MUJAHIDDAKWAH.COM, KUALA LUMPUR – Dunia kembali kehilangan penopangnya, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pada Sore Hari Ahad, 8 Maret 2026/18 Ramadhan 1447 H, di bulan Ramadhan yang amat mulia, wafat, meninggalkan kita semua. Kabar duka ini benar-benar menjadi kehilangan besar bagi jagat pemikiran Islam dunia.
“Assalamualaikum, Duka cita dimaklumkam bahwa Guru kita Prof. Diraja Terpuji Syed Muhammad Naquib al-Attas telah mangkat petang tadi 18 Ramadan 1447 pada pukul 6.47, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni segala dosanya dan menempatkannya di Syurga Firdaus bersama para Nabi dan Salihin. Beliau akan di sholati pada pukul 11.30 pagi hari ini di Masjid Taqwa TTDI Kuala Lumpur, dan akan dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Bukit Kiara,” ujar Dr. Khalif Muammar melalui pesan singkatnya via WhatsApp.
Prof. Diraja Tan Sri Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas wafat pada usia 94 tahun (kelahiran Bogor, 1931), meninggalkan warisan intelektual yang menjadi benteng pertahanan iman bagi muslim modern di tengah arus sekularisasi global.
Beliau berkontribusi pada berbagai bidang pemikiran Islam, sejarah, dan peradaban tidak hanya membimbing dan mengilhami banyak umat Islam secara global tetapi juga memperkaya wacana akademis dalam skala global. Risetnya yang sangat teliti dan kritis telah mengklarifikasi banyak istilah dan konsep kunci, memperbaiki kesalahpahaman, dan memberikan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi oleh komunitas Muslim.
BACA JUGA: Pemikiran Prof Al-Attas Diperlukan Umat Islam Zaman Ini
Melalui pendirian ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) di Malaysia, beliau berhasil menciptakan pusat keunggulan akademik yang memadukan kedalaman tradisi klasik dengan ketajaman kritik terhadap filsafat Barat modern, sebuah institusi yang arsitekturnya pun mencerminkan visi keindahan dan ketertiban spiritual beliau.

“Beliau adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) dan pemikir Islam kontemporer. Beliau merupakan penggagas Islamization of Knowledge, memperkenalkan Islam dalam kerangka Worldview, serta sangat dikenal dengan konsep Ta’dib dalam pendidikan. Beliau mendefinisikan bahwa krisis dunia Islam saat ini disebabkan oleh ‘Loss of Adab’ (hilangnya adab),” tulis di akun Pascasarjana UNIDA Gontor.
Tulisan-tulisan beliau memiliki manfaat yang luar biasa bagi dunia Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Nama-nama cendekiawan muslim di Indonesia juga tak lepas dari hasil didikan beliau, seperti Ketua MIUMI Prof. Hamid Fahmy Zarkasy, Ketua Dewan Dakwah DR. Adian Husaini, dan lainnya seperti Prof. Syamsuddin Arif, Dr. Ugi Suharto, Dr. Nirwan Syafrin serta berbagai lembaga kajian pemikiran (INSISTS, ITJ, INPAS, MADANI, KOMUNITAS NUN, dll).
BACA JUGA: Belajar Toleransi dan Keteguhan Keyakinan dari Prof Naquib al-Attas
“Prof. al-Attas adalah suluh yang menerangi jejak langkah kita semua dari fitnah dunia. Menerangi cara pandang “worldview” kita agar selamat dari gemerlap kemodernan yang tampak menarik, namun sejatinya menipu mata. Mengenalkan kita kekayaan khazanah intelektual Islam dengan muruah, dan adab, tanpa sedikitpun silau dan minder dengan peradaban Barat,” tulis dalam akun Instagram INSISTS Indonesia.
Dalam sesi peluncuran buku oleh Prof. al-Attas yang terakhir, “Islam: The Covenants Fulfilled” pada Sabtu, (29/7/2023). Permansuri Johor Raja Zarith Sofiah Binti Sultan Idris Shah menyampaikan bahwa Tan Sri profesor Al-Attas sangat menakjubkan. Sebagai salah satu pakar yang paling brilian, produktif, dan cendekia segala bidang pada zaman kita.

“Karyanya yang luas, terdiri dari 34 buku dan monograf baik dalam bahasa melayu maupun inggris, memberikan kesaksian tentang pengabdiannya yang tak tergoyahkan terhadap pencarian akan pengetahuan dan pemahaman. Kita semua harus berbuat lebih banyak untuk menghormati dukungan dan membantunya dalam berusaha keras seumur hidup dan tak kenal lelah untuk mendidik kita,” ungkapnya.
Kita semua menghormati dan mengenang beliau sebagai seorang ulama dan cendekiawan besar yang telah memberikan kontribusi penting bagi pemikiran Islam, khususnya dalam memahami hakikat manusia, ilmu dan peradaban.
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan,“ ujar Dr. Ugi Suharto dalam salah satu Group WhatsApp.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ.
Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau, menerima seluruh amal kebaikannya, serta menjadikan ilmu dan pemikirannya sebagai ṣadaqah jāriyah yang terus memberi manfaat bagi umat. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga warisan ilmu yang beliau tinggalkan terus menginspirasi generasi penerus. Allahumma Aamin… 🤲🏻🤲🏻😭😭
Bagi yang ingin membaca karya karya Syed Naquib al Athas dimulai darimana, skema berikut ini bisa membantu. Gambarnya di dapatkan dari akun X beliau, file bisa diunduh di https://drive.google.com/file/d/1Q7vqWwElh7bpBLjymdx1vCTiOlwg1EIK/view











































































