Adapun orang yang tidak bisa minum dari telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam secara umum ada tiga kelompok.
Orang Kafir
Orang kafir adalah golongan orang yang tidak dapat minum di telaga Nabi صلى الله عليه وسلم karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda,
“Susungguhnya aku menunggu kalian ditelagaku, siapa yang menuju telagaku akan minum, dan siapa yang meminumnya tak akan haus selama-lamanya.” (HR. Bukhari 8/120 no. 6583)
Sedangkan kita ketahui bahwa orang kafir akan masuk neraka dan pasti kehausan. Maka kesimpulannya adalah orang kafir atau orang yang murtad tidak akan minum dari telaga Nabi صلى الله عليه وسلم.
Ahli Bid’ah
Ahli bid’ah digolongkan kedalam golongan orang yang tidak akan minum dari telaga Nabi صلى الله عليه وسلم. Hal ini disebutkan oleh banyak para ulama, di antaranya yang menjelaskan adalah Al-Qurthubi dan yang lainnya bahwa ahli bid’ah yang dimaksud adalah para pelaku bid’ah besar.
Contohnya adalah Khawarij, Mu’tazilah, dan Syiah rafidhah. Mereka adalah para pelaku bid’ah besar dalam hal akidah. Dan para ulama menjelaskan bahwa mereka tidak akan minum dari telaga Nabi صلى الله عليه وسلم.
Orang-orang Zalim
Para ulama menyebutkan bahwa di antara golongan orang yang tidak akan minum dari telaga Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang melakukan kezaliman yang amat besar. Seperti para penguasa yang telah menzalimi ratusan ribu hingga ratusan juta rakyatnya. Adapun pelaku maksiat yang lebih kecil dari itu tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang melakukan kezaliman yang besar.
Oleh karenanya para ulama menggolongkan orang islam yang tidak akan minum di telaga Nabi صلى الله عليه وسلم adalah para pelaku dosa besar yaitu pelaku bid’ah dan penguasa yang zalim yang nereka semua sering merubah hukum-hukum Allah Subhanahu Wata’ala . Disebutkan dalam hadits bahwa tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم hendak menyambut mereka, ternyata mereka terhalangi untuk sampai ke telaga Nabi صلى الله عليه وسلم. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan,
“Mereka itu adalah dari golongan umatku”, lalu dikatakan kepada beliau; ‘Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu’.” (HR. Muslim 4/1793 no. 2290)
Dalam riwayat yang lain Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan,
“Ketahuilah! Ada beberapa orang akan dihalang-halangi mendatangi telagaku sebagaimana unta hilang yang dihalang-halangi. Aku berseru kepada mereka: ‘Kemarilah!’. Lalu dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya mereka telah mengganti (ajaranmu) setelahmu’.” (HR. Muslim 1/218 no. 249)
Para ulama menafsirkan bahwa maksud dari mengganti dalam hadits ini dengan dua penafsiran yaitu orang mengganti hukumhukum Allah, atau mengganti sunnah-sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dengan bid’ah yang mereka lakukan.Dan ini juga menjadi dalil bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم tidak tahu apa yang terjadi setelah beliau meninggal dunia. Sebagaimana perkataan Allah kepada Nabi bahwa beliau tidak tahu tentang perkara yang diperbuat sahabat atau umatnya setelah beliau meninggal dunia. Dan ini adalah dalil yang sangat jelas. Maka tidak benar perkataan sebagian orang bahwa pada zaman ini Nabi صلى الله عليه وسلم keluar dari kuburnya dan berjalan mengunjungi salah seorang Habaib sebagaimana yang tersebar di Youtube.
Jangankan setelah beliau meninggal dunia, tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam masih hiduppun, beliau tidak tahu apa yang terjadi jika hal tersebut diluar jangkauannya. Buktinya adalah tatkala kalung ‘Aisyah hilang beliau tidak tahu keberadaan kalung tersebut. Sampai-sampai Nabi صلى الله عليه وسلم meminta bantuan para sahabat untuk mencarinya semalam suntuk, akan tetapi belum juga ketemu. Tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم sudah memerintahkan untuk pergi, barulah ketahuan bahwa Kalung tersebut ditindihi oleh unta. Kemudian juga tatkala ‘Aisyah dituduh berzina dengan Sofwan bin Al Mu’aththol as-Sulamiy oleh orang-orang munafik yang karena mereka terlambat masuk ke kota Madinah. Waktu itu Nabi صلى الله عليه وسلم tidak tahu dan tidak mengerti apa yang terjadi. Sampai akhirnya Allah turunkan sekitar sepuluh ayat lebih yang menjelaskan bahwa tuduhan terhadap ‘Aisyah itu tidak benar. Kalau saja Allah tidak memberitahukan hal tersebut kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, maka pasti beliau tidak akan tahu selama-lamanya. Lihat pula bagaimana Nabi Isa ‘alaihissalam yang masih hidup, namun tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala tatkala berkata kepada Nabi Isa ‘alaihissalam pada hari kiamat,
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (mengangkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah 116-117)
Ketahuilah bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam sendiri tidak mengetahui apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani setelah beliau diangkat ke langit oleh Allah Subhanahu Wata’ala, padahal beliau belum meninggal. Maka bagaimana mungkin Nabi صلى الله عليه وسلم bisa mengetahui hal-hal yang terjadi setelah beliau meninggal? Maka ini dalil bahwa Nabi tidak mengetahui perbuatan kaumnya setelah sepeninggal beliau.
Perlu untuk diketahui bahwa ada orang-orang yang mengingkari telaga Nabi صلى الله عليه وسلم. Di antaranya adalah orang-orang Mu’tazilah. Mereka sebenarnya tidak mengingkari adanya telaga, akan tetapi mereka mengingkari gambaran yang Nabi صلى الله عليه وسلم kabarkan tentang telaga tersebut dalam hadits-hadits. Namun demikianlah orang-orang mu’tazilah, mereka sering menolak hadits-hadits dengan alasan hadits tersebut adalah hadits ahad. Padahal hadits tersebut adalah hadits yang mutawatir.
Contohnya adalah tokoh mu’tazilah yaitu al-Qadhi Abdul Jabbar dalam kitabnya Syarh Ushul Khamsah yang mengatakan bahwasanya Allah tidak bisa dilihat pada hari kiamat, adapun hadits yang mengatakan bahwa seseorang dapat melihat Allah pada hari kiamat adalah hadits ahad, dan hadits ahad adalah dho’if dan tidak dapat diterima. Padahal hadits-hadits tentang hal tersebut adalah hadits mutawatir, karena diriwayatkan sampai 50 sahabat, dan bahkan ada yang mengatakan sampai 80 sahabat. Sampai dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Ubaidillah bin Ziyad mendatangi Abu Barzah dan berkata,
“Sesungguhnya aku datang kepadamu untuk bertanya perihal telaga, aku pernah mendengar Muhammad صلى الله عليه وسلم menyebut-nyebut tentnag itu.” Abu Barzah menjawab, ‘Benar, tidak hanya satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali atau lima kali. Maka siapa saja yang mendustainya, Allah tidak akan memberinya minum’. Lalu ia (Abu Barzah) keluar dengan marah.” (HR. Abu Daud 4/238 no. 4749)
Ini menambah keyakinan kita bahwa seringnya Nabi صلى الله عليه وسلم mengulang-ulang berita tentang telaganya, membuktikan akan kebenaran telaga tersebut.
Oleh karenanya Anas bin Malik berkata,
“Sungguh aku mendapati nenek-nenek (orang tua) di Madinah, tidaklah mereka shalat kecuali mereka berdoa agar mereka termasuk di antara orang-orang yang menhampiri telaga Nabi صلى الله عليه وسلم.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim 2/321 no. 698)
Maka dari itu berita telaga Nabi صلى الله عليه وسلم adalah berita yang mahsyur dan dikenal oleh banyak orang sampai orang tua di Madinah sekalipun.
Maka di antara hal-hal yang bisa kita lakukan agar kita bisa lebih mudah untuk menghampiri telaga Nabi صلى الله عليه وسلم sebagaimana perkataan para ulama adalah;
Hendaknya menjaga wudhu
Hal ini sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم tatkala beliau ditanya oleh para sahabat bahwa apakah mereka dikenali pada saat itu, maka Nabi صلى الله عليه وسلم berkata
“Ya, aku mengenali kalian. Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat yang lain. Kalian menemuiku dalam keadaan putih bersinar karena bekas air wudhu.” (HR. Muslim 1/217 no. 247)
Oleh karena itu hendaknya seseorang melatih diri untuk menjaga wudhunya. Setiap kali wudhunya batal, dia berusaha untuk memperbaharuinya kembali.
