Syariat tidak menganjurkan kita miskin dan meninggalkan mencari harta.
Ingatlah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman,
“Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash : 77)
Dunia itu harus ada, dan tidak mungkin kita bisa menuju akhirat tanpa melalui dunia. Dunia harus kita miliki sebagai sarana untuk menantarkan kita kepada akhirat.
Oleh karenanya terlalu banyak ayat yang menyebutkan tentang karunia Allah Subhanahu Wata’ala terhadap manusia dengan harta yang Allah anugerahkan kepada manusia. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 29)
Ayat ini menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala telah memberikan karunia dalam rangka untuk memuji dan
bersyukur kepada Allah Subhanahu awata. Maka jika sekiranya mengambil harta adalah sesuatu yang terhina, maka Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan memuji diriNya dengan menyebutkan karunia yang Dia berikan kepada manusia. Karena pemberian Allah Subhanahu Wata’ala kepada hambahambaNya adalah karunia.
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman,
“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”(QS. An-Nahl : 8)
Dan Allah Subhanahu Wata’ala melarang orang-orang yang mengharam-haramkan karunia Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’alaberfirman,
“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hambahamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf : 32)
Dijelaskan oleh para ulama di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimyah rahimahullah, bahwa seluruh harta dan nikmat yang Allah ciptakan asalnya untuk orang yang beriman. Mahfum mukhalaf dari ayat ini kata para ulama, bahwa harta dan kenikmatan itu pada dasarnya haram bagi orang kafir. Oleh karenanya setiap kenikmatan dan harta yang mereka cicipi di dunia ini akan diazab oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’alaberfirman,
“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik’.” (QS. Al-Ahqaf : 20)
Berbeda dengan orang yang beriman, Allah Subhanahu Wata’ala berikan kenikmatan dan tidak memberikan azab kelak di akhirat karena mereka telah menggunakannya di dunia dengan tepat. Adapun orang kafir, setiap nikmat yang mereka rasakan akan dibalas dengan azab karena kenikmatan yang mereka dapatkan digunakan untuk beribadah kepada selain Allah Subhanahu Wata’ala.
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wata’ala bahkan memerintahkan untuk mencari karnuianya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk :15)
Dari ayat ini semakin menegaskan bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak melarang seseorang mencari harta, melainkan sebagai motivasi seseorang untuk mencari harta. Hanya saja perlu untuk diingat bahwa kita akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman,
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranldan kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(QS. Al-Jum’ah : 10)
Dalam sebagian ayat yang lain, Allah Subhanahu Wata’ala seakan-akan memancing kita untuk berusaha mencari kenikmatannya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. AnNahl : 14)
Dalam ayat ini, kata (istikhraj) maknanya membutuhkan usaha. Sehingga ayat ini mengisyaratkan bahwa ada usaha dalam mencari karunia Allah Subhanahu Wata’ala. Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم mencela orang-orang yang meminta-minta. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dipikul di punggungnya, itu lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari no. 2074)
Bahkan dalam suatu hadits mekanjubkan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Imam Ahmad, dan Abu Daud, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Apabila hari kiamat hendak ditegakkan, dan di tangan seseorang masih terdapat fashilah, maka jika ia mampu menanamnya sebelum hari kiamat maka tanamlah.”
Ini adalah gambaran yang luar biasa dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang bagaimana agar seseorang senantiasa berusaha dan tidak pasrah.
Dari sini kita pahami bahwasanya tidak mengapa seseorang mencari harta, bahkan dalil-dali di atas merupakan dalil anjuran untuk berusaha. Terlebih lagi kalau harta yang kita miliki tersebut kita gunakan untuk dakwah di jalan Allah Subhanahu Wata’ala, pendidikan Islam, membangun masjid, dan sarana prasarana yang menunjang kegiatas umat Islam, maka tentu pahalanya sangat luar biasa.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah








































































