Barangsiapa yang berinfak di jalan Allah , maka Allah Subhanahu Wata’ala akan menambahkan rezekinya.

Allah berfirman dalam hadits qudsi,

“Berinfaklah wahai anak cucu Adam, niscaya Aku akan berinfak kepadamu (memberi ganti).” (Muttafaqun ‘alaih)

Nabi صلى الله عليه وسلم juga bersabda,

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2588)

Tentu dalam perkara ini memerlukan keimanan. Oleh karenanya Allah Subhanahu Wata’ala mencela sifat pelit. Dan kalau kita perhatikan, di dunia ini orang Islam kaya itu banyak, akan tetapi yang pelit juga banyak. Oleh karenanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Dan tidak akan berkumpul sikap kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selamanya.” (HR. An-Nasa’i no. 3110)

Maka seseorang yang pelit dengan hartanya menunjukkan bahwa imannya terhadap hari akhirat tidak beres. Karena meskipun Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengatakan, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta”, mereka tetap tidak yakin sehingga mereka hanya menyimpan-nyimpan harta karena rasa pelit.

Oleh karenanya yang mengkhawatirkan bagi kita adalah banyaknya orang-orang kaya namun pelit. Dan karena hal ini pula ada seorang ahli ilmu yang menulis kitab berjudul Al-Bukhala’, yaitu kitab yang menceritakan kisah orang-orang pelit.

Oleh karenanya cabalah lihat bagaimana dermawannya para sahabat. Contohnya adalah Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu, yang pernah menangis karena takut hartanya menghalanginya masuk surga, padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah mengatakan bahwa dia termasuk penghuni surga. Akan tetapi beliau menangi karena takut terlambat masuk ke dalam surga karena hisab yang begitu banyak atas hartanya, sementara sahabat￾sahabatnya yang lain telah masuk terlebih dahulu. Kita tahu bahwa Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang saudagar kayak yang datang dari Mekkah ke Madinah dalam keadaan miskin. Tatkala dipersaudarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan Sa’ad bin Rabi’, ia ditawarkan separuh dari harta Sa’ad bin Rabi’, akan tetapi Abdurrahman bin ‘Auf memilih untuk ditunjukkan pasar agar ia bisa berdagang.Akhirnya Abdurrahman bin ‘Auf pun berdagang hari demi hari hingga akhirnya menjadi saudagar yang kaya raya lagi, dan akhirnya menikahi wanita Anshar.Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang yang terkenal sangat kaya dan senang berinfaq, bahkan semakin dia berinfaq maka semakin Allah Subhanahu Wata’ala memberikan kekayaan kepadanya. Disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa Abdurrahman bin ‘Auf memiliki empat orang istri, dan tatkala beliau meninggal diberikan warisan bagi satu orang istri sebanyak 100.000 dinar. Dan jika kita hitung￾hitung dari hukum waris, maka istri mendapatkan 1/8 dari harta suami. Maka jika total warisan yang didapatkan oleh keempat istri Abdurrahman bin ‘Auf adalah 400.000 dinar, dan angka tersebut adalah 1/8 dari harta Abdurrahman bin ‘Auf. Sehingga total harta Abdurrahman bin ‘Auf adalah 3.200.000 dinar.Akan tetapi ketahuilah, meskipun Abdurrahman bin ‘Auf memiliki harta yang banyak, ia tidak pernah merasa percaya diri dan ujub atas apa yang dia infakkan. Berbeda dengan sebagian orang yang tatkala memberikan infaq, dia senantiasa mengungkit-ngungkit jasanya. Akan tetapi Abdurrahman bin ‘Auf berinfaq semata-mata karena Allah Subhanahu Wata’ala. Sampai-sampai suatu saat Sa’ad bin Jubair pernah melihat ada orang yang tawaf di Ka’bah yang setiap dia bertawaf orang tersebut berdoa,

“Ya Allah jauhkan aku dari sifat pelit, Ya Allah jauhkan aku dari sifat pelit.”

Sa’ad bin Jubair tatkala mendengarkan doa tersebut menyangkan bahwa apakah orang tersebut adalah orang yang pelit sehingga dia harus berdoa seperti itu? Akan tetapi seteleh dicari tahu, ternyata orang tersebut adalah Abdurrahman bin ‘Auf yang terkenal suka berinfaq.

Inilah beberapa perkara yang bisa kita bahas dalam pembahasan kesempatan kali ini. Intinya adalah harta bukanlah hal yang tersecela, justru sangat dianjurkan dalam syariat jika seseorang yang memiliki harta, kemudian harta tersebut digunakan di jalan Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga hal tersebut akan menaikkan derajatnya di akhirat kelak. Akan tetapi orang-orang yang memiliki harta namun digunakan pada perkara￾perkara yang sia-sia dan tidak diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka harta tersebut akan mendatangkan kecelakaan baginya di akhirat kelak.

*************

Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah