Tatkala Bilal, Khabbab, dan para sahabat lainnya disiksa, Nabi صلى الله عليه وسلم tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga tatkala di Mekkah, Nabi صلى الله عليه وسلم tidak bisa berjihad dengan pedang, akan tetapi Allah memerintahkan Nabi صلى الله عليه وسلم berjihad dengan ilmu yaitu Alquran.
Bahkan dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa berjihad dengan ilmu sebagai jihad yang besar. Oleh karenanya ayat di atas merupakan dalil bahwa menuntut ilmu dan berdakwah dengan ilmu adalah jihad di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Oleh karenanya datang dalam beberapa hadits, salah satunya adalah tentang keutamaan Masjid Nabawi. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Barangsiapa yang datang kepada masjidku (masjid nabawi) ini, dia tidak datang selain untuk kebaikan yang dia pelajari atau dia ajarkan, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangisapa mendatanginya untuk selain itu, maka dia seerti orang yang melihat barang milik orang lain.” (HR. Ibnu Majah 1/82 no. 227)
Maka jangan sampai kita ragu bahwa menuntut ilmu itu adalah perkara yang penting bagi diri pribadi atau masyarakat. Bahkan di zaman sekarang ini, kesempatan untuk berjihad dengan senjata, tidak mudah terbuka dimana-mana, dan betapa banyak kita melihat betapa banyak jihad yang tidak memenuhi syarat-syarat syar`i untuk berjihad. Sehingga sering kita jumpai betapa banyak orang yang menyuarakan jihad, akan tetapi hanya menimbulkan kerusakan dan mencoreng keindahan islam seperti pengeboman dan semisalnya. Sehingga saya katakana bahwa berjihad dengan ilmu bisa jadi menjadi jihad yang paling utama saat ini. Karena betapa banyak orang dengan ilmunya, membuat orang lain membuat orang masuk islam. Lihatlah di negera-negara non-muslim, karena geliat islam yang luar biasa, akhirnya orang-orang berbondong-bondong masuk islam setiap harinya dengan ilmu yang didakwahkan di negera-negara tersebut, baik melalui mimbar, internet, maupun buku-buku. Oleh karenanya tidak ada yang ragu bahwasanya menuntut dan menyebarkan ilmu itu adalah jihad. Dari sini kemudian sebagian ulama berpendapat bahwa orang-orang yang berhak mendapat zakat adalah orang-orang yang berdakwah, terlebih lagi jika pendakwah tersebut kurang mampu. Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk yang (berjihad) di jalan Allah dan untuk merek yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah : 60)
Sebagian ulama berijtihad bahwa para pendakwah dikategorikan orang yang bisa menerima zakat karena mereka dianggap sedang berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’ala, apalagi jika mereka memang tidak mampu. Terlebih lagi bagi seorang da’i yang betul-betul konsentrasi dalam membantah syubhat-syubhat dar orang-orang kafir, maka telah jelas bahwa mereka berhak mendapatkan zakat karena dakwah mereka adalah jihad. Dan perkara ini merupakan perkara yang penting. Akan tetapi maksud saya menjelaskan ini semua hanya untuk menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu seperti berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’ala.
Adapun dalil-dalil dari hadits yang menyebutkan tentang agungnya ilmu di antaranya adalah,
Hadits Pertama, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan buat dia faqih (paham) terhadap perkara agama”. (HR. Bukhari 1/52 no. 71)
Dalam hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa راً يْخَ dengan nakirah li tafkhim untuk menunjukkan bahwa jika Allah ingin kebaikan yang besar bagi seorang hamba, Allah akan buat dia paham tentang agama. Oleh karenanya jika Anda sekalian tertarik untuk belajar agama, tertarik untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, maka itu tanda kebaikan bahwa Allah masih sayang kepada Anda. Oleh karenanya sebagian ulama menyebutkan mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dari hadits ini adalah bahwa barangsiapa yang yang Allah ingin keburukan baginya, Allah akan buat dia bodoh dalam urusan agama. Maka jangan sampai seseorang belajar ilmu dunia setinggi-tingginya hingga profesor, akan tetapi dalam urusan agama ilmunya seperti anak TK. Dan perkara seperti ini sangatlah menyedihkan. Saya tidak menuntut Anda untuk memiliki ilmu yang tinggi dalam agama, akan tetapi setidaknya Anda memiliki pemahaman terhadap agama tidak seperti pemahaman anak TK. Maka jika seseorang cinta dan senang dalam menelaah perkara agama, senang dalam membantu penyebaran ilmu agama, dan hal-hal lain yang bisa membuatnya bisa lebih paham dengan urusan agama, insyaallah ada tanda kebaikan baginya dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Hadits kedua, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju surga. Dan para malaikat akan meletakkan sayap-sayanpnya karena senang kepada penuntut lmu. Sesungguhnya seorang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh makhluk penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Keutamaan seorang ‘alim dibandingkan dengan seorang ahli ibadah adalah ibarat keutamaan rembulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar mapun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar.” (HR. Tirmidzi 5/38 no. 2682)
Dalam hadits ini, kita akan mejelaskan dalam beberapa point.
Point pertama, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan,
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju surga.”
Bukankah setiap amal salih yang kita langkahkan kaki kita untuk melakukan amal salih tersebut seperti shalat di masjid, melangkahkan kaki untuk berbakti kepada orang tua, melangkahkan kaki dari satu manasik ke manasik yang lain, dan amal salih yang lain bisa memudahkan kita untuk menuju surga? Tentunya seluruh amal salih apapun bentuknya bisa mengantarkan kita menuju surga. Akan tetapi timbul pertanyaan bahwa mengapa Nabi صلى الله عليه وسلم mengkhususkan penyebutan bagi orang yang menuntut ilmu? Jawaban sebagian ulama adalah karena jalan termudah dan bahkan lebih mudah dari yang lainnya untuk menuju surga adalah dengan menuntut ilmu. Karena dengan seseroang memilki ilmu, dia akan belajar tentang hal-hal buruk yang harus dia jauhi, dengan ilmu dia akan mengetahui prioritas dalam beramal salih, dengan ilmu dia akan bersikap hikmah dan bijak. Sehinga para ulama mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini, jalan termudah menuju surga adalah dengan menuntut ilmu. Maka dari sini saya sampaikan kepada saudaraku sekalian, bahwasanya menuntut ilmu itu adalah ibadah karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda,
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah 1/81 no. 224)
Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa menuntut ilmu wajib, maka pasti berpahala. Maka sebagaimana shalat, puasa, umroh dan haji mendapatkan pahala, maka dengan menuntut ilmu juga akan mendapatkan pahala. Kemudian juga saya katakan bahwa sebagaimana ungkapan Ibnu Taimiyah bahwa salah seorang dengan orang lainnya bisa berbeda pahalanya dalam shalat karena tata cara atau tingkat khusyuknya, maka begitupun denga orang yang menuntul imu, masing-masing orang bisa jadi berbeda-beda pahala yang dia dapatkan dari menuntut ilmu. Maka telah jelas bahwa menuntut ilmu adalah ibadah, karena Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan bahwa menuntut ilmu akan memudahkan jalan menuju surga.
Point kedua, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan,
“Para malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridha kepada penuntut lmu.”
Malaikat melakukan tersebut karena penghormatan mereka terhadap para penuntut ilmu. Tatkala malaikat melihat seorang hamba yang sedang berjalan dan bersemangat untuk menuntut ilmu, maka akan bentangkan sayapnya untuk melindungi hamba tersebut yang sedang hendak pergi menuntut ilmu.
Point ketiga, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan,
“Sesungguhnya seorang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh makhluk penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air.”
Tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Bagi seorang penuntut ilmu belum bisa mendapatkan keutamaan ini. Dia harus terus belajar hingga dia sampai para derajat ‘alim agar seluruh makhluk baik di langit dan di bumi memintakan ampunan untuknya. Para ulama mengatakan bahwa begitulah ilmu, dia akan mendatangkan kesejahteraan, ketentraman, dan akan menghindarkan manusia dari kerusakan. adapun orang yang tidak berilmu, kebodohannyalah yang akan menimbulkan berbagai macam kerusakan maupun bencana.
Point keempat, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan,
Keutamaan seorang ‘alim dibandingkan dengan seorang ahli ibadah adalah ibarat keutamaan rembulan atas seluruh bintang.Kita ketahui bahwa bulan hanya satu di langit dan terdapat banyak bintang-bintang. Akan tetapi sinar yang sampai untuk menerangi bumi pada malam hari adalah sinar dari bulan. Bintang bisa saja jumlahnya jutaan, akan tetapi sinarnya tidak bisa memberikan penerangan di malam hari. Oleh karenanya saya katakan bahwa satu orang yang benar-benar ‘alim itu lebih baik daripada ribuan ahli ibadah. Karena ahli ibadah yang jumlahnya ribuan tersebut hanyak memberi manfaat bagi dirinya sendiri seperti bintang-bintang yang tidak bisa memberikan penerangan bagi bumi. Sedangkan orang ‘alim bisa memberikan manfaat kepada orang lain berupa peringatan dan pelajaran kepada masyarakat, seperti rembulan yang cahayanya bisa menerangi bagi orang-orang di muka bumi meskipun jumlahnya hanya satu. Oleh karenanya ketika ada seorang ‘alim yang meninggal dunia, maka pasti kita akan sangat merasa kehilangan melebihi kehilangan seorang ahli ibadah karena ilmu yang besar dari mereka telah hilang.
Point kelima, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan,
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar mapun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar.”
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Fatimah radhiallahu ‘anha mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk meminta diberikan bagian dari harta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam . Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan jawaban bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda,
“Sesungguhnya harta peninggalam kami tidak dapat diwarisi, Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” (HR. Muslim 3/1380)
Abu Bakar Ash-Shiddiq menjelaskan bahwa para nabi tidak memberi warisan dari dinar dan dirham. Adapun warisan ilmu, itulah warisan para nabi. Oleh karenanya dalam hadits ini Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan bahwa barangsiapa yang mengambil bagian dari warisan tersebut (yaitu ilmu), maka dia mendapat bagian warisan yang amat besar. Oleh karenanya jika Anda ingin mengambil warisan dari para nabi, maka bacalahAlquran, hadits, dan penjelasan para ulama tentang ilmu tersebut.
Maka keterangan di atas menunjukkan bahwa tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi, Nabi صلى الله عليه وسلم ingin menjelaskan bagaimana dekatnya kedudukan para ulama dan para nabi. Maka sebagaimana dekatnya kedudukan ahli waris dengan pemberi warisan, maka seperti itulah kedekatan kedudukan antara para ulama dan ara nabi.
Inilah sebagian kecil dari hadits-hadits yang menunjukkan agungnya ilmu. Maka hendaknya seseorang meyakini bahwa menuntut ilmu adalah suatu ibadah, dan jangan sampai dia menuntut ilmu namun tidak merasakan bahwa dia sedang beribadah. Oleh karenanya juga hendaknya seseroang tatkala menuntut ilmu dia memerhatikan niatnya. Dalam suatu riwayat Imam Ahmad berkata kepada muridnya,
“Tidak ada keutamaan yang setara dengan keutamaan ilmu (agama) bagi siapa saja yang niatnya benar (ikhlas).” Kemudian Imam Ahmad ditanya, “Bagaimana cara seseorang niatnya menjadi benar (ikhlas)?” Imam Ahmad berkata, “Dalam menuntut ilmu hendak seserang berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga menghilangkan kebodohan dari orang lain.”
Maka jangan kemudian Anda menuntut ilmu dengan niat tampil, atau ingin diakui sebagai murid ustaz fulan, atau bahkan mencari dunia. Akan tetapi tatkala Anda sedang menuntut ilmu, pasanglah dua niat sperti di atas bahwa Anda menuntut ilmu untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan orang lain. Tatkala seseorang bisa menuntut ilmu dengan keikhlasan, maka Allah akan berkahi dia dan dia akan mendapatkan pahala yang besar.
Maka setelah kita mengetahui akan agungnya ilmu, pertanyaan selanjutnya adalah kepada siapa kita mengambil ilmu? Ketahuilah bahwa ilmu merupakan perkara yang besar.Ada sebuah kisah yang menarik dari Imam Malik. Suatu ketika ada orang yang melakukan perjalanan selama enam bulan untuk bertanya tentang suatu masalah kepada Imam Malik. Dia berkata kepada Imam Malik,
“Wahai Aba Abdillah, aku datang kepadamu dari jarak enam bulan perjalan, penduduk negeriku menugaskanku agar aku menanyakan kepadamu suatu permasalahan.” Imam Malik berkata “Tanyakanlah!”. Maka orang tersebut bertanya sesuatu permasalaha. Imam Malik menjawab, “Aku tidak bisa menjawabnya”. Orang tersebut kaget, sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada seseorang yang tahu segalanya. Kemudian orang tersebut berkata, “Lalu apa yang akan aku katakana kepada penduduk negeriku jika aku pulang kepada mereka?” Imam Malik menjawab: “Katakan kepada mereka bahwa Imam Malim berkata ‘Saya tidakbisa menjawabnya”. (Jami’ Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlih 2/838 no. 573)
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah







































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=w_jB6kKQkq0Q7kNvwFZxPaO&_nc_oc=AdpQdcjzCaUi-RsvKtTkbmWl1lcOPKeQvmHowj2hd0zVSeU9Gpf3bo58Elp4J8OHYfE&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=-6EUHwqysNMNMZ6P_SWiAA&_nc_tpa=Q5bMBQLJuZK0lUi_Ucbyiz7EMNVqXI9ymqVXO4-I_lT21IoPQPfIZTw8QwCa3oizrtnjTET6ZOJRjnUH&oh=00_AQHoNGMO_JAfExRj9ndShW4dlLJk6nls_q_wXa-dGceeEA&oe=6A9044F6)


