Berbadan dan Berpakaian Bersih

Wanita Muslimah yang benar-benar sadar akan ajaran agamanya dan selalu melakukan tadabbur terhadap petunjuk agamanya selalu berpenampilan bersih, baik pada tubuh maupun pakaiannya. Dia selalu mandi dan membersihkan diri dan pakaiannya. Hal itu dilakukannya dalam rangka mengimplementasikan petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang memerintahkan untuk selalu mandi dan menggunakan wangi-wangian, khususnya pada hari Jum at:

“Mandilah pada hari Jum ‘at dan basahilah kepalamu meskipun tidak sedang junub, dan pakailah wangi-wangian pada tubuhmu.” (HR. Bukhari)

Barangsiapa yang hendak menjalankan shalat Jum’at, baik laki-laki maupun perempuan, maka hendaklah dia mandi. “ (hadits Abdullah bin Umar yang terdapat pada kitab Shahih Abu Uwanah, Ibnh Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Karena begitu besarnya perhatian sebagian para imam pada bersih diri dengan cara mandi, hingga mereka bependapat bahwa mandi sebelum shalat Jum’at itu wajib.

Dan Abu Hurairah, Nabi bersabda,

Kewajiban bagi setiap Muslim untuk mandi satu hari dalam satu minggu, dengan membasahi kepala dan tubuhnya.” (Muttafaq Alaih)

Demikian itu karena kebersihan merupakan salah satu sifat manusia yang paling lazim, khususnya wanita. Juga sebagai indikasi yang menunjukkan kepribadiannya yang normal, cerdas, dan dicintai. Kebersihan itu tidak hanya menjadikannya dekat dengan suaminya saja, tetapi juga pada setiap wanita yang dikenalnya dan juga muhrimnya.

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dan Nasa’i dari Jabir, di menceritakan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengunjungi kami, lalu beliau melihat seorang laki-laki yang mengenakan pakaian kotor, maka beliau pun bersabda, “Orang ini tidak mempunyai sabun yang dapat digunakan untuk menyuci pakaiannya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat membenci seseorang yang berada di tengah- tengah orang banyak berpenampilan dengan pakaian kotor padahal dia mampu mencuci dan membersihkan pakaiannya itu. Hal itu merupakan pelajaran bagi orang Muslim untuk selalu berpakaian bersih, berpenampilan rapi, serta enak dipandang.

Jika petunjuk Nabi itu ditujukan kepada orang laki-laki, maka hal itu lebih ditujukan kepada orang wanita, karena dia merupakan pangkal kebersihan, tempat kasih sayang, sumber kecantikan, kesenangan, dan ketenangan di rumah. Tidak diragukan lagi bahwa perasaan sensitif wanita dan kesadarannya yang mendalam terhadap kebersihan akan memberikan pengaruh pada rumah, suami, dan anak-anaknya, sehingga dengan perhatiannya yang serius terhadap kebersihan itu akan menjadikan mereka semua selalu menjaga kebersihan diri rapi dan selalu berpenampilan menyenangkan, memercikkan wangi-wangian pada pakaiannya, sehingga dari badannya tercium aroma yang harum, bersih dan segar.

Diantara yang menarik perhatian para peneliti pada setiap waktu dan tempat adalah bahwa petunjuk Nabi yang menganjurkan untuk selalu membersihkan diri dan pakaian serta mandi sudah ada sejak lima belas abad yang silam, pada saat di mana dunia belum mengenal kamar mandi dan belum mengenal pula istilah mandi. Di samping itu, dunia lain non-Muslim semenjak 1000 tahun belum pernah mencapai tingkat petunjuk ini dalam hal kebersihan yang sudah ada pada kaum Muslimin.

