Wahai para anak…
Sungguh Allah telah jadikan manusia itu bersuku-suku, baik suku non Arab ataupun suku Arab supaya saling kenal. Kenalnya manusia itu dikarenakan sebuah ikatan, yang satu sama lain dari ikatan itu bertingkat-tingkat. Islam memiliki ikatan yang sangat luas. Ada juga ikatan yang lebih sempit, semisal ikatan kekerabatan, perkawinan, tetangga, persahabatan dan lain-lain.
Wahai para anak…
Manusia mempunyai hak yang bertingkat-tingkat, dan tingkatan itu berbanding lurus dengan kuat dan dekatnya ikatan, atau lemah dan jauhnya ikatan. Islam mengaitkan sejumlah hak dan kewajiban dengan ikatan tersebut dan jenisnya. Islam memerintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan secara terus menerus, dan mengingatkan bahaya memutusnya. Sebagaimana islam menjadikan di antara hak ikatan tetangga adalah memuliakannya dan tidak boleh menghinanya. Wajib berbuat baik kepada tetangga dan tidak boleh menyakitinya. Demikian adanya hak syuf‟ah bagi tetangga dan lain-lain.
Wahai para anak…
Dan termasuk ikatan istimewa di antara manusia yang secara khusus islam berulang kali mengingatkannya, adalah ikatan anak dengan orang tua. Islam memotivasi agar manusia lebih memperhatikan ikatan ini dibandingkan ikatan yang lainnya. Bahkan Islam memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat baik kepada ikatan ini meski anak dalam kondisi yang paling sulit. Islam mengingatkan untuk tidak merusak orang-orang yang memiliki ikatan ini meski dengan kata-kata yang paling remeh. Ikatan yang menyatukan kita semua dengan asal-muasal kita, yang Allah jadikan dengan asal tersebut keberadaan kita di dunia ini. Itulah ikatan anak dengan ibu dan bapaknya.
Wahai para anak…
Kedudukan orangtua itu sangat agung, hak orangtua begitu besar. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra : 23-24
“Rabbmu telah menetapkan, janganlah kalian menyembah kecuali kepadaNya dan berbuat baiklah kepada orangtua, jika salah satu dari keduanya sampai kepada usia tua renta bersamamu wahai anak, maka jangan katakan kepadanya kata „uff‟. Dan jangan membentak keduanya, ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (QS. Al-Isra : 23-24)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Oleh karena itu Allah gandengkan ibadah kepada Allah, dengan berbuat baik kepada orangtua.
Allah berfirman,
“Dan berbuat baiklah kepada orangtua”(QS. Al-Isra : 23)
Maka ayat ini semisal dengan ayat lain di QS. Lukman : 14
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman : 14)
Tentang ayat larangan berkata „uff‟,
“Jika salah satu dari keduanya sampai kepada usia tua renta bersamamu wahai anak, maka jangan katakan kepadanya kata „uff‟.” (QS. Al-Isra : 23). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : “Jangan perdengarkan perkataan yang menyakitkan, sampai-sampai kata „uff‟.”
Jangan bentak keduanya, kata Ibnu Katsir rahimahullah maknanya : “Jangan engkau melakukan perbuatan yang menyakiti kedua orangtuamu”. Sebagaimana perkataan Atho‟ bin Abi Rabaah rahimahullah: “Jangan mengibaskan tangan di hadapan orangtua.” Setelah Allah larang dari perbuatan buruk, maka Allah perintahkan anak untuk berbuat baik.
“Katakanlah kepada keduanya, kata-kata yang mulia.” (QS. Al-Isra : 23), yaitu kata yang lembut, menyenangkan, yang baik, yang itu diucapkan penuh rasa sopan, penuh penghormatan.
Tawadhulah kepada orangtua dengan tindakanmu wahai anak, doakanlah ketika mereka sudah tua atau sudah meninggal dunia.
Wahai para anak.
Sungguh Allah telah berulang kali menyebutkan kedudukan orangtua. Mewajibkan berbuat baik kepada orangtua, dikarenakanistimewanya kedua orangtua, dan besarnya kebaikan orangtua kepada anak. Allah berfirman :
“Mereka bertanya kepadamu, apa yang diinfakkan, katakanlah semua kebaikan/harta yang kalian infakkan itu ditujukan kepada orangtua, kerabat, anak yatim, anak miskin dan ibnu sabil.” (QS Al-Baqoroh 215)
Allah berfirman :
“Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada orangtua.” (QS An-Nisaa 36)
Allah berfirman :
“Marilah kubacakan apa yang diharamkan oleh Rabb kalian atas kalian, jangan sekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada orangtua.” (QS Al-An‟am 151)
Allah berfirman :
“Dan kami wasiatkan kepada manusia berbuat baik kepada orangtua terutama kepada ibunya, yang ibunya telah mengandungnya lemah dan letih, kemudian menyapihkan selama 2 tahun. Berterimakasihlah kepada Allah dan berterimakasihlah kepada kedua orangtua. Dan kepadaKu-lah kalaian akan kembali.” (QS. Lukman 14)
Kata „wasiatkan‟ dalam QS. Lukman : 14 adalah perintah yang ditegaskan. Tidak ada orang yang bisa berterimakasih kepada Allah dan berbakti kepada orangtuanya kecuali orang yang yakin dan sadar bahwa dia akan kembali menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan amal perbuatanya. Siapa yang sadar dia akan kembali kepada Allah, dia akan jadi anak yang berbakti. Anak itu tidak akan jadi anak yang berbakti jika dia tidak kenal Allah, tidak tahu akhirat, tidak takut akan kembali menghadap Allah. Kunci penting berbakti adalah kesadaran bahwa kita semua akan kembali kepada Allah. Di antara tanda sadar akan kembali pada Allah, adalah sikap baik kita kepada kedua orangtua masing-masing
Allah berfirman :
“Dan Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah, dan melahirkannya dalam keadaan susah, selama 30 bulan.” (QS Al-Ahqaf :15)
Wahai para anak…
Di antara agungnya hak orangtua yaitu wajib berbuat baik dan bersikap lembut kepada orangtua meskipun orangtuanya musyrik atau kafir (sedangkan anaknya adalah mukmin atau muslim). Meskipun tidak boleh taat kepada orangtua dalam maksiat kepada Allah.
Allah berfirman :
“Dan kami wasiatkan manusia agar berbuat baik kepadaorangtuanya, dan jika kedua orangtuamu memaksamu untuk melakukan kemusyrikan maka jangan taat. Karena hanya kepadaKu tempat kembali kalian dan akan Aku beritahukan semua yang kalian lakukan.” (QS Al-Ankabut 8)
Allah berfirman :
“Dan kami wasiatkan manusia agar berbuat baik kepada orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah, dan melahirkannya dalam keadaan susah, selama 30 bulan.” (QS Al-Ahqaf -15)
Ayat-ayat lain yang telah menyebutkan baik secara eksplisit maupun implisit yang menunjukan besarnya hak orangtua.Adapun hadits-hadits terkait kepada orangtua sangatlah banyak. di antaranya :
Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu „anhu :
“Aku bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah azza wa jalla?‟ Beliau صلى الله عليه وسلمmenjawab, “Shalat pada waktunya”. Lalu aku bertanya, “Kemudian apa lagi?‟ Beliau صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Kemudian berbakti kepada kedua orangtua.” Lalu aku mengatakan, “Kemudian apa lagi?‟ Lalu beliau صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Berjihad di jalan Allah‟.”
Hadits Diatas Menunjukkan cinta Allah itu bertingkat-tingkat dan amal itu juga bertingkattingkat. Berbakti kepada orangtua lebih utama dari jihad, yang hukumnya fardhu kifayah
Dari Abu Hurairoh radhiyallahu anhu :
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu„anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan sikap baikku?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliauصلى الله عليه وسلمmenjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi,” Nabi صلى الله عليه وسلمmenjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Faidah tambahan : kata “paling berhak”, menunjukkan semua orang berhak mendapat sikap baik dari kita, namun hak manusia dalam mendapat sikap baik kita itu bertingkat-tingkat. Maka yang ditanyakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم adalah yang paling berhak. Allah berfirman : “Dan berkata baiklah kepada semua manusia” juga dalam hadits “Seorang muslim adalah yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” HR. Ahmad.
Ibu mendapat hak 3x lipat dari ayah, menimbang kesulitan ibu 3x lipat daripada ayah yaitu kesulitan hamil, kesulitan melahirkan dan kesulitan menyusui. Tiga hal yang tidak dialami ayah. Adapun dalam hal merawat dan mendidik, ayah dan ibu sudah sepantasnya bersekutu, berserikat. Meski di banyak keluarga, banyak suami yang masa bodoh dengan anak, tidak pernah memandikan, menggendong dll, seharusnya dalam masalah merawat adalah tanggungjawab bersama-sama. Orang yang celaka adalah dia yang pintu surga ada di depannya tapi dia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Pintu surga tersebut adalah bakti kepada orangtua.
*************
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan hafizhahullahu
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah














































































