MUJAHIDDAKWAH.COM, DEPOK – Peristiwa terhapusnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta menjadi topik yang kembali mencuat ke publik. Dalam acara “Tasyakkur dan Kuliah Kemerdekaan ke-76” (18/8) yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Dewan Da’wah, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Dr. Adian Husaini berpendapat terhapusnya tujuh kata adalah keputusan cerdas para tokoh Islam.
Ultimatum golongan Protestan dan Katolik kepada Bung Hatta terhadap tujuh kata tersebut, sebenarnya menurut Adian patut dipertanyakan. Sebab Piagam Jakarta dengan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, sejatinya adalah konsensus nasional dan bukan semata berasal dari umat Islam. Kewajiban ini hanya mengikat umat Islam, bukan golongan lain.
“Bahkan jika kalimat itu dituding bias kepada Islam, fakta sejarah menyebutkan, A.A Maramis sebagai cendikiawan Kristen yang masuk dalam Panitia Sembilan menyetujuinya,” ungkapnya.
Sebagai pimpinan Panitia Sembilan, Soekarno sendiri juga menunjukkan konsistensinya kepada Piagam Jakarta.
“Mengkaji pemikiran Presiden Soekarno tentang Pancasila jangan sekedar dilihat dari usulannya tanggal 1 Juni 1945, tapi mesti juga dibandingkan dengan Dekrit Presiden,” ujar Dr. Adian.
Pancasila memang mengalami perubahan yang mendasar pasca Soekarno memperkenalkannya di Sidang BPUPKI. Misalnya perihal asas Ketuhanan Yang Maha Esa, yang meskipun sebelumnya diletakkan pada sila kelima, belakangan pada Piagam Jakarta diangkat menjadi sila pertama. Maka tidak heran, dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Soekarno mengatakan Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945.
Lantas bagaimana umat Islam menyikapi perubahan Pancasila tersebut? Bagi Dr. Adian Husaini, menghapus tujuh kata dalam Pancasila versi Piagam Jakarta, memang keputusan pahit yang mesti dilakukan para tokoh Islam untuk mencegah disintegrasi nasional.
“Kasman Singodimedjo, dalam otobiografinya, mengungkapkan bahwa keputusan itu dilatarbelakangi oleh kondisi yang sangat genting. Di samping menimbang kekuatan Jepang yang masih berada di wilayah Bumi Pertiwi, ancaman Sekutu juga menuntut adanya satu solusi yang mempersatukan bangsa. Hal ini penting untuk mendapatkan pengakuan dari PBB,” paparnya.
Namun, Ustadz Adian menuturkan, penghapusan 7 kata itu tidak membuang pandangan alam Islam dalam Piagam Jakarta (yang kemudian menjadi pembukaan UUD 1945). Para tokoh Islam nyatanya cukup cerdik menjaga kosa kata kunci Islam di dalam Pancasila, sebut saja “adil”, “beradab”, “hikmah”, “musyawarah”, dan sebagainya.
“Sehingga dengan kondisi yang serba terburu-buru, golongan lain yang menuntut adanya perubahan dalam rumusan dasar negara, tetap saja meloloskan kata-kata tersebut,” jelasnya.
Maka, di penghujung acara Tasyakkur dan Kuliah Kemerdekaan ke-76 ini, Dr. Adian Husaini mengingatkan kembali untuk memandang Pancasila dengan adil. Ia kemudian mengutip hasil Munas Alim Ulama NU pada 16-21 Desember 1983, yang memutuskan bahwa mengamalkan Pancasila tidak serta merta melepas diri dari Islam, tapi justru menjalankan ajarannya.
“Keputusan ini selaras perkataan Kasman, “Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, tetapi tidak melebihi Islam.” Menurut hemat Kasman, ketidakberhasilan dalam menjadikan Islam sebagai dasar negara memang adalah ujian dari Allah agar kita mandiri dalam berjuang,” tegasnya.
Ustadz Adian juga menegaskan, di era yang penuh pergolakan pemikiran saat ini, penting bagi umat Islam untuk mengawal Pancasila agar tidak menindas hak-hak konstitusional umat Islam.
“Keagungan Islam dengan syariatnya tidak boleh sekadar dijadikan alat politik. Maraknya penolakan terhadap syariat adalah imbas dari kurangnya pemahaman terhadapnya, dan penerapan yang tidak dibarengi dengan adab dan keteladanan,” pungkasnya.
Reporter: Azzam
Editor: Muh Akbar










































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=w_jB6kKQkq0Q7kNvwFZxPaO&_nc_oc=AdpQdcjzCaUi-RsvKtTkbmWl1lcOPKeQvmHowj2hd0zVSeU9Gpf3bo58Elp4J8OHYfE&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=xyuw0INZBFoeyqdTLreOYw&_nc_tpa=Q5bMBQJcPXsU1-twJf8iEHo1ho-Hck3uTJ2Ixi_Lz8T5UCHdeCPS7_nlKyKdaIQXZ9wYVPc9QKkPRxfd&oh=00_AQG1P23Pofq9-US07z7xF3D_yzwxOY8xE0G18UN9raaRkQ&oe=6A919676)


