Hadits keempat yang menunjukkan bahayanya fitnah wanita adalah hadits dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi 3/476 no. 1173)
Hadits ini juga merupakan dalil bahwa seluruh tubuh wanita asalnya adalah aurat sebagaimana yang kita sebutkan pada pembahasan hadits sebelumnya. Dalam bahasa Arab, “astasyrafahaa” adalah dilirik atau diintai untuk dijadikan jeratan bagi laki-laki . Apabila wanita telah keluar, maka syaithan akan menggoda para laki-laki yang melihatnya untuk berangan-angan terhadap wanita tersebut, meskipun wanita tersebut menutup auratnya.
Hadits kelima yang menunjukkan bahayanya fitnah
wanita adalah hadits dari Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,
“Di akhir zaman nanti pada ummatku akan terdapat kaum wanita yang mereka berpakaian tapi telanjang, di atas kepala mereka seperti punuk unta yang panjang lehernya dan kurus badannya. Laknatlah mereka (wanita-wanita itu) karena sesungguhnya mereka adalah para wanita yang terlaknat. Dan kalau seandainya setelah kalian ada segolongan umat maka niscaya wanita-wanita kalian akan menjadi budak/pembantu bagi wanita-wanita mereka sebagaimana kaum wanita dari kaum sebelum kalian menjadi budak bagi kalian.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Aswath 9/131 no. 9331)
Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berasabda
“Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kadan membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (HR. Muslim 3/1680 no. 2128)
Ini menunjukkan bahwa para wanita degnan ciri-ciri di atastelah melakukan dosa besar. Dan hal tersebut belum Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dapatkan di zaman beliau. Di antara tafsiran (berlenggak-lenggok) adalah dia berjalan dengan berlenggak-lebggok sehingga menarik perhatian laki-laki sampai memiringkan kepala. Kemudian makna (rambut mereka seperti punuk unta) adalah sebagai symbol bahwa para wanita mengenakan sesuatu yang menarik perhatian. Maka ketika ada wanita memakai pakaian yang berwarna-warni, menggunakan perhiasan yang tampak, maka ini sama maknanya bahwa memakai pakaian yang menarik perhatian sebagaimaan penjelasan para ulama. Adapun di antara makna (wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang) adalah wanita mengenakan pakaian ketat yang tipis sehingga tampak bagian dari tubuh, atau berpakaian namun terlihat aurat, atau berpakain lebar namun tipis. Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,
“Betapa banyak (wanita) di dunia masih mengenakan pakaian, tapi di akhirat akan telanjang.” (HR. Ahmad 6/297 no. 26587)
Semua hadits-hadits ini merupakan peringatakan bagi para wanita bahwa jangan sampai mereka menimbulkan fitnah bagi para laki-laki. Sesungguhnya jilbab dipakai untuk menghalangi fitnah, dan bukan untuk semakin menarik perhatian. Maka hendaknya para wanita berpakaian yang wajar. Kalaupun setelah berpakaian sewajarnya dan masih dilirik oleh laki-laki, maka yang demikian menjadi salah laki-laki karena tidak menundukkan pandangan.
Fitnah wanita terhadap laki-laki
Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya bahwa fitnah laki-laki terhdap wanita terbagi atas dua sisi. Sisi fitnah wanita yang pertama adalah menjerumuskan para laki-laki kepada kemaksiatan. Dan sebagaimana telah kita jelaskan bahwa ketika wanita keluar dari rumah-rumah mereka, maka syaithan akanmenghiasi mereka sebagaimana dalam janji para syaithan di dalam Alqruan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (maksiat) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr : 39)
Janji ini sungguh sangat menakjubkan. Dan benar bahwa pertama kali syaithan menjalankan janjinya adalah kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Sebagaimana kita ketahui bahwa ketika Nabi Adam ‘alaihissalam di surga, betapa banyak pohon yang dihalalkan baginya, dan hanya satu yang diharamkan. Namun kemudian syaithan menghiasi hal yang diharamkan bagi Nabi Adam ‘alaihissalam dengan iming-iming dan angan-angan semu, sehingga beliaupun akhirnya memakannya. Padahal betapa banyak buah-buah lezat lainnya yang dihalalkan bagi Nabi Adam ‘alaihissalam. Maka demikian halnya dengan maksiat, bisa jadi seorang laki-laki tertarik dengan seorang wanita, padahal mungkin istrinya jauh lebih cantik dan lebih bagus fisik dan perangainya daripada wanita tersebut. Namun demikianlah syaithan menghiasi kemaksiatan, sehingga wanita biasa menjadi luar biasa di mata paraa laki-laki, yang akhirnya mereka terjerumus ke dalam perzinahan. Ibnu Katsir dalam menafisrkan ayat ini menyebutkan bahwa syaithan akan membuat lelaki yang tidak melakukan kemaksiatan yang dihiasi oleh syaithan akan menjadi gelisah karena tidak bisa meraih hal tersebut.
