Berapa banyak anak yang pintar saat sekolah, lalu ketika lulus justru terseok-seok dalam kehidupan nyata? Fakta itu menjadi perhatian banyak peneliti. Kemudian, mengapa ada anak yang punya keyakinan kuat justru mampu tampil lebih hebat, mengalahkan mereka yang punya kecerdasan kognitif.
Dalam situs web Forbes (forbes.com) jawaban akan hal itu bisa kita temukan. Pertama, salah satu alasan kenapa orang pintar belum tentu sukses adalah karena orang pintar cenderung menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir dan terlalu sedikit waktu untuk bertindak.
Kedua, orang pintar biasanya juga kesulitan dalam menerima saran dan kritik. Ia merasa apa yang menjadi idenya adalah yang terbaik dan orang lain tidak perlu memberi saran apalagi mempertanyakan.
Ilusi Gelar Akademik
Dalam artikel Kompas, saya mendapati satu kalimat menarik. “Banyak orang pintar terlalu memuja gelar dan prestasi akademik, seolah keduanya menjadi tolok ukur utama kesuksesan.”
Ini namanya fenomena kredensialisme. Yaitu kondisi sosial di mana ijazah dan gelar formal dinilai lebih tinggi daripada kompetensi nyata atau keterampilan praktis.
Dalam pandangan ini, gelar berfungsi sebagai “mata uang” sosial untuk menaikkan status, bukan sekadar bukti keahlian.
Akibatnya, banyak individu terjebak mengejar simbol validasi eksternal tersebut dan mengabaikan pengembangan karakter atau soft skills yang justru menjadi penentu utama keberhasilan di dunia nyata.
Secara psikologis, hal ini sering dipicu oleh bias kognitif yang disebut Halo Effect. Orang sering berasumsi bahwa individu dengan prestasi akademik tinggi otomatis memiliki kecerdasan emosional, kepemimpinan, atau kemampuan pemecahan masalah yang sama baiknya.
Padahal, ekosistem akademik cenderung linier dan terstruktur, sedangkan tantangan dunia kerja bersifat dinamis dan tidak terduga. Nilai tinggi di atas kertas tidak selalu berbanding lurus dengan ketahanan mental saat menghadapi kegagalan di lapangan.
Alhasil kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rasionalitas kesuksesan modern telah bergeser dari sekadar akumulasi gelar menuju relevansi kompetensi. Dalam Islam jauh lebih bermakna lagi, manusia yang bernilai adalah yang bisa memberikan manfaat luas bagi kehidupan.
Dengan demikian gelar akademik hanyalah “tiket masuk” atau validasi administratif awal, sementara keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh mentalitas pembelajar seumur hidup (growth mindset) dan kemampuan beradaptasi.
Dalam kata yang lain memuja gelar tanpa mengimbanginya dengan kontribusi nyata hanya akan menciptakan “inflasi gelar,” yang mana nilai ijazah semakin turun karena tidak diimbangi dengan kualitas kerja yang setara.
Meski demikian, yang tertarik akan gelar akademik jumlahnya tampak terus meningkat. Mereka senang namanya bersambung dengan gelar. Merasa bangga kalau MC sebutkan dalam acara-acara seremoni. Meski sebenarnya ia sadar bahwa gelar itu tak benar-benar bisa ia buktikan secara konkret dalam hal kompetensi dan kontribusi.
Segera Aksi
Berkaitan tentang energi keyakinan saya tertarik dengan sejarah Ust. Abdullah Said. Ia adalah sosok muda yang mampu menembus ruang-ruang kesadaran substantif, sehingga sejak awal tak ingin habis waktu untuk perkara-perkara yang tampak “wow” namun tidak kontributif.
Ia meninggalkan bangku kuliah, bukan karena pongah, tapi sadar bahwa yang paling penting dalam hidup ini adalah bagaimana ilmu menguatkan keyakinan.
Berbekal kesadaran itu ia pun menempa diri untuk banyak bekerja, mewujudkan ide dan harapannya bagi umat Islam Indonesia untuk bangkit dan bermartabat. Ketekunannya pun komprehensif, bukan semata dakwah, tapi juga ibadah, kerja dan membangun team work. Luar biasanya semua itu bisa ia tuntaskan dalam tempo yang relatif singkat, hingga kini Hidayatullah yang ia dirikan bisa terus berkembang ke seluruh pelosok negeri.
Inilah bagian dari bukti bahwa keyakinan benar-benar punya energi besar. Mantan Gubernur Kaltim, Awang Faroek, pernah berkata. Kalau Ust. Abdullah Said tidak punya keyakinan besar, mungkin beliau menjadi Ketua Kanwil Kementerian Agama. Namun karena beliau memilih membangun pesantren, maka beliau mampu memimpin Hidayatullah bisa tembus ke seluruh provinsi di Indonesia.
Terakhir, tulisan ini bukan untuk membuat kawan-kawan muda enggan apalagi tidak kuliah. Tapi jadilah insan yang benar-benar belajar saat kuliah dengan tidak kehilangan api keyakinan Islam di dalam dada kalian. Rayakan setiap hari sebagai kesempatan merayakan keyakinan dalam aksi-aksi nyata, baik secara spiritual, intelektual dan emosiaonal.
***********
Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Kepala Humas BMH Pusat, Eks Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Mengispirasi dan Menyuarakan Kebenaran)












































































