Manusia paling besar yang terpengaruh oleh al-Qur’ an adalah Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bagaimana tidak demikian, sedangkan beliau adalah manusia yang Allah pilih di antara makhluk-makhlukNya untuk menerima al-Qur’ an? Allah Subhanahu Wata’ala memberi tahu beratnya tugas ini, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.” (Al-Muzzammil: 5).
Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan keagungan al- Qur ‘an. Allah Ta’ala berfirman,
“Sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (Al-Hasyr: 21).
Sekalipun demikian, Allah menurunkan al-Qur’ an ke dalam hati kekasih dan manusia pilihan Allah, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , hal ini menunjukkan kekhusyu’an dan kebersihan hati beliau serta pengaruh al-Qur’ an yang sem purna terhadap diri beliau.
Di antara petunjuk yang membuktikan pengaruh al-Qur’ an terhadap Nabi adalah bahwa beliau meresapi keagungan al-Qur an dan menangis manakala mendengar bacaan al-Qur’an. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu,
“Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku membacakannya kepadamu sedangkan ia diturunkan kepadamu?” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku ingin mendengarnya dari orang lain.” Ibnu Mas’ud berkata, “Maka aku membacakan Surat an-Nisa kepada beliau, hingga aku sampai pada ayat ini, ‘Dan bagaimanakah (keadaan) manusia, apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka? (An-Nisa’: 41). Maka beliau bersabda, ‘Cukup sekarang’.” Ibnu Mas’ud berkata, “Aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata.” ( Muttafaq ‘alaih.)
Di antara bentuk pengaruh al-Qur’an terhadap diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika di Bulan Ramadhan manakala Jibril datang menemui beliau, Jibril datang setiap malam di Bulan Ramadhan untuk tadarus al-Qur an dengan beliau, maka sungguh Rasulullah ketika bertemu Jibril beliau lebih dernawan dibandingkan angin yang berhembus.” (Muttafaq ‘alaih.)
Ini merupakan petunjuk bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terpengaruh oleh al-Qur an setelah melakukan tadarus al-Qur’ an dengan Jibril dan ia membuahkan peningkatan dalam kedermawanan, pemberian, dan infak di jalan Allah Subhanahu Wata’ala.
Di antara bentuk pengaruh al-Qur’ an terhadap diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah apa yang Abdullah bin Amr bin al-Ash s riwayatkan, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca Firman Allah tentang Ibrahim ‘Alaihi Salam , ‘Wahai Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya dia termasuk golonganku.’ (lbrahim:36), dan ucapan Isa ‘Alaihi Salam, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’ (Al-Ma idah: 118), maka beliau mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, ‘Ya Allah, umatku, umatku. Beliau menangis, maka Allah berfirman, ‘Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad-dan Tuhanmu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya apa yang membuatnya menangis ?” Maka Jibril mendatangi beliau, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan apa yang beliau katakan dan Dia lebih mengetahui, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, ‘Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakan kepadanya,
Sesungguhnya Kami akan membuatmu rela pada umatmu dan tidak akan mengecewakanmu’ “Diriwayatkan oleh Muslim.
Betapa agungnya pengaruh al-Qur’ an pada beliau, sehingga kekhawatiran beliau terhadap diri, keluarga, dan kerabat merambah kepada kekhawatiran terhadap umat beliau seluruhnya hingga Hari Kiamat.
Di mana kita dari pengaruh al-Qur’ an ini dan di mana kita dari tadabur al-Qur’an ini?
Di antara bentuk pengaruh al-Qur’ an terhadap Nabi adalah bahwa akhlak beliau sejalan dengan apa yang ada dalam al-Qur an, hingga manakala Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia menjawab, “Bukankah kamu membaca al-QuMuslim.
Dia menjawab, “Ya.” Aisyah menjawab, ” Sesungguhnya akhlak Nabi Allah Subhanahu Wata’ala adalah Al-Qur’an. ” Diriwayatkan oleh Muslim.
Tidak diragukan lagi jika manhaj yangg sarat keberkahan dalam mempelajari al-Qur’an ini membuahkan keadaan-keadaan yang agung dan sikap-sikap yang senantiasa dalam urusan terpengaruh oleh al-Qur an dan pengamalan terhadapnya, berhenti pada batasan-batasannya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
Di antara bentuk terpengaruh oleh al-Qur’an adalah bahwa mereka menangis manakala membacanya. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu mendirikan masjid di halaman rumahnya, disana dia shalat dan membaca al-Qur an, lalu kaum wanita dan anak-anak kaum musyrikin datang berkumpul kepadanya, mereka melihatnya dan takjub kepadanya, Abu Bakar adalah laki-laki yang mudah menangis, dia tidak kuasa menahan air matanya manakala membaca al-Qur’ an.
Dari al-Hasan, dia berkata, “Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu membaca satu ayat dalam wiridnya yang membuatnya ketakutan, maka dia menangis sampai jatuh, dia tidak keluar rumah sehari dan dua hari, hingga dia dijenguk karena diduga sakit.”
Abdullah bin Syaddad berkata, “Aku mendengar suara tangisan Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu padahal aku berada di shaf paling akhir manakala dia membaca Surat Yusuf, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”(Yusuf: 86).”
Jika Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu membaca Firman Allah Subhanahu Wata’ala, “Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayanmu (selingga berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahanmulia. ” (Al-Infithar: 6)
Maka dia berkata, “Maksudnya adalah kebodohan.” Dan dia menangis.
Dan jika dia membaca Firman Allah Subhanahu Wata’ala “Maka patutkah kalian menjadikan ia dan keturunannya sebagai penolong-penolong selain dariKu, padahal mereka adalah musuh kalian?” (Al-Kahfi: 50),
dia pun menangis. (Syu’ab al-Imam).
Mereka adalah orang-orang yang berhenti pada petunjuk Kitab Allah, mereka tidak akan melampauinya sekalipun dalam keadaan dikuasai oleh amarah. Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu menafkahi Misthah bin Utsatsah, kerabatnya yang fakir, [lalu Misthah terlibat dalam fitnah dusta terhadap Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ] maka Abu Bakar ash-Shiddiq bersumpah mencabut nafkahnya darinya, maka turunlah Firman Allah ,
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampunm kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22).
Abu Bakar berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku ingin Allah mengampuniku.” Maka Abu Bakar kembali memberi nafkah kepada Misthah sebagaimana biasa dan dia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pernah mencabutnya darinya selama-lamanya.
Al-Hur bin Qais nmeminta izin untuk pamannya, Uyainah bin Hishn agar bisa menghadap Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, maka Umar memperkenankannya, dan tatkala dia masuk menemui Umar, dia berkata, “Wahai anak al-Khaththab! Demi Allah, kamu tidak memberi kami pemberian yang banyak dan kamu tidak memutuskan perkara di antara kami dengan adil.” Maka Umar marah hingga mau menghajarnya. Maka al-Hurr berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada Nabinya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, : ” Peganglah sikap memaafkan, dan suruhlah (orang nengerjakan) yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil. (Qs.Al-A’raf : 199).
Dan sesungguhnya dia ini termasuk orang-orang yang jahil.”
Perawi berkata, “Demi Allah, Umar tidak melangkahi ayat ini ketika al-Hurr membacakannya. Dan umar adalah orang yang selalu memperhatikan rambu-rambu kitab Allah Subhanahu Wata’ala.
Lalu datang para tabi’in dan orang-orang sesudah mereka dari kalangan salaf umat ini, mereka berjalan di atas manhaj yang sama yang telah dilalui oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , manhaj yang para sahabat menerimanya dari Nabi mereka Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam merenungkan al-Qur’ an, terpengaruh oleh al-Qur’ an, takut terhadap ancamannya, mengamalkan hukum-hukumnya, dan berhenti pada batasan-batasannya. Abu al-Aliyah berkata, “Kami memandang termasuk dosa yang paling besar, seorang laki-laki belajar al-Qur’an kemudian tidur dan tidak membaca apa pun darinya.” (Az-Zuhd, karya Imam Ahmad).
Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata, “Barangsiapa yang al-Qur’an ini sampai kepadanya, maka seolah-olah Allah berbircara kepadanya, maka hendaknya dia membacanya sebagaimana seorang hamba sahaya membaca surat majikannya yang dia tulis kepadanya agar dia merenungkannya dan mengamalkan tuntutannya.” (Mau’izhah al-Mu’minin).
Abu Imran al-Jauni berkata, “Demi Allah, sungguh Tuhan kita telah mejelaskan kepada kita dalam al-Qur’an apa-apa yang seandainya Dia menjelaskannya kepada gunung-gunung, niscaya ia menghancurkan-nya berkeping-keping dan membuatnya rata dengan tanah.”
Di antara bentuk pengamalan mereka terhadap al-Qur’ an adalah apa yang Urwan bin az-Zubair lakukan di masa datangnya musim kurma masak, dia membuka kebun-nya dan mengundang orang-orang, maka mereka masuk, lalu makan dan membawa pulang kurma masak, termasuk orang-orang pedalaman yang singgah di sekitarnya, mereka juga ikut masuk, makan, dan membawa kurma masak, jika dia memasuki kebunnya, dia membaca ayat ini berulang-ulang, “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Masya Allah, la quwwata illa billah’ (Sungguh atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tiada kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah) ?”(Al-Kahfi: 39),
hingga dia keluar dari kebun.
*************
📚 Sumber : Agar Al-Qur’an Membekas Dalam Dirimu, Prof. Dr. Ahmad al-Masyad dan Prof. Dr. Adil asy-syady, hal 21, cetakan Darul Haq
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah












































