Sabar terhadap sikap pemerintah yang zalim yang mengambil harta untuk mereka sendiri
Hal ini sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم
“Sungguh sepeninggalku nanti kalian akan melihat banyak perkara yang sangat berat. Maka dari itu bersabarlah hingga kalian berjumpa dengan Allah dan RasulNya Shallallahu ‘alaihiwasallam di telaga alHaudh.” (HR. Bukhari 4/94 no. 3147)
Kata أثرة artinya adalah sifat sebagian pemimpin yang mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri dan tidak memperdulikan rakyatnya.
Maka di antara akidah Ahlussunnah adalah tidak boleh memberontak kepada pemerintah selama mereka masih seorang muslim, meskipun mereka berbuat zalim. Karena islam lebih memandang kepada kemaslahatan. Sedangkan pemberontakan hanya akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar dan bahkan sampai pada pertumpahan darah. Oleh karenanya Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan untuk kita bersabar. Adapun jika kita ingin mengadakan perubahan, maka lakukanlah dengan cara yang baik dan sesuai syariat, dan bukan dengan cara pemberontakan. Jangan sampai gara-gara seseorang terlalu emosional, sehingga menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Akhirnya orang-orang kafir senang melihat kerusakan yang terjadi. Maka jika seseorang ingin merubah sesuatu, maka dibolehkan dengan syarat sikanya harus sesuai syariat dan cara yang benar.
Kemudian tatkala kita menemukan pemimpin yang zalim, maka kita sebagai rakyatpun tidak boleh mendukung mereka dalam perbuatan zalim mereka. Sebagaimana kita tidak boleh memberontak, maka tidak bolehpun seseorang untuk mendukung. Hal ini sebagaimana perkataan Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Ka’ab bin ‘Ajrah,
“Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliallahu’anhu) bertanya, apa itu kepemerintahan orang bodoh? (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). bersabda: “Yaitu para pemimpin negara sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku.”(HR. Ahmad 3/321 no. 14481)
Maka ketika pemerintah memerintahkan kepada maksiat, maka wajib bagi seseorang untuk tidak taat. Karena Nabi صلى الله عليه وسلمmengatakan,
“Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan hanya boleh pada perkara yang baik.” (HR. Abu Daud 3/40no. 2625)
Namun bukan berarti ketika pemerintah melakukan kemungkaran, kita boleh melakukan pemberontakan. Akan tetapi yang kita lakukan adalah memberikan nasihat. Karena Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan,
“Sesungguhnya agama itu adalag nasihat, Sesungguhnya agama itu adalah nasihat, Sesungguhnya agama itu adalag nasihat.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagi siapa?” Beliau menjawab, ” Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, pemimpin kaum mukminin dan orangorang awan (rakyat) mereka.” (HR. Abu Daud 4/286 no. 4944)
Jangan berbuat bid’ah
Sebagaimana perkataan Ibnu Abdil Bar seorang ulama besar dari mazhab Maliki,
“Setiap orang yang melakukan perkara bid’ah dalam agama, dia termasuk orang yang terusir dari twlaga Nabi صلى الله عليه وسلم seperti orang-orang khawarij, dan rafidhah, dan orang-orang pengikut hawa nafsu, dan demikian pula orang-orang zalim yang berlebih-lebihan dalam kezalimannya, dan orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara rerang-terangan.”
Dan kita bersyukur bahwa banyak dari kaum muslim tidak seperti demikian. Memang benar bahwa kita masih bermaksiat, akan tetapi kita masih malu menampakkannya dihadapan orang-orang. Semoga Allah memaafkan dosa-dosa kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang akan minum dari telaga Nabi صلى الله عليه وسلم.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah
















































































