“Apa yang membuatmu merasa aman sehingga engkau berani terang-terangan mengerjakan amalan yang membuat Allah murka kepadamu.”Fudhail bin Iyadh.
Suatu ketika Fudhail bin Iyadh melihat beberapa ahli hadits sedang bergurau dan tertawa, maka beliau menyeru mereka, “Cukup, wahai para pewaris Nabi! Berhati-hatilah karena kalian adalah para imam yang diikuti.”
Salah satu akhlak mulia yang setiap muslim wajib menghiasi diri dengannya dan dididik di atasnya adalah sifat waqar (tenang). Itulah manifestasi sifat yang dihasilkan dari berhias dengan sekumpulan akhlak-akhlak mulia yang lain, seperti tidak mudah marah, ketenangan, kehati-hatian dan keteguhan.
Al-Jahidh mendefinisikan sifat waqar ini dengan menahan diri dari banyak bicara, bermain-main, banyak membuat isyarat dan gerakan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Ia juga berarti sedikit marah, tidak suka mencari tahu, tidak tergesa-gesa dan bersegera dalam segala urusan.
Islam sangat menganjurkan kaum mukminin untuk menghiasi diri dengan sifat waqar (tenang), sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan kita bersikap begitu dalam sabdanya, “Apabila ditegakkan shalat maka janganlah salah seorang dari kalian mendatanginyn dengan berlari, akan tetapi hendaklah dia berjalan dengan tenang. Kerjakan apa yang engkau dapati dari gerakan shalat lalu sempurnakan apa yang tertinggal.” (HR. Muslim)
Apabila umat Islam secara umum diperintahkan untuk berlaku tenang maka lebih lagi bagi mereka yang mengemban kewajiban dakwah. Hendaknya mereka menghiasi diri dengannya dan menjadikannya sebagai sifat utama yang dengannya mereka dikenal. Generasi tabi’in mempunyai banyak perbendaharaan sikap tarbiyah yang agung untuk mendidik diri mereka dan pengikut mereka agar bersikap sopan:
Imam AI-Auza’i
Diriwayatkan dari Musa bin A’yun, dia berkata, “Imam Auza’i berkata kepadaku, ‘Abu Said, dahulu kita suka bergurau dan tertawa, namun setelah kita mendapat petunjuk maka aku tidak memandang ada peluang bagi kita untuk tersenyum’.”
Bukan berarti tersenyum itu haram hukumnya. Sama sekali tidak, akan tetapi karena da’i dan pendidik adalah teladan bagi manusia. Dia adalah pemimpin, panglima dan pembawa panji, sehingga terkadang sesuatu yang hukumnya mubah bagi orang-orang namun bagi dirinya adalah tidak patut dikerjakan. Memang, setiap orang memiliki hak menghibur diri dengan hiburan-hiburan yang mubah, namun tidak demikian halnya bagi da’i dan pendidik karena dengannya terkadang akan sirna kewibawaannya, hilang sifat waqarnya, dan jatuh wibawanya di mata orang-orang yang menghormatinya.
Masih terngiang seruan Fudhail bin lyadh kepada mereka yang berkiprah di dalam medan dakwah dari para thalibul ilmi, “Cukup, wahai para pewaris Nabi. Berhati-hatilah karena kalian adalah para imam yang diikuti.”
Wahai para pembawa panji, wahai para pemuda shahwah islamiyah, wahai para pendidik, berhati-hatilah terhadap setiap ucapan atau perbuatan yang menghilangkan kewibawaanmu karena engkau adalah imam yang diikuti. Berhati-hatilah, wahai para dai karena kalian adalah para imam yang diikuti. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk begadang dan bergurau sehingga kewibawaan kita hilang dari mata orang-orang
Fudhail bin Iyadh
Tatkala Fudhail mendengar salah seorang muridnya tertawa di dalam majelisnya maka dia mengingatkan, “Apa yang membuatmu merasa aman sehingga engkau berani terang-terangan mengerjakan amalan yang membuat Allah murka kepadamu dan tertutup pintu ampun bagimu sedang engkau tertawa. Bagaimana engkau melihat keadaanmu?”
Demikianlah para tabi’in dalam mendidik murid mereka. Mereka tidak membiarkan suatu peristiwa tanpa diiringi pelajaran yang berharga karena mereka adalah para pencetak da’i. Adapun kita hari ini, adalah para pembangun di waktu mendung bergumpal di langit.
Diriwayatkan dari Hasan bin Abdul Wahab bin Hakam Al-Waraq, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat ayahku tertawa kecuali hanya tersenyum, dan aku tidak pernah melihatrnya bergurau. Suatu saat dia melihatku tertawa bersama ibuku, maka dia berkata kepadaku, “Seorang pembawa Al-Qur’an tertawa seperti ini?”
Termasuk sifat waqar, kalau seseorang menghormati dirinya sendiri ketika sedang sendirian. Oleh karena itu, salah seorang salaf berkata, “Barang siapa yang sedang sendirian mengerjakan amalan yang dia malu kalau ia mengerjakannya di depan orang maka dia tidak menghargai dirinya sedikit pun.”
Orang yang hendak menghias diri dengan akhlak waqar, terlebih dahulu ia harus mengagungkan Allah dalam hatinya. Dengan begitu, orang lain pun akan menghormatinya. Jangan lupa wasiat imam Ibnu Al-Qayim Rahimahullah, seakan-akan beliau mengarahkan jarinya kepada kita tatkala berkata, “Sesungguhnya kezaliman dan kebodohan yang paling besar apabila engkau mencari pengagungan dan penghormatan dari manusia sedang hatimu kosong dari mengagungkan dan menghornmati Allah. Mengapa engkau menghormati makhluk dan mengagungkannya agar dia juga berbuat demikian kepadamu sedang engkau tidak mengagungkan Allah agar Dia berbuat demikian kepadamu. Allah Ta’ala berfirman, “Mengapa engkau tidak percaya akan kebesaran Allah? “(Nuh: 13). Maksudnya, mengapa engkau tidak bersikap kepada Allah dengan sikap kepada siapa yang engkau agungkan?”
Termasuk mengagungkan Allah adalah mengagungkan kalam-Nya (Al-Qur’an). “Begitu pula malu, bahwa Dia selalu melihat apa yang orang rahasiakan sendiri dan apa yang ada dalam hatinya sehingga mengetahui di dalamnya apa yang dibenci, serta malu terhadap-Nya tatkala sendiri lebih dari malunya kepada pembesar manusia.”
Barang siapa yang tidak mengagungkan Allah di dalam hati dan sikapnya, “Maka Allah tidak akan menaruh di dalam hati manusia rasa hormat dan wibawa kepadanya, bahkan menghapus dari hati mereka.”
Termasuk manifestasi sikap waqar adalah penampilan yang baik. Ini sangat penting sekali bagi para pendidik yang diteladani. Sebab, apresiasi dan wajah yang berseri, memerhatikan hal-hal fitrah yang dianjurkan, serta menjaga penampilan yang baik dan rapi tanpa dipaksakan itu lebih bisa memberikan pengaruh kepada hati orang sehingga lebih mudah untuk diterima dan lebih bisa memberikan kewibawaan, kecintaan dan rasa hormat.
Saudaraku, begitulah bentuk tarbiyah yang diterapkan oleh para tabi’in dalam mentarbiyah ruhiyah mereka. Mereka tidak membiarkan suatu peristiwa tanpa diiringi pelajaran yang berharga karena mereka adalah para pencetak da’i. Adapun kita hari ini, merasa nyaman dengan kelalaian, menikmatinya hingga akhirnya waktu berlalu begitu cepat tanpa meninggalkan satupun pelajaran yang berharga. Kita memohon kepada Allah agar berkenan memberikan kepada kita perhiasan iman dan menghiasi kita dengan sikap waqar.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 168-172
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=w_jB6kKQkq0Q7kNvwFZxPaO&_nc_oc=AdpQdcjzCaUi-RsvKtTkbmWl1lcOPKeQvmHowj2hd0zVSeU9Gpf3bo58Elp4J8OHYfE&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=dAciT_xRWJEIFtYcP2_0jw&_nc_tpa=Q5bMBQIeSWMRx0zlTufs4uuPRErN-Ld6-Bh2U3sYOCh-uapq2GDAovuGlKY76tZ-wX52b0F0Vry_coKC&oh=00_AQFKybbT8GMUbZhSoqFnfPK2WqWCTehnaccsvq0diAWvJA&oe=6A92E7F6)


