Idul Adha merupakan hari raya istimewa bagi umat Islam. Di sini dimensi ruhiyah yang kental energi sosial mengubah situasi dan kondisi semesta, setidaknya dalam masa 4 hari. Dan, kala digali, ternyata semua keistimewaan ini berangkat dari keteguhan iman sebuah keluarga. Jadi, ada keluarga di balik spirit Idul Adha.

Keluarga itu dipimpin seorang ayah yang menjadi pembawa risalah tauhid, yakni Nabi Ibrahim alayhissalam. Sang istri bernama Hajar dengan seorang anak bernama Ismail. Anak yang “ajaib” karena dalam usia belia, ada yang mengatakan 7 tahun, telah mengerti bagaimana hidup dengan keimanan.

Hal itu dibuktikan kala sang ayah bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihnya. Kala sang ayah bertanya bagaimana pendapatnya, sang anak menjawab dengan sebuah kalimat yang amat dahsyat. Kalimat yang tak mungkin hadir kalau iman tidak mantap di dalam hati dan sistem kesadarannya.

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As Saffat: 102).

Kronologi

Kehadiran sosok anak bernama Ismail itu merupakan buah dari perjalanan panjang. Ada kronologi indah yang ditempuh oleh Nabi Ibrahim. Mulai dari impian mendapatkan keturunan hingga doa yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala.

Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Ash-Shaffat: 100).

Bahkan Nabi Ibrahim mengikhtiarkan hadirnya sosok anak ini dapat dididik dengan baik di lingkungan yang steril dari kontaminasi pragmatisme, paganisme, dan materialisme.

Upaya itu bahkan mengantarkan Nabi Ibrahim rela meletakkan anak dan istrinya di satu lembah yang tak ada tanaman dan tidak ada sumber air di sisi Baitul Harom. Semua itu dilakukan agar keluarga ini menjadi penegak sholat.

Energi Idul Adha

Dari sekelumit ulasan mengenai keluarga yang menjadi “aktor” di balik Idul Adha di atas kita dapati satu energi historis yang dapat menjadi penggerak sekaligus pemandu bagaimana mestinya Idul Adha ini berdampak terhadap pembangunan keluarga kita di era digital ini.

Pertama, keberhasilan dalam bentuk hadirnya pertolongan Allah dalam sebuah keluarga harus disertai dengan visi, langkah dan eksekusi yang nyata.

Kedua, agenda utama yang harus terus hidup di dalam keluarga adalah soal bagaimana mengokohkan keimanan, sehingga satu sama lain dalam interaksi internal keluarga landasannya semata-mata ingin mendapat ridha Allah, sehingga kala keluar rumah, rahmat dan kebaikan yang dihadirkan bagi sesama.

Ketiga, iman itu memang harus dimanivestasikan atau dibuktikan. Satu di antara jalur terbaik untuk pembuktian iman itu adalah kesiapan diri menjalankan perintah Allah, bahkan berkorban di dalam melaksanakan perintah-Nya.

Dengan demikian Idul Adha merupakan pengingat agar keluarga-keluarga Muslim sadar akan tujuan dan fokus kehidupan di dalam membangun keluarga.

Jangan malah terjebak pada arus yang sebenarnya tidak ada tuntunannya, kemudian menyesal di kemudian hari. Dan, akhirnya keluarga tidak mampu menjadi sarana terbaik untuk mendapatkan rahmat dan barokah dari sisi-Nya.

**********

Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan