Jadilah orang yang qona’ah, dan jauhilah membanding-bandingkan
Jadilah orang yang senantiasa mensyukuri apa yang dia miliki. Ketika seseorang memiliki rumah dengan ukuran 100 meter persegi atau kurang dari itu, maka nikmati dan syukuri apa yang Allah berikan. Dan jangan suka untuk membanding-bandingkan dengan kenikmatan orang lain.
Karena orang yang suka membanding-bandingkan, maka dia tidak akan pernah bisa bahagia dalam hal yang dia bandingkan. Dengan membanding-bandingkan juga akan membuat sedih hati. Maka mensyukuri apa yang telah Anda miliki itulah qona’ah.
Sifat membanding-bandingkan juga akan membuat diri kita menderita. Cobalah seorang suami membandingkan istrinya dengan wanita atau istri orang lain. Maka tatkala dia dapati ada wanita yang lebih cantik dari istrinya, maka pasti akan berkurang rasa cintanya kepada istrinya. Bahkan tatkala di rumahnya, dia mungkin akan lebih banyak marah kepada istrinya. Itu semua karena dia telah membandingkan istrinya dengan istri orang lain. Begitu pula ketika seorang ayah membandingkan kemampuan anaknya dengan anak orang lain, maka pasti dia akan menderita karena mendapatkan sesuatu selain dari apa yang dia harapkan. Oleh karenanya sifat membanding-bandingkan akan membuat hidup susah. Oleh karenanya Imam Syaf’i berkata dalam syairnya,
إذا كنت ما ذا قلب قنوع ** فأنت ومالك الدنيا سواء
“Jika engkau memiliki hati yang qona’ah, maka engkau dan raja-raja dunia saja”
Memang benar bahwa kebahagiaan itu datangnya dari Allah, akan tetapi kita bisa berusaha untuk bahagia dengan cara mengatur hati kita.
Terkadang ada dua orang yang dihadapkan dengan permasalahan yang sama, akan tetapi satu orang menghadapinya dengan emosi dan satunya lagi menghadapinya dengan tenang.
Oleh karenanya kebahagiaan itu adalah suatu yang bisa kita usahakan dengan cara mengatur hati kita untuk bisa qona’ah. Karena belum tentu seseorang jika hidup seperti dengan hidup orang yang dia bandingkan akan bahagia. Saya banyak melihat teman yang kaya dan memiliki perusahaan besar, akan tetapi dia pusing ketika harus membayarkan gaji pegawainya yang jumlahnya mencapai 10 Miliar.
Maka jangan mengira bahwa semua orang yang hidup lebih baik dari hidup kita itu bahagia. Betapa banyak orang kaya yang tidak menikmati kehidupannya. Dari pagi hingga malam dia disibukkan dengan mengejar dunia. Sangat sedikit waktu yang bisa dia nikmati dari hasil kerjanya.
Sementara mungkin seorang karyawan yang kerjanya hanya sampai siang atau sore, dia bisa bahagia dimalam hari dengan bertemu dan menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya. Oleh karena itu baik orang miskin maupun orang kaya, orang sibuk maupun tidak sibuk itu bisa bahagia, tergantung dari diri mereka untuk mengatur hati mereka.
Oleh karenanya jika seseorang ingin bahagia, milikilah sifat qona’ah dengan pemberian Allah Subhanahu wa ta’ala dan jangan membanding-bandingkan yang akan mendatangkan kesengsaraan.
