Para sahabat belajar al-Qur an dengan cara lain dari yang lain, keinginan mereka bukan menambah surat dan menumpuk hafalan, akan tetapi keinginan mereka adalah mengamalkan dan menerapkan, sebagaimana Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Jika kami belajar sepuluh ayat dari Nabi Allah , maka kami tidak belajar sepuluh ayat berikutnya sebelum kami belajar apa isinya. syarik ditanya, “Apakah maksudnya amal?” Dia menjawab, “Ya.”
Abu Abdurrahman as-Sulami berkata, “Sesungguhnya kami menerima al-Qur’an dari suatu kaum yang memberi tahu kami bahwa jika mereka belajar sepuluh ayat, mereka tidak belajar sepuluh ayat berikutnya sebelum mereka mengetahui kandungan amalnya.” Dia berkata, “Maka kami belajar ilmu dan amal sekaligus, Sesungguhnya al-Qur’an akan diwarisi oleh suatu kaum sesudah kami, mereka meminumnya laiknya mereka minum air dan tidak melewati ini” Dia menunjuk ke tenggorokannya, (Fadha i1 al-Qur ‘an, karya al-Firyabi).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia berkata, “Kami generasi pertama umat ini, seorang laki-laki dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang terbaik, dia hanya memiliki sebuah surat dari al-Qur’an atau mendekati itu. AI-Qur’ an adalah sesuatu yang berat bagi mereka, namun mereka dibimbing untuk mengamalkannya, dan sesungguhnya akhir dari umat ini, al-Qur’an diringankan bagi mereka, sehingga anak-anak dan orang non Arab membacanya namun tidak mengamalkannya.” (Akhilaq Hamalah al-Qur an).
Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu memberi tahu bahwa pengaruh al-Qur’ an terhadap seseorang tidak terwujud kecuali dengan iman, karena imanlah yang menggerakkan hati untuk mengamalkan al-Qur’ an. Beliau berkata, “Sungguh kami telah hidup beberapa waktu dari usia kami dan sesungguhnya seseorang dari kami diberi iman sebelum al-Qur’ an, sebuah surat turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka kami mempelajari halal dan haramnya, perintah dan larangannya, dan apa yang patut bagi kami untuk kami perhatikan darinya, sebagaimana kalian mempelajari al-Qur’ an di hari ini, kemudian sungguh aku melihat orang-orang yang seseorang dari mereka diberi al-Qur’ an sebelum iman, maka dia membaca ayat al-Qur’ an mulai darí awalnya hingga akhirnya, tetapi dia tidak mengetahui apa perintah dan larangannya, apa yang patut baginya untuk diperhatikan, dia menebarnya seperti menebar kurma buruk.” (Al-Mustadrak).
Di antara petunjuk atas metodologi kehati-hatian dalam menerima al-Qur an iní adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa dia berkata, “Umar bin al-Khaththab belajar Surat al-Baqarah selama dua belas tahun, manakala dia menyelesaikannya, dia menyembelih seekor unta”
Mereka menyukai ketenangan dan kehati-hatian dalam membaca al-Qur an agar mereka bisa merenungkannya dan menimba makna-makna dan hukum-hukumnya.
Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu ditanya, “Bagaimana pendapatmu terkait membaca al-Qur’ an dalam seminggu?” Dia menjawab, “Bagus, namun aku lebih suka membacanya dalam setengah bulan atau dua puluh hari. Bertanyalah kepadaku mengapa demikian?” Penanya berkata, “Aku memang ingin bertanya demikian.” Zaid menjawab, “Agar aku bisa merenungkannya dan memahaminya.”
Dalam sebuah riwayat, Zaid berkata, Aku lebih suka membaca al-Qur an dalam sebulan daripada membacanya dalam lima belas hari, dan membaca al-Qur an dalam lima belas hari lebih aku sukai daripada membacanya dalam sepuluh hari, dan membaca al-Qur an dalam sepuluh hari lebih aku sukai daripada membacanya dalam tujuh hari, dan membaca al-Qur’an dalam tujuh hari lebih aku sukai daripada membacanya dalam tiga hari, aku berhenti pada apa yang sepatutnya aku berhenti padanya, aku berdoa, memohon perlindungan dan meminta kepada Allah.” (Mukhtashar Qiyam al-Lail, karya al-Marwazi).
Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, “Sesungguhnya aku membaca al-Qur’ an dengan cepat, aku membacanya dalam tiga hari.” Ibnu Abbas menjawab, “Aku lebih suka membaca al-Baqarah dalam semalam sambil merenungkannya dan membacanya dengan tartil daripada membaca al-Qur’ an sebagaimana yang kamu katakan.”(Mukhtashar Qiyam al-Lail, karya al-Marwazi).
Mereka melarang tergesa-gesa dalam membaca al-Qur’an, karena dikhawatirkan hal itu dapat melenyapkan tadabur dan proses pengambilan pelajaran yang merupakan tujuan yang paling utama dari membaca. Tbnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Jangan menebarnya laiknya menebar kurma yang jelek, jangan membaca al-Qur’an dengan cepat seperti membaca syair, berhentilah pada sisi-sisi ajaibnya, gugahlah hati dengannya dan janganlah keinginan seseorang dari kalian adalah akhir surat.”
lbnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu memperingatkan sikap tidak mengamalkan al-Qur’an, beliau berkata, “Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, maka jadikanlah kajian al-Qur’an sebagai amal. Sesungguhnya seseorang di antara kalian membaca al-Qur’ an dari awal hingga akhir tanpa ada satu huruf pun yang tercecer, namun dia menelantarkan pengamalannya.” (Al-Muharrar al-Wajiz).
*************
📚 Sumber : Agar Al-Qur’an Membekas Dalam Dirimu, Prof. Dr. Ahmad al-Masyad dan Prof. Dr. Adil asy-syady, hal 29, cetakan Darul Haq
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=_5TgXLz6ObMQ7kNvwEs9wzU&_nc_oc=Adp0uphAg7OvUt80Hs3vKteLeVeTjaFnjK6WZbDqwqB-DtjKcGj3uduyn63I0nLvGZc&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=eJMfZvjy-igPxC8flUpcbQ&_nc_tpa=Q5bMBQJjUxjB732PQGjbknIRWbfQmCnxQIZsH7ZAo_x20PVt2PUGhox8JfRr4NIQUAqLoF7whDYypZPB&oh=00_AQGFtAX0-8DdW9O73IDZv8xY8Iav5o2EsFXs7JUFPyMFMQ&oe=6A8C5076)



