Dominasi cara berfikir sekular dalam pendidikan, salah satu efeknya, adalah pendidikan terlampau berlebihan menitik-beratkan pada ketrampilan jasadi. Melemparkan pendidikan akhlak ruhani.
Pendekatan empirisisme dan rasionalisme yang menghegemoni akal fikiran para sarjana, membuatkan hasil fikiran yang “kering”. Biasanya terlalu terpaku kepada sisi dzahir. Meremehkan aspek batin spiritual.
Efeknya malah bisa menjalar ke mana-mana. Dalam mendidik dan pendidikan, mengutamakan dan menjadikan kemampuan asah otak sebagai ukuran keberhasilan. Tetapi, tidak menjadikan adab pelajar sebagai tolak mengukur kesuksesan. Apalagi aspek ubudiyah sama sekali tidak dilirik menjadi alat ukut.
Pada aspek lain, lebih mengutamakan “keramaian” sebagai ukuran kesuksesan sebuah acara, tabligh, pengajian dan lain-lain. Agenda-agenda dengan “keramaian” tentu saja baik. Ada faidah. Tetapi kita mesti teliti, bahwa ada dimensi sangat penting namun tidak ramai. Yaitu, agenda pendidikan berkelanjutan. Pengkajian dengan kurikulum terstruktur, kajian dengan daras buku/kitab bermutu.
Guru-guru yang mengajar ilmu-ilmu penting bagi pelajar di madrasah, sekolah, dan lembaga-lembaga pendidikan merupakan orang yang bekerja secara strategis. Menyiapkan pemimpin dengan ilmu-ilmu yang benar. Kerja demikian dalam situasi saat ini lebih penting daripada kultum atau tabligh sesaat.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani menurut Majid al-Kailani pernah mengurangi dakwah dengan pendekatan ceramah singkat. Informasinya, beliau fokus kepada madrasah. Konon, mengikuti metode yang pernah ditempuh Imam al-Ghazali.
Di zaman ini, sikap demikian adalah tepat. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin mengutip sebuah riwayat, “Sesunggunya kalian berada dalam zaman dimana fuqaha’nya (ahli ilmu) banyak dan sedikit oratornya (khutoba’). Amal pada zaman ini lebih baik daripada ilmu. Dan kelak manusia akan tiba pada masa di mana fuqaha’nya sedikit tetapi ahli oratornya banyak. Pada zaman itu ilmu lebih baik daripada amal.
Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Sahabat, amal lebih baik daripada ilmu bukan bermaksud kedudukan ilmu yang lebih rendah. Maksud dari itu adalah, bahwa masa tersebut merupakan era yang mulya. Sumber ilmu (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) masih hidup. Ketika sumber masih hidup, umat Islam dapat langsung ‘menikmati’ sumber tersebut.
Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, kaum Muslimin masih tidak kesulitan mencari sosok yang dapat dijadikan sandaran ilmu. Pembesar Sahabat yang tidak lain murid langsung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberi pengajaran yang baik. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut masa ini dengan khoirul qurun (sebaik-baik zaman).
Ketika para ahli ilmu masih banyak, kaum Muslim tidak kesulitan untuk melakukan kajian ilmu dengan benar. Sebuah amalan, tinggal mereka praktikkan. Kehidupan keislaman relatif ‘aman’. Ketika bertanya sesuaut masalah agama, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat.
Sedangkan pada hari ini, kita hidup yang jauh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya. Bahkan periode kita jauh dari para ulama salaf dan imam mujtahid. Ketika ada suatu persoalan agama kita masih bertanya dahulu kepada ulama yang memahami pemikiran imam madzhab. Itupun kita harus lebih hati-hati.
Maka, dalam hal ini Imam Nawawi berpendapat bahwa meyibukkan dengan mencari ilmu-ilmu penting lebih afdhal daripada sibuk beribadah sunnah, seperti shalat, puasa sunnah dan menbaca tasbih.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas (Prof. Al-Attas) mengkhawatirkan terhadap fenomena “pensosialisasian” Islam. Yaitu umat Islam menjadikan aspek politik, kemasyarakatan dan undang-undang sebagai tumpuan dasar dan utama dalam menelusuri problematikanya (Risalah untuk Kaum Muslimin, hal. 170).
Oleh sebab itu, sebagaimana yang sering disampaikan oleh Prof. Al-Attas, bahwa tujuan pendidikan Islam menurut para ulama-ulama silam adalah menghasilkan individu-individu yang beradab (baik).
Insan adabi itu ternyata sejatinya insan yang berfikir sampai pada taraf ihsan. Sehingga, pendidikan harus bisa keluar dari cengkraman empirisisme. Ibnu Mas’ud pernah mengatakan: “Ilmu itu bukan pada banyaknya riwayat. Akan tetapi ilmu itu adalah khasyyah (rasa takut kepada Allah Swt). Kata Ibnu Athoillah, ‘sebaik-baik ilmu adalah yang mengundang rasa khasyyah. Maka, setiap ilmu yang tidak disertai rasa takwa dipastikan tidak akan memberikan kebaikan. Dan pemiliknya tidak boleh digelari dengan alim.
Artinya, pendidikan tinggi Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya baik di depan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri. Model pendidikan, tidak saja dimodifikasi untuk mengikuti perkembangan zaman, akan tetapi lebih penting lagi, adab dan esensi konsep Islam harus menjadi acuan penyelenggaraan pendidikan Islam.
Dengan demikian, ihsan harus menjadi induk ilmu. Pendidikan berfokus kepada pendidikan spiritual sebagai basis utamanya. Karena perbaikan individu lebh baik jika dengan pendekatan konsep ihsan.
**********
Penulis: Ahmad Kholili Hasib, MA
(Direktur Institute Pemikiran dan Peradaban Islam {INPAS} dan Dosen IAI Darullughah Wadda’wah Bangil)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=_5TgXLz6ObMQ7kNvwEs9wzU&_nc_oc=Adp0uphAg7OvUt80Hs3vKteLeVeTjaFnjK6WZbDqwqB-DtjKcGj3uduyn63I0nLvGZc&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=eJMfZvjy-igPxC8flUpcbQ&_nc_tpa=Q5bMBQJjUxjB732PQGjbknIRWbfQmCnxQIZsH7ZAo_x20PVt2PUGhox8JfRr4NIQUAqLoF7whDYypZPB&oh=00_AQGFtAX0-8DdW9O73IDZv8xY8Iav5o2EsFXs7JUFPyMFMQ&oe=6A8C5076)