Kuatkan hubungan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala
Kiat ini adalah kiat yang paling utama di antara semua kiat agar hidup lebih bermakna. Hendaknya seseorang senantiasa menguatkan hubungannya kepada Allah dengan cara berkhalwat kepada Allah pada ibadah-ibadah yang disyariatkan. Terkadang seseorang baru bisa merasa bahagia ketika dia bertemu dengan keluarga, kawan-kawan. Akan tetapi harus ada kebahagiaan baik itu diciptakan atau tidak tatkala kita sedang bersendirian dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Di antara ibadah-ibadah yang bisa dilakukan untuk menguatkan hubungan dengan Allah adalah shalat malam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda tatkala tiba di Madinah,
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, dan shalatlah di malam hari ketika orang-orang tidur, maka niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah no. 1334)
Kemudian contoh yang lain adalah ibadah I’tikaf. Ketika seseorang selama hampir setahu penuh sibuk dengan dunia, berinteraksi dengan manusia dan harta, maka jadikanlah 10 hari terakhir ramadhan untuk kita fokus berkhalwat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam waktu tersebut seseorang dapat mengisinya dengan membaca Alquran dan berdzikir tatkala sendirian, sehingga dia menangis tatkala mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan ini merupakan di antara tafsiran sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika menyebutkantujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan Nya. Di antara golongan tersebut kata nabi صلى الله عليه وسلم,
“Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah juga karenaNya.” (HR. Muslim no. 1031)
Makna seseorang yang bertemu karena Allah telah banyak diketahui maksudnya. Seperti pertemuan pengajian, pertemuan karena ingin memberi bantuan kepada korban bencana, pertemuan karena dakwah. Adapun berpisah karena Allah, di antara tafsirannya adalah seseorang terpaksa meninggalkan pertemuan dengan kawan karena dia harus berkhalwat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Tatkala kita bertemu dengan kawan, saling bertukar cerita, ada kebahagiaan yang kita rasakan.
Akan tetapi kita harus berpisah juga untuk mencari kebahagiaan dalam berkhalwat dengan Allah baik dengan shalat malam atau dengan ibadah yang lain.
Seseorang harus bisa menimbulkan kelezatan dalam hidupnya tatkala besendirian dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Harus ada waktu di mana seseorang berdua-duaan dengan Allah, tidak ada istri dan anak, orang tua, maupun kawan. Pada waktu itu seseorang shalat malam sendiri, baca Alquran sendiri, berdzikir dan mengingat dosa-dosa kepada Allah sendiri, dan mengingat keagungan Allah. Tatkala seseorang bisa menciptakan hal tersebut, maka dia akan bahagia. Oleh karenanya Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan bahwa seseorang harus menciptakan waktu untuk dia berkhalwat dengan Allah, karena waktu dia bersendirian di alam barzakh akan lebih banyak dari pada bersendiriannya di dunia. Maksudnya adalah ketika kita telah meninggal dunia, maka kita akan sendiri dan tidak ada yang menemani kita kecuali amalan saleh. Sehingga kalau kita terbiasa berkhalwat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia, maka kita akan tenang tatkala kita di alam barzakh karena sudah terbiasa.
Maka jika seseorang ingin agar hidupnya lebih bermakna, maka dia harus memiliki waktu untuk berkhalwat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan ini bisa dilakukan oleh seseorang setiap hari meskipun banyak orang di sekitarnya. Meskipun banyak orang di sekitarnya, namun seakan-akan dia sedang bersendirian. Ini merupakan di antara tafsiran hadits Nabi صلى الله عليه وسلم,
“Dan seseorang yang yang menetes air matanya saat berdzikir (mengingat Allah) dalam kesendirian (kesunyian).” (HR. Muslim no. 1031)
Maksudnya adalah dia bisa berkonsentrasi dan fokus dengan ibadah yang dia lakukan meskipun banyak orang di sekitarnya, sehingga seakan-akan hanya dia dan Allah di tempat tersebut.
Maka membangun hubungan dengan Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang bisa membuat kita berkhalwat dengan adalah hal yang sangat penting. Sampai surah Al-Muzzammil disebutkan oleh sebagian ulama sebagai (bekal seorang Da’i). Maksudnya adalahseorang Da’i harus bisa shalat malam, karena keesokan harinya dia akan menghadapi berbagai macam permasalahan ummat seperti ingin agar orang dapat hidayah, membantah syubhat, dan mengingatkan orang-orang dari kemungkaran.
Sedangkan seorang Da’i sendiri butuh akan iman. Maka jika seorang Da’i tidak menambah imannya di malam hari (dengan shalat malam), maka dia akan susah untuk memiliki energi untuk menghadapi itu semua. Adapun jika seorang da’i mengambil bekal di malam hari dengan shalat malam, sehingga bertambah imannya, maka keesokan harinya beban akan menjadi lebih ringan dalam dakwah yang dia emban. Demikian juga untuk berlindung pada perkara yang lainnya, karena di dunia ini sangat banyak godaan, ftnah, cobaan, maksiat. Maka dari itu seseorang berusaha untuk membiasakan dirinya untuk berkhalwat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