Samihah Ai Wirdey dalam bukunya yang berjudul Min Ar-Rigq laa As-Siyaadah mengatakan,

“Kita tidak perlu kembali ke hari-hari kampanye perang salib untuk mengetahui tingkat peradaban yang telah dicapai oleh Eropa. Tetapi cukup bagi kita untuk menoleh ke belakang, berapa ratus tahun yang silam, yaitu masa kerajaan Utsmaniyah. Untuk selanjutnya kita melakukan komparasi antara peradaban yang telah dicapai oleh Eropa dengan peradaban kerajaan Utsmaniyah.”

Pada tahun 1624 M, seorang pemimpin, Brandebought pernah menulis pada undangan yang dikirimkan kepada para pemimpin dan para tokoh untuk menghadiri walimah (pesta perkawinan) yang diadakannya. Dia menuliskan: “Diharapkan kepada para undangan untuk tidak mengulurkan tangannya sampai ke sikut dalam mengambil hidangan, dan tidak diperkenan untuk membuang makanan ke belakang, tidak menjilati jari-jarinya, serta tidak meludah ke dalam piring, dan tidak mengusap hidung dengan tepi kain penutup hidangan.”

Selanjutnya wanita ini mengatakan, “Ungkapan ini secara jelas menunjukkan tingkat kebudayaan dan peradaban bangsa Eropa serta pengetahuan mereka akan adab sopan santun. Pada saat yang sama, kondisi seperti itu tidak berbeda dengan apabyang terjadi di tempat-tempat lain di luar Eropa. Di istana raja Jack I, rajabInggris, bau busuk yang bersumber dari sang raja dan juga para penguasanya baik laki-laki maupun perempuan tercium di setiap penampilan mewah mereka. Bau busuk itu berasal dan pakaian mewah mereka serta Dantila ala Perancis. Demikian itulah yang terjadi di Eropa. Sedangkan di Istambul, yang merupakan negeri khilafah Islam, merupakan suatu hal yang tidak asing lagi bahwa para duta besar Eropa yang bekerja untuk kerajaan Utsmaniyah diharuskan masuk ke kamar kecil sebelum menghadap sang Sultan. Pada sekitar tahun 1730 M, dan pada masa Sultan Ahmad I, yaitu pada saat kerajaan Utsmaniyah telah mengalami kelemahan di bidang militer dan politik, istri seorang duta besar Inggris di Astanah, Lady Montague, menulis beberapa surat yang kemudian disebarluaskan. Dibdalam surat itu diungkapkan tingkat kebersihan di lingkungan kaum Muslimin, juga sopan santun mereka, serta kemuliaan akhlak mereka.

Wanita ini juga menyebutkan sedikit dari kesan yang pernah dipetikkannya: “Sesungguhnya penguasa kerajaan Utsmaniyah penuh kehati-hatian dan selalu membawa saputangan.” Wanita ini sangat kagum, hingga dia sangat menyayangi benda itu dan mengusapkannya padab mulutnya. Suatu hal yang mengherankan orang-orang Eropa adalah mereka melihat kaum Muslimin mencuci tangan mereka sebelum duduk di kursi meja makan dan juga setelah makan.”

Bagi para pembaca cukup membaca apa yang ditulis oleh seorang perawat Inggris terkenal Florance Nightngale mengenai beberapa rumah sakit di Inggris pada sekitar pertengahan abad kesembilan belas, yaitu ketika dia mengemukakan bagaimana rumah-rumah sakit itu menjadi tempat sampah dan tidak peduli pada kebersihan serta mengalami dekadensi moral. Bagaimana juga rumah sakit-rumah sakit ini mengabaikan ratusan pasien yang tidak dapat berbuat apa-apa melainkan hanya menunggu kematian saja.

Betapa besar perbedaan antara peradaban islam yang bersifat rabbani dan konprehensif itu dengan peradaban-peradaban manusia yang sangat minim.

Saudariku, sudah sepatutnya kita sebagai wanita muslimah yang beriman dengan keimanan yang lurus, senantiasa menjaga kebersihan dimana kita berada. Karena keimanan ada sebagian dari iman…

**********

Bersambung, Insya Allah..

Penulis: Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 98-100)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan