Sedang masalah ketiga adalah mengambil dan memakan makanan yang paling dekat dengan posisinya. Hal itu dilakukan wanita Muslimah sebagai wujud pengamalan terhadap adab sopan santun Islam dalam hal makan. Ada perintah Nabi yang secara jelas dan gamblang yang menyerukan untuk makan dengan membaca basmalah dan makan dengan tangan kanan, yang disampaikannya melalui beberapa hadits. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah, dia bercerita,

Ketika masih kecil, aku pernah berada di bawah asuhan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.Pada saat tanganku menggerayang di tempat makanan, beliau bertutur, Wahai anak muda, bacalah basmalah dan makanlah dengan tangan kanan serta ambil makanan yang paling dekat dengan dirimu.” (Muttafaq Alaih)

Yang harus dilakukan oleh wanita Muslimah yang sadar dan telah dipoles oleh Islam pada saat mengambil dan memakan makanan adalah mengambilnya denganpelandan lemah lembut, sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah , di mana beliau makan dengan tiga jari dan tidak menceburkan semua jarinya ke dalam makanan yang menjadikan orang yang melihatnya merasajijik. Demikian itu telah dikisahkan oleh Ka’ab bin Malik, dia menceritakan,

Aku pernah melihat Rasulullah makan dengan tiga jarinya, dan apabila telah selesai beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)

Rasulullah memerintahkan agar menjilati (baca: membersihkan) jari jari dan membersihkan piling setelah selesai makan. Mengenai hal itu telah diriwayatkan dari Jabir , bahwa Rasulullah memerintahkan supaya membersihkan jari dan tempat makan seraya bersabda,

Sesungguhnya kalian tidak mengetahui makanan mana yang me ngandung barakah dari makanan kalian itu.” (HR. Muslim)

Dari Anas, dia menceitakan, “Apabila selesai makan, Rasulullah menjilati jari-jarinya tiga kali dan berkata,

Apabila ada bagian dari makanan salah seorang di antara kalian jatuh, maka hendaklah dia mengambilnya dan membuang penyakit darinya selanjutnya makanlah, dan jangan sampai dia menyisakan buat syaitan. Dan, beliaujuga memerintahkan kita supaya membersihkan tempat makan (piring) seraya bertutur, ‘Sesungguhnya kalian tidak mengetahui, di mana letak bagian makanan itu yang mengandung berkah’.”(HR. Muslim)

Petunjuk Rasulullah tersebut, di samping berusaha mencari berkahnya juga memerintahkan agar tangan dan tempat makan kita bersih. Membersihkan keduanya dari sisa makan merupakan suatu yang laik dilakukan oleh orang yang beradab dan berkepribadian bersih dan menunjukkan kebersihan dan kerapiannya. Sekarang ini masyarakat Barat sedang berusaha untuk menerapkan kebiasaan yang baik ini yang telah ditetapkan Rasulullah sejak lima belas abad yang lalu. Seperti halnya orang-orang Eropa sekarang ini juga membersihkan piring-piring mereka dan tidak menyisakan sedikit pun dari sisa makanannya.

Sudah jelas wanita Muslimah yang beradab dan memiliki kesensitipan perasaan serta berperilaku seperti yang diajarkan Islam tidak makan dengan kecapan yang bersuara, tidak meniupkan natas pada saat mengunyah, mengeluarkan suara, serta tidak menyuap dengan suapan yang banyak sehingga mulutnya terlihat monyong dan buruk yang merusak kecantikan dan kelembutan seorang wanita.

Setelah selesai makan, dia mengucapkan hamdalah (Al-Hamdulillah) seperti yang diajarkan Rasulullah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas nikmat-Nya dan mencari pahala bagi orang-orang yang bersyukur, sebagaimana yang disampaikan Nabi:

Dari Abu Umamah Radhiallahu Anhu , bahwa apabila Nabi selesai dari makan mengucapkan:

Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik serta berbarakah, tidak mengharapkan balasan, tidakjuga meninggalkan serta senantiasa dibutuhkan, wahai Rabb kami.” (HR. Bukhari)

Dari Mu’adz bin Anas , dia bercerita, Rasulullah telah bersabda,

Barangsiapa yang memakan makanan, lalu mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makan dengan makanan inidan memberiku rezeki dengannya tanpa adanya daya dan upaya dari diriku , maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa yang telah diperbuatnya. “(HR. Tirmidzi)

Wanita Muslimah yang berhiaskan diri dengan adab Islam tidak akan mencela makanan bagaimanapun wujudnya, sesuai dengan petunjuk Nabi, dan dalam rangka mengikuti tindakan Rasulullah pada saat disodorkan makanan kepada beliau.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia bercerita,

Rasulullah sama sekali tidak pernah mencela suatu makanan,apabila beliau menyukainya akan memakannya dan apabila kurang menyukainya akan ditinggalkan.” (Muttafaq Alaih)

Demikian halnya dengan hal minum. Wanita Muslimah juga men- jalankan adab Islam yang telah mengajarkan manusia dengan sebaik-baiknya di seluruh lapangan kehidupan.

Di mana wanita Muslimah setelah membaca basmalah akan minum dengan dua atau tiga kali tegukan, dan tidak bernafas di dalam tempat minum serta berusaha untuk tidak meminum langsung dari mulut tempat minum (teko) sebisa mungkin, tidak meniup minuman serta berusaha meminum minuman dengan duduk semampu mungkin.

Mengenai minum dengan dua tiga tegukan merupakan ajar an Ra- sulullah , seperti yang diberitahukan oleh Anas melalui ucapannya,

Dalam minum, Rasulullah menyelangi dengan tiga kali nafas pada setiap tegukan.” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah melarang umatnya meminum sekali tenggak melalui sabdanya,

Janganlah kalian meminum dengan sekali tenggakan seperti minumnya onta, tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali tenggakan. Dan, bacalah basmalah apabila kalian hendak minum, dan hamdalah apabila selesai minum. “(HR. Tirmidzi)

Beliau juga melarang umatnya untuk meniup minuman. Hal itu disampaikannya melaui hadits Abu Said Al-Khudri, diceritakan bahwa Nabi melarang meniup minuman. Kemudian ada seseorang vang berkomentar, Tetapi jika aku melihat kotoran di dalamnya?”

Beliau pun menjawab, “Tuangkan keluar kotoran itu.” Orang itu berkata, “Sesungguhnya aku tidak merasa puas (kenyang minum) dengan satu nafas saja.”

Beliau menjawabnya, “Jika demikian, jauhkan tempat minum itu dari mulutmu kemudian bernafaslah.” (HR. Tirmidzi)

Dari uraian beberapa hadits di atas mengenai tata cara minum jelas- lah bahwa sikap dan cara terbaik bagi seorang wanita adalah dia tidak minum dengan melekatkan mulutnya dengan mulut tempat minum, dan minum dengan duduk, karena yang demikian itu adalah lebih baik dan lebih sempurna, seperti yang dijelaskan oleh beberapa hadits meskipun minum dengan langsung dengan melekatkan mulut pada mulut tempat minum dan dengan berdiri itu dibolehkan, karena Rasulullah M melakukan hal itu semua pada saat minum.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 392-396)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan