Ada seorang laki-laki faqir. Pekerjaannya hanya pedagang benang wol di pasar. Meski demikian, dia sangat cinta kepada ulama. Rajin hadir di majlis ulama, berkhidmah kepada ulama, bahkan senang berbagi hadiah kepada ulama dari hasil kerjanya.
Di sela-sela kehadirannya di majlis ulama, dia kerap kali menangis dan berdoa. Tidak macam-macam permohonannya. Lelaki faqir ini berharap dikaruniai putra yang kelak bisa menjadi ulama. Itu saja cita-cita dan impiannya yang membuatnya bahagia.
Doanya dikabulkan. Allah karuniai dia dua putra yang tampan dan cerdas. Kedua buah hatinya diberi makanan yang halal dari hasil usahanya. Kedanya juga dikenalkan kepada ulama shaleh yang ada di zamannya. Harapannya, agar kedua putranya itu cinta kepada ulama, dan kelak menjadi pelanjut perjuangannya.
Di tengah semangatnya yang membara, laki-laki ini mendapat ujian hidup. Dia menderita sakit yang cukup berat. Sampai dia merasa waktu kematiannya sudah dekat. Sementara kedua putranya masih sangat muda, bahkan belum baligh usianya. Kemudian, dia berwasiat kepada ulama shaleh yang ada di kampungnya. Wasiat untuk merawat kedua putranya dan memperhatikan pendidikannya.
Ajal lelaki itu tiba, kedua putranya pun berduka. Selesai pemakaman ayahnya, kedua bocah itu dibawa ke rumah ulama yang menerima wasiat ayahnya. Sedih tentu saja ada, tapi itu justru menjadi cambuk untuk mewujudkan cita-cita ayah tercinta. Mereka semangat belajar kepada ulama di kampungnya. Ketika bekalnya habis, keduanya mendapat beasiswa untuk belajar di tempat lainnya.
Ketika beranjak dewasa, keduanya tetap pada jalan menuntut ilmu. Namun kali ini mereka harus berpisah. Sang kakak memilih untuk mengembara ke kota lain, sedangkan sang adik memilih tetap di kampung halamannya. Singkat cerita, sang kakak kemudian menjelma menjadi Guru Besar di perguruan tinggi ternama, sedangkan sang adik menjadi juru nasehat yang mencerahkan jiwa. Akhirnya, cita-cita sang ayah terwujud menjadikan kedua putranya sebagai ulama, meskipun dirinya tidak melihat sendiri hasilnya.
Nama sang kakak menjulang tinggi di dunia karena kedalaman ilmunya. Karya-karya ilmiahnya selalu mencerahkan jiwa dan menerangi akal manusia. Para ulama di zamannya juga mengakui keilmuannya. Mereka sepakat memberinya gelar Hujjatul Islam dan mengakuinya sebagai mujtahid dan mujaddid di abad kelima Hijriah.
Adapun adiknya, juga menjadi ulama shaleh yang harum namanya. Istiqamah menjadi guru ngaji Di kampung halamannya. Tak tergoda dengan rayuan dunia, bahkan tawaran menggiurkan dari penguasa. Di kalangan ulama, namanya dicatat dalam buku kalangan awliya’. Dia juga memiliki karya ilmiah yang sangat bermanfaat untuk penyucian jiwa.
Kedua bocah itu adalah al-Ghazali bersaudara. Abu Hamid, Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali dan Abu al-Futuh Ahmad ibn Muhammad al-Ghazali. Dua bocah yang menjadi ulama besar di abad kelima Hijriah. Mereka berdua bukan ulama yang turun dari langit. Mereka lahir dari tangan ayah yang cinta dan peduli pendidikan anaknya, dan guru-guru hebat yang membimbingnya.
Kisah ini diceritakan oleh Imam Tajjuddin al-Subki dalam Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubro’. Kita yang hidup di zaman ini, perlu mengambil pelajaran dari kesungguhan sang ayah, anak dan guru-gurunya. Pelajaran untuk melahirkan generasi ulama shaleh yang hebat. Ulama yang akan menjaga agama Islam dan menyatukan hati umat Islam. Ulama yang akan membimbing kita untuk membina kembali peradaban Islam.
Secara fiqih, fardhu kifayah bagi kita melahirkan ulama di tengah umat. Apalagi di tengah banyaknya ulama shaleh yang wafat selama masa pandemi ini. Kita boleh sedih dengan wafatnya ulama, tapi untuk melahirkan generasi ulama harus ada ikhtiyar yang nyata. Perlu ada kerjasama yang baik dari kita semua. Orangtua, guru, orang-orang yang punya harta, dan juga pemerintah.
Sebagai orangtua, jika kita tak mampu menjadi ulama, niatkan agar anak kita ada yang menjadi ulama. Apalagi kalau anak kita diberi anugerah kecerdasan yang baik. Tidak mesti semua anak. Seandainya ada lima anak, satu jadi ulama itu sudah bagus. Apalagi kalau bisa lebih banyak.
Sebagai guru tentu harus berjuang membimbing muridnya. Bagi yang ada kelebihan harta, jangan ragu untuk mendukung lahirnya ulama shaleh dengan sebagian harta yang Allah titipkan. Begitu juga pemerintah, harus memberikan dukungan yang optimal dalam ikhtiyar yang mulia ini.
Mudah-mudahan Allah berikan kemampuan dan kemauan kepada kita untuk melahirkan generasi ulama shaleh yang akan menjaga agama, umat dan negara yang kita cintai ini.
**********
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)















































































