Bakti kepada orangtua adalah kunci segala kebaikan dan penutup segala keburukan. Bakti kepada orangtua berarti taat kepada Allah dan taat kepada NabiNya صلى الله عليه وسلم. Perilaku berbakti kepada orangtua adalah hutang, yang akan jadi simpanan bagi orang yang berbakti kepada orangtuanya. Anak yang berbakti, kelak dia akan melihat buah dari baktinya telah menjadi buah yang matang pada diri anak keturunannya, maka dirinyapun sejuk dan senang karenanya, lapang dadanya, bahkan diapun menyesal kenapa tidak melipat gandakan baktinya kepada orangtuanya, karena dia melihat bakti anak-anaknya kepada dirinya.
Wahai para anak…
Maka cincingkanlah lengan bajumu, bersegeralah menuju dan mendekat kepada orangtuamu, pasang pendengaranmu baik-baik untuk mendengarkan keduanya, tawadhu‟lah kepada keduanya, dan doakan keduanya
Dan ketahuilah, -semoga Allah menjagamu-, betapapun engkau melakukan upaya untuk berbakti kepada orangtua, dan betapapun yang engkau lakukan, engkau tidak akan mampu membalas kebaikan keduanya. Bagaimanakah mungkin engkau bisa membayar hutangmu kepada kedua orangtuamu padahal keduanya melipatgandakan hutang keduanya kepadamu dengan medoakan dirimu, khawatir dengan kondisimu dan rasa cinta kedua orangtuamu kepada dirimu.
Wahai para anak…
Sesungguhnya kedudukan kedua oangtua itu agung sekali, bagaimana tidak agung, sungguh keduanya lebih memilih merelakan kenyamanan keduanya untuk dirimu. Keduanya sakit gara-gara engkau sakit, keduanya sedih ketika engkau bersedih, bahkan keduanya tidak bisa memejamkan mata, sampai anaknya yang masih kecil itu bisa memejamkan mata, dan baru kemudian dia bisa memaksakan dirinya untuk tidur.
Cukuplah bagimu sebagai indikator besarnya jasa kedua orangtuamu, adalah derivat dari cinta keduanya untuk mu, dimana mereka mengorbankan diri, bahkan mereka lupa bahwa keduanya sakit, dan mereka tinggalkan hal-hal yang membahagiakan keduanya. Itu semua dalam rangka agar anak senang, dan supaya engkau nyaman.
Ibumu punya hak yang seandainya engkau tau dia adalah hak yang sangat banyak
Sehingga baktimu yang banyak wahai fulan, maka itu sedikit jika dibandingkan kebaikan ibumu
Betapa banyak malam yang dilalui ibu dengan beban beratmu(hamil)
Yang dia sakit karenanya, dari dirinya erangan demi erangan
Ketika melahirkan, seandainya engkau mengetahui betapa derita ibumu.
Karena deritanya, maka hati itu seakan-akan terbang (saking sakitnya)
Betapa seringnya dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dan tidaklah pangkuannya adalah kecuali bagaikan tempat tidur untukmu
Dia tebus dirimu dengan sakit yang kau adukan
Dan buah dadanya adalah minuman untukmu
Dan berapa kali ibu lapar namun dia berikan kepadamu makanannya karena sayang dan karena cinta, ketika engkau masih kecil.
Sungguh hutang keduanya itu meliputimu selama keduanya memberikan kepadamu cinta yang murni
Ketika keduanya melihat sakit pada dirimu
Keduanya cemas karena engkau sakit dan sakitmu itu menjadi beban berat keduanya
Ketika keduanya mendengar eranganmu, bercucuranlah air mata keduanya
Karena sedih, dan erangan mu itu beban berat keduanya.
Keduanya berangan-angan seandainya keadaanmu adalah keadaan yang nyaman,
Dengan mengorbankan semua apa yang dimiliki oleh keduatangannya (rela mengorbankan semua harta supaya engkau merasakan kenyamanan).
Sungguh engkau adalah beruntung jika melakukan hal yang baik
Dan engau tunaikan sebagaian dari hak keduanya.
Wahai para anak…
Meskipun banyak dalil dan riwayat yang menunjukkan besarnya kedudukan orangtua, namun setan mendapati jalan nyaman untuk menggoda sebagian manusia. Betapa menakjubkan kedudukan kedua orangtua, namun betapa mengherankan sikap anak kepada orangtua.
Sungguh menakjubkan keadaan seorang ibu yang perutnya menjadi wadah untuk anaknya dan buah dadanya jadi minuman anaknya. Dia sakit karena sakit anaknya. Dia gembira karena gembiranya anaknya.
Betapa menakjubkan keadaan ayah, malam dan siang mencari rezeki, mencari tempat tinggal. Anak-anaknya menangis ketika membutuhkan sesuatu. Ayah tidak bisa merasa senang. Hatinya tidak bisa tenang sampai bisa memenuhi hajat anak-anaknya semaksimal kemampuan yang bisa ayah berikan.
Subhannallah, betapa menakjubkan perlakuan, kasih sayang orangtua. Seakan-akan orangtua adalah naungan untuk anak. Dia bergerak untuk anaknya. Diapun tenang karena tenang anaknya. Namun ada yang lebih mengherankan dari itu semua, keheranan yang tidak pernah habis, yaitu sikap anak yang tidak mengakui kebaikan orangtua, menutupi kebaikan orangtua, dan sikap keras kepada orangtua dan sikap lain yang lebih jelek.
Wahai para anak…
Betapa banyak orang mendengar, membaca dan meyaksikan bentukbentuk durhaka baik dengan kata-kata atau perbuatan, yang itu menyebabkan dahi berkenyit. Membuat jantung dan hati itu terasa pilu karena melihat hal ini.
Ada ibu yang dihinakan, ada bapak yang dipukuli, dan ada orangtualainya yang dibuang di panti jompo. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang memalukan di dunia dan di akhirat.
Ya Allah jagalah kami dari kejelekan jiwa kami dan dari kejelakan setan. Ya Allah berikanlah kepada kami rasa terimakasih terhadap nikmatMu. Jadikanlah kami oang orang yang beramal sholih yang Kau ridhoi, dan perbaikilah anak keturunan kami.
Ya Allah jadikanlah kami anak-anak yang berbakti kepada orangtua. Ya Allah jadikanlah kami sebab lapangnya hati mereka, dan sebab gembiranya mereka.
Wahai anak yang durhaka, atau orang yang menimpakan kepada keduanya tindakan yang menyakitkan, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam dirimu? Tidakkah engkau lihat ketika seseorang berbuat baik kepadamu, yang sebenarnya engkau tidak dalam kondisi sangat membutuhkan kebaikan orang tersebut. Tidakkah engkau melihat orang yang berbuat baik kepadamu tersebut sudah mengalungkan pada lehermu kalung hutang budi? Yang kalung hutang budi itu mengingatkanmu kepadanya. Engkau berterimakasih karena kebaikannya, dan kau antusias membalas hutang budi itu, padahal itu orang lain.
Bagaimana jika seandainya kau darurat dan sangat membutuhkan kebaikannya, lantas dia berbuat baik kepadamu dengan gembira. Tidakkah orang tersebut menawanmu karena kebaikannya, padahal itu hanya satu kebaikan. Boleh jadi dirinya tidak minat menolongmu, tapi kamu tidak punya tempat menghindar kecuali mengakui kebaikannya dan memberikan balasan terimakasih kepadanya.
Betapa mengherankan wahai anak yang durhaka, kau berterimakasih setiap pagi dan sore kepada orang yang sekali saja bebuat baik kepadamu, tapi ada gunung kebaikan dari orangtuamu yang kau tutupi, yang kau tidak akui jasanya. Inilah sikap aneh anak yang durhaka.
Wahai para anak…
Sungguh satu hal yang sangat jelek untuk didengar, untuk dilihat dan dibaca, sikap mereka anak-anak yang sombong yang mengingkari kebaikan kedua orangtua. Durhakanya anak itu bertambah jelek ketika anak durhaka itu adalah anak yang rajin sholat jumat dan sholat jamaah.
Wahai anak yang rajin sholat, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah berkenaan dengan orangtuamu? Tidakah engkau memikirkan kedudukan keduanya? Tidakkah sholatmu mencegah dirimu untuk berbuat jelek kepada keduanya. Ingat, telah beruban kepala keduanya karena telah tua dan sedih, karena keduanya melihat engkau mengingkari hak dan kebaikan keduanya.
Kedua orangtua itu merasa hancur, lantas berusaha menghibur diri. Keduanya telah diberi makan kedurhakaan yang lebih pahit dari tumbuhan yang pahit berkali lipat. Moga Allah balas kesabaran mu wahai bapak dan ibu, dan memperbesar ganjaran untukmu atas musibah yang menimpamu karena kedurhakaan anakmu.
Wahai anak yang durhaka, engkau akan menjadi orang yang akan ditelantarkan. Engkau adalah orang yang tertipu. Engkau tidur lelap sepenuh dua kelopak matamu dan kau tinggalkan kedua orangtuamu dalam keadaan lemah dan mereka meneguk kedurhakaan dari dirimu yang itu jadi ganjalan di tenggorokannya. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan di dunia dan adzab di akhirat.
*************
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan hafizhahullahu
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































