedang mati maka cukupkanlah dengan amalan-amalan yang wajib, dan apabila sedang hidup maka didiklah dengan amalan-amalan yang sunah.”” Diriwayatkan dari Sufyan, dari Ma’an, ia berkata, “Hati mempunyai saat-saat semangat dan saat-saat lemah. Maka, tingkatkanlah amalan ketika muncul semangat dan biarkanlah dengan hanya amalan wajib di saat lemah.”

Pada masanya, jiwa mengalami saat-saat bersemangat dan saat-saat loyo sehingga terkadang engkau melihatnya bersemangat mengerjakan ketaatan, seluruh amalan akhirat, giat membaca Al-Qur’an, bangun malam, berzikir, berdoa, membaca berbagai macam kitab, menulis yang bermanfaat, mengunjungi orang-orang pilihan, memenuhi kebutuhan kaum muslimin, bersegera mengerjakan kebajikan, dan sebagainya. Namun begitu, terkadang engkau mendapatinya dalam kondisi tidak bersemangat mengerjakan amalan-amalan tersebut.

Seorang mukmin yang cerdik adalah yang bisa memanfaatkan saat-saat semangatnya dengan sebaik-baiknya dan tidak lengah dengan kesempatan tersebut kapan pun datangnya. la juga tidak membiarkan ada peluang bagi setan memanfaatkannya. Kecerdikan semacam ini tidak dimiliki kecuali oleh sedikit orang yang selalu menyibukkan diri mendidik dirinya.

Sebagaimana yang dikatakan para pakar kejiwaan, “Adonan manusia adalah adonan yang sukar, membutuhkan pengawasan secara terus-menerus, tidak cukup hanya dengan sekali menaruhnya di ukuran tertentu kemudian ia akan terus lurus dan tetap di sana.”

Oleh karena itu, wajib bagi penempuh jalan ini meletakkan pada diri mereka siasat pendidikan yang bijak untuk bisa bermuamalah dengan diri sehingga bisa mensucikannya, dan bisa membersihkan hati hingga jernih.

Saleh Al-Muri mengatakan, “Atha’ As-Salimi telah membahayakan dirinya karena beribadah secara berlebihan hingga tubuhnya lemah. Maka aku berkata kepadanya, Engkau telah membahayakan dirimu sendiri dan saya berjanji berbuat sesuatu untukmu, janganlah engkau menolaknya. Dia berkata, Kerjakanlah!’ Maka, aku membeli gandum jenis terbaik yang aku temui dan minyak lemak untuknya, kemudian aku membuat bubur dan aku memberinya manisan.

Setelah itu, aku menyuruh anakku mengantarkan bubur tersebut beserta seguci air. Aku pesan kepadanya, Jangan pergi sampai dia meminumnya Kemudian anakku pulang dan berkata, ‘Dia telah meminumnya. Keesokan harinya, aku membuat bubur lagi dan menyuruh anakku mengantarkannya, namun kemudian anakku pulang membawa bubur itu karena tidak diminum.

Kemudian aku menemuinya dan berkata kepadanya, ‘Subhanallah, engkau menolak pemberianku! Sungguh, ini akan membantumu dan menguatkanmu untuk shalat dan berzikir.’ Dia berkata, ‘Wahai Abu Bisr, semoga Allah tidak menimpahkan kejelekan kepadamu, aku telah meminum kirimanmu yang pertama. Pada hari berikutnya aku ingin menelannya, namun aku tidak mampu karena ketika aku mau meminumnya aku teringat ayat, ‘Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati. (lbrahim: 17). Maka, Saleh menangis dan berkata, Aku berkata pada diriku: Aku melihat aku berada di satu lembah sedangkan engkau berada di lembah yang lain. “

Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi membuat satu cara mensiasati nafsu untuk para dai, ahli zuhud, dan para ulama karena beliau mendapati adanya kesalahan dalam bermuamalah dengannya. Beliau berkata, “Aku mendapati beberapa ulama dan ahli zuhud tidak memahami makna memerangi nafsu karena di antara mereka ada yang secara mutlak menghalanginya dari semua keinginannya, dan ini keliru jika dipandang dari dua sisi:

Pertama, terkadang orang melarang nafsunya dari suatu syahwat, namun memberinya lebih dari itu. Seperti mencegah dari suatu yang mubah sehingga ia terkenal dengannya, kemudian nafsunya ridha dengan larangan tersebut karena diganti dengan pujian.

Kedua, sesungguhnya kita diberi tanggung jawab untuk menjaganya, dan termasuk sebab penjagaannya adalah kecenderungannya kepada hal-hal yang dia perlukan, maka kita harus memberikan kepadanya apa yang diperlukan. Sesungguhnya, jihad memerangi hawa nafsu itu seperti jihadnya orang sakit yang cerdik. Dia akan membawa nafsunya kepada hal-hal yang tidak disukai demi kesembuhannya, dan memberinya sedikit dari yang disenangi, serta memakan makanan yang bergizi sesuai kadar yang telah ditentukan oleh dokter.

Demikian pula seorang mukmin yang cerdik, dia akan selalu mengekang nafsunya, tapi juga tidak membiarkannya liar. Dia akan terus mengendalikannya. Selama dia tetap lurus maka dia tidak menyempitkan jalannya dengan berbagai kekangan. Apabila menyeleweng maka dia langsung meluruskannya dengan cara halus, namun apabila tidak mau dan membangkang maka dengan cara kekerasan, dan menahannya untuk mensiasatinya. Seperti halnya istri yang tabiat akalnya lemah dan sedikit, ketika kita mendapatinya berbuat nusuz (durhaka) maka cara menyikapinya adalah dengan menasihatinya. Apabila tidak insyaf maka dengan pisah ranjang, dan apabila tetap tidak lurus maka dengan pukulan.”

Kebenaran nasihat Ibnu Al-Jauzi ini tampak jelas dalam kehidupan kaum salaf sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abdirrahim, “Pada suatu hari aku mengunjungi Imam Nawawi dan aku melihat kedua kakinya bengkak. Aku bertanya kepada beliau perihal tersebut. Beliau menjawab, ‘Nafsuku memintaku untuk makan kurma, dan aku mencoba untuk menahannya, namun dia terus memintaku hingga aku keluar dan membelinya. Setelah makan, aku berkata pada diriku ‘Bangun dan shalatlah’, namun dia enggan untuk bangun. Maka, aku berkata, ‘Aku bernazar untuk tidak duduk di atas tanah selama 40 hari. Sejak itu, aku tidak duduk’.”

Begitulah kehidupan kaum salaf, mereka bukan hanya seorang mukmin tapi selain itu mereka juga cerdik dalam bermuamalah dengan diri mereka. Sehingga hati mereka menjadi bersih jernih dan suci. Dimana saat semangat mereka naik, mereka akan membawanya pada amalan-amalan sunah dan menutup segala celah bagi setan yang ingin memanfaatkannya.

Dari mereka kita belajar bahwa sesungguhnya diri kita membutuhkan pengawasan yang sangat ketat karena sampai sedikit saja kita lalai darinya, maka ia akan berkhianat. Inilah salah satu jihad para ulama salaf yaitu memerangi hawa nafsu.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.52-55

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)