Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi modern dan rapih dalam administrasinya. Dua hal ini telah mandarah daging sejak organisasi ini didirikan oleh Kiai Dahlan di Yogyakarta lebih dari seabad silam. Dua hal ini pulalah yang di kemudian hari (baca : saat ini) menjadi salah satu pakem untuk setiap gerak Langkah organisasi yang tahun ini genap berusia 109 tahun (masehi).

Salah satu bentuk implementasi dari kerapihan organisasi Muhammadiyah adalah terpadunya gerak bantuan yang disalurkan oleh Muhammadiyah, baik di tingkat lokal maupun internasional. Di tingkat internasional, Muhammadiyah menggunakan bendera “Muhammadiyah Aid” sebagai bendera bantuan kemanusiaan.

Apa itu Muhammadiyah Aid?

Muhammadiyah Aid adalah program inisiatif Muhammadiyah untuk membantu masalah-masalah kemanusiaan internasional seperti bencana alam, kelaparan, konflik social, dan peperangan. Dalam beberapa peristiwa bencana alam maupun konflik seperti di Myanmar, Bangladesh, Nepal, Phillipina dan termasuk Palestina sendiri, Muhammadiyah Aid pernah hadir berkontribusi.

Secara kelembagaan, Muhammadiyah Aid adalah tim yang bersifat ad hoc dan bertugas memastikan berbagai program kemanusiaan Muhammadiyah di luar negeri bisa berjalan lancar. Muhammadiyah Aid sendiri terdiri dari gabungan majelis dan Lembaga yang ada di Muhammadiyah, yaitu LazisMu, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan dikomandoi oleh Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional.

Di tingkat internasional, kita mengenal banyak Lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan yang telah lebih dulu ada, seperti World Food Programme (WFP), Cooperative for Assistance and Relief Everywhere (CARE), Oxfam International, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), and Action Against Hunger (AAH).

Keikutsertaan Muhammadiyah dalam berbagai program bantuan kemanusiaan internasional merupakan salah satu bentuk implementasi hasil Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang tahun 2005 yang salah satunya mengamanatkan program internasionalisasi Muhammadiyah. Program internasionalisasi ini diwujudkan melalui berbagai aksi yang telah, sedang, dan terus diusahakan oleh Muhammadiyah, seperti pendirian cabang-cabang istimewa Muhammadiyah di berbagai negara di dunia, penerjemahan literatur-literatur Muhammadiyah ke dalam berbagai Bahasa, berkolaborasi dengan LSM-LSM lokal di berbagai negara untuk mengenalkan Muhammadiyah, hingga pengiriman bantuan kemanusiaan ke berbagai negara.

Selain Palestina, bendera kemanusiaan Muhammadiyah Aid juga telah berkibar di Myanmar dan Bangladesh untuk membantu masyarakat Rohingya, di Turki dan Nepal untuk membantu korban gempa bumi, di Filipina untuk membantu korban konflik antara pemerintah Filipina dan MORO, dan Thailand yang mengalami konflik di wilayah Thailand Selatan.

Adanya Muhammadiyah Aid menjadikan bantuan masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui Muhammadiyah (LazisMu) menjadi lebih padu, proporsional, transparan, terukur, dan tepat sasaran karena rapih dan modernnya tata laksana serta struktur program Muhammadiyah Aid.

Salah satu contoh bagaimana modernnya struktur kerja Muhammadiyah Aid terlihat dari pembagian kerja antar elemen yang tergabung di dalamnya. LazisMu bertugas sebagai filantropis yang focus pada penggalangan bantuan dari masyarakat. MDMC sebagai eksekutor lapangan menjalankan kerja-kerja kemanusiaan di daerah bencana. Dan LHKI sebagai komandan sekaligus diplomat yang menjalankan proses diplomasi, negosiasi, dan pembicaraan-pembicaraan lain menyangkut proses penempatan bantuan dan tim kemanusiaan Muhammadiyah di berbagai negara. Ketiga elemen tersebut saling bekerjasama atas nama bendera Muhammadiyah Aid dengan disokong juga oleh majelis-majelis dan Lembaga lainnya di kalangan Muhammadiyah.

Kerja-kerja kemanusiaan oleh Muhammadiyah di tingkat lokal maupun internasional kadangkala sunyi dari hingar bingar pemberitaan media karena Muhammadiyah berprinsip membantu secara kontinyu hingga tuntas yang memerlukan waktu tidak sebentar, bahkan bertahun-tahun. Amplifikasi sebuah bantuan kemanusiaan oleh media biasanya hanya di saat-saat awal saja.

Dalam satu hingga dua minggu awal akan ramai diberitakan di berbagai media. Namun setelah dua minggu, headlines berita berganti dan euphorianya akan berganti juga. Bagi Muhammadiyah, ada atau tidak ada sorot lampu showbiz di media, komitmen akan program bantuan kemanusiaan di dalam maupun luar negeri akan terus berjalan.

Sebagai contoh terbaru adalah Muhammadiyah membangun Madrasah LazisMu Muhammadiyah di camp Shatila di Lebanon bagi para pengungsi Palestina yang ada di Lebanon. Jika di cari di pemberitaan media massa, kabar ini tentu tidak akan ketemu.

Namun dalam sunyinya pemberitaan, Muhammadiyah melalui bendera Muhammadiyah Aid nya terus bergerak membantu rakyat Palestina yang berdiaspora ke berbagai negara akibat penjajahan. Begitu pula dengan yang terjadi di Myanmar dan Bangladesh. Saat sorot kamera media telah beralih ke isu lain, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Aid tetap konsisten membangun sekolah di Cox Bazar bagi masyarakat Rohingya.

Muhammadiyah akan terus bergerak membantu siapapun yang memerlukan bantuan tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, golongan, bahkan berbeda negara sekalipun. Ini adalah komitmen dasar kemanusiaan yang telah mandarah daging sejak organisasi ini didirikan.

***********

Penulis: Andi Azhar, M.BA
(Penulis Buku Politik Inklusif Muhammadiyah)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan