Ingatlah, bahwa memburu harta adalah sesuatu yang tidak akan pernah selesai dan tidak ada tujuan yang bisa dicapai.
Seorang manusia yang mencari harta, dia akan senantiasa haus untuk meraih harta sebanyak-banyaknya. Dan ini telah ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Dari Ibnu โAbbas radhiallahu โanhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda
โSekiranya anak Adam memiliki harta sebanyak dua bukit(dalam riwayat yang lain: dua bukit bukit emas), niscaya ia akan mencari untuk mendapatkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak Adam itu puas kecuali jika telah dipenuhi dengan tanah, dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat.โ (Muttafaqun โalaih)
Dan Allah Subhanahu Wata’ala telah menegaskan hal yang sama dalam firmanNya,
โBermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamumasuk ke dalam kubur.โ (QS. At-Takatsur : 1-2)
Oleh karenanya kita dapati ada orang yang sudah tua rentan, akan tetapi masih sibuk memikirkan harta, padahal dia telah kaya raya dan usianya mungkin telahmencapai usian 70 tahun dimana seharusnya dia menikmati harta yang dia miliki, akan tetapi dia masihpusing. Akhirnya terkadang orang yang demikian tidak merasakan nikmatnya harta yang dia miliki tersebut, akan tetapi dia merasakan nikmat tatkala bisa mengumpulkan harta tersebut. Maka ingatlah bahwa harta itu manis, semakin dicicipi maka akan semakin mendorong orang yang mencicipinya untuk terus mencarinya, dan dia tidak akan berhenti ketika dia telah meninggal dunia dan dikuburkan ke dalam tanah.
Oleh karenanya tatkala seseorang telah mengetahui bahwa pencarian harta tidak akan ada ujungnya, maka hendakanya dia memberikan batasan pada pencariannya tersebut. Sehingga jika ada sisa harta yang dia miliki, dia bisa menginfakkannya di jalan Allah Subhanahu Wata’ala.
Takkala seseorang tergiur untuk merasakan manisnya dunia, dia harus sadar bahwa manisnya dunia tidak ada bandingannya dengan manisnya akhirat.
Harta di dunia ini tidak ada bandingannya dengan kenikmatan di akhirat. Dan ketahuilah bahwa harta di sisi Allah Subhanahu Wata’ala tidaklah bernilai kecuali harta tersebut digunakan untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
โSeandainya dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, tentu Allah tidak mau memberi orang orang kafir walaupun hanya seteguk air.โ (HR. Tirmidzi no. 2320)
Maksud hadits ini adalah dunia ini tidak ada nilainya. Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi gambaran bahwasanya dunia ini tidak memiliki nilai meskipun hanya seperti sayap seekor nyamuk. Maka jika sekiranya dunia ini ada nilainya, maka Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan memberikan dunia kepada orang kafir karena Allah Subhanahu Wata’ala pasti hanya akan memberikan dunia kepada orang yang beriman dan bertakwa, agar dengan dunai tersebut mereka orang-orang beriman bisa beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi tatkala diterangkan bahwa dunia itu tidak ada nilainya, maka Allah Subhanahu Wata’ala memberikan dunia ula kepada orang kafir. Oleh karenanya jangan sampai ada di antara kita yang terbetik dalam hatinya bahwa mengapa orang-orang kafir dan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah hidupnya kaya raya sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan hidup miskin. Karena sesungguhnya jika dunia ini memiliki nilai, maka Allah tidak akan berikan kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah. Akan tetapi karena dunia ini tidak ada nilainya, maka Allah juga berikan dunia kepada orang-orang kafir.
Maka dari itu tidak bisa kita membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat. Ketahuilah bahwa dunia sifatnya sementara, dankenikmatan dunia itu memiliki tiga sifat, pertama adalah kenikmatannya seidkit; kedua adalah kenikmatannya sementara; ketiga adalah adalah kenikmatannya tidak sempurna dan tercampur hal-hal yang bisa merusak kelezatan nikmat tersebut.Sedangkan kenikmatan akhirat berbeda, sifatnya yangpertama adalah kenikmatannya sangat banyak; kedua adalah kenikmatannya kekal abadi; ketiga adalah kenikmatannya penuh dengan kesempurnaan. Oleh karenanya ini menunjukkan bahwa kenikmatan dunia tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.
Dari sini, tatkala kita mencari harta, jangan letakkan harta itu di hati kita, akan tetapi kita letakkan harta tersebut di tangan kita yang bisa kita gunakan untuk bertakwa kepada Allah. Ingatlah bahwa harta itu bukan tujuan, melainkan harta itu hanyalah sarana. Oleh karenanya Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan,
โDan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.โ (QS. Al-Qashash : 77)
Ayat ini menegaskan bahwa harta itu boleh untuk dimiliki, akan tetapi dia bukanlah tujuan meliankan sebagai sarana. Imam Asy-Syafiโi mengatakan,
“Sesungguhnya ada di antara hamba-hamba Allah yang cerdas, mereka mencari dunia dan khawatir terhadap fitnah”
“Mereka melihat kepada dunia, maka mereka sadari bahwa dunia itu bukan tempat hidup selama-lamanya”
“Maka mereka menjadikan dunia seperti lautan, dan menjadikan amal shalih di dunia sebagai perahu.”
Maka ingatlah bahwa dunia itu adalah sarana yang bisa mengantarkan seseorang menuju akhirat, dan bukan sebagai tujuan. Meskipun demikian,kebanyakan manusia beriman dengan apa yang mereka lihat.
Sehingga tatkala berbicara tentang surga, mereka tidak tahu karena mereka belum pernah melihatnya. Karena keimanan mereka tergantung dengan apa yang mereka lihat, maka jadilah mereka orang-orang yang seperti Allah firmankan,
โTetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.โ (QS. Al-Aโla : 16-17)
Akan tetapi Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan menampakkan satu kenikmatan akhirat pun di muka bumi ini sebagaimana firmanNya,
โTak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti,yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.โ (QS. As-Sajdah : 17)
Oleh karenanya tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan bahwa shalat berjamaah itu 27 derajat lebih besar daripadashalat senidiran, maka kita katakan bahwa kalau sekiranya pahala shalat berjamaah itu diperlihatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka semua orang akan shalat berjamaah, akan tetapi Allah tidak akan menampakkan itu semua. Sehingga kebanyakan di antara kita hanya beriman kepada apa yang kita lihat dan tidak yakin dengan janji-janji Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga akhirnya kita mendahulukan dunia daripada akhirat, padahal akhirat lebih baik daripada dunia.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah












































