Adapun sisi fitnah wanita yang kedua, adalah menghalangi laki-laki dari berbuat kebaikan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun : 14-15)
Para ulama menjelaskan bahwa maksud istri-istri dan anak-anak menjadi musuh bagi para laki-laki adalah mereka para istri dan anak-anak ada yang mengahalangi para laki-laki (suami) untuk berbuat kebaikan. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ada dua sebab turunnya ayat ini. Sebab yang pertama, ayat ini turun kepada Auf bin Malik yang setiap kali dia hendak pergi berperang, anak dan istrinya menangis, akhirnya kemudian dia tidak jadi pergi untuk berjihad. Sebab yang kedua, ayat ini turun kepada beberapa laki-laki beriman di kota Mekkah. Setiap kali mereka hendak pergi ke Madinah bertemu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mereka dihalangi oleh tangisan dan kesedihan istri dan anaknya. Sehingga akhirnya mereka batal untuk berangkat ke Madinah. Setelah beberapa waktu yang lama, hijrahlah mereka ke Madinah. Setelah mereka di Madinah, mereka dapati orangorang telah pandai dan paham agama, sedangkan dia merasa terlambat. Akhirnya marahlah ia kepada sitri dan anaknya yang biasa menghalanginya ketemu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kemudian mereka hendak menghukum istri dan anak-anak mereka. Maka kemudian Allah mengur mereka dengan ayat ini.
Ayat ini menjelaskan bahwa terkadang seorang istri menghalangi seorang suami untuk berbuat kebaikan. Contoh kecil, tatkala ada seorang suami hendak bersedekah dalam suatu pembangunan masjid atau pesantren, sang istri malah melarang suami dan memkntanya untuk terlebih dahulu membangun rumah mereka. Akhirnya seseorang terhalangi untuk bersedekah. Contoh lain adalah ketika seorang suami hendak bersilaturahim kepada saudaranya, kemudian istrinya melarangnya dengan alasan bahwa saudaranya sendiri tidak pernah bersilaturahim kepadanya. Akhirnya dia terhalangi dari pahala silaturahim. Maka yang demikian adalah fitnah tersendiri bagi seorang laki-laki. Adapun jika seorang laki-laki mendapatkan istri yang salihah, maka pasti sang istri akan senantiasa mendukungnya dan mengajak sang suami melakukan amal salih, dan istri yang seperti itu bukanlah musuh melaikan teman yang harus dipertahankan. Semoga Allah menganugerahkan kita semua istri-istri yang salihah.
Inilah dua sisi dimana fitnah wanita menyerang laki-laki. Terakhir kita sebutkan perkataan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah tatkala mengomentari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)
Ibnul Qayyim berkata tentang hadits ini,
“Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah. Setiap kelezatan yang membantu meraih kelezatan akhirat, maka yang demikian akan dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Maka pemilik kelezatan ini akan merasakan kelezatan dari dua sisi. Dari sisi dia merasakan kelezatan tersebut di dunia, mengatarkan dia merasakan kelezatan yang lebih sempurna. Inilah kelezatan yang seharusnya orang yang berakal berusaha untuk mendapatkannya.” (Raudhatul Muhibbin 1/158)
Kelezatan yang dimaksud adalah kelezatan memiliki istri salihah, yang jika seseorang memilikinya maka dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia sebelum mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Karena istri salihahlah yang akan membantu suami untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Maka hendaknya seseorang suami berusaha untuk senantiasa mendidik istrinya menjadi istri yang salihah.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































