Wanita Muslimah yang benar-benar menyadari petunjuk agamanya dan mengetahui kedudukan tinggi yang diberikan Islam kepadanya sejak lima belas abad yang silam, niscaya akan mengetahui bahwa kedudukan wanita pra Islam di seluruh dunia, di negara-negara yang memeluk agama kuno khususnya India dan Romawi, dan di abad pertengahan di dunia Kristen serta di negara-negara Arab pra Islam, benar-benar berada pada kondisi yang sangat buruk. Becermin dari kondisi itu, wanita Muslimah akan semakin bertambah kebanggaannya pada kepribadian Muslimahnya, juga agamanya yang benar, serta kedudukan kemanusiaannya yang tinggi.

Sedangkan kondisi wanita di tempat berlakunya syari’at-syari’at kuno, telah disimpulkan oleh Jawaharlal Nehru dalam bukunya yang berjudul Iktisyafu Al-Hind, di mana dia mengatakan, “Kondisi perundang-undangan wanita seperti yang dikatakan oleh Manue tidak diragukan lagi sudah sangat buruk. Mereka semua selalu bersandar pada bapak, suami, atau anak laki-laki.” Karena seperti yang diketahui bersama bahwa warisan yang ditinggalkan orang yang meninggal hanya diperuntukkan bagi orang laki-laki saja tanpa diberikan sedikit pun kepada wanita.

Nehru sendiri telah memberikan komentar terhadap hal itu melalui ungkapannya: Bagaimana pun kondisinya, keadaan wanita pada masa India kuno lebih baik daripada keadaan mereka di Yunani kuno atau Romaw kuno, atau pada masa Nashrani pertama.” Kedudukan wanita di dalam hukum Romawi kuno didasarkan pada tidak adanya pengakuan terhadap hak-hak wanita, dan terus ditempatkan berada di bawah wasiat, karena dia wanita, baik yang masih kanak-kanak atau yang sudah dewasa. Dia selalu berada di bawah wasiat bapak atau suaminya, serta tidak memiliki kebebasan sedikit pun dalam bertindak. Secara keseluruhan dia akan selalu menjadi orang yang mewarisi tanpa pernah menjadi pewaris.

Di dalam agama Romawi, wanita adalah suatu barang yang selalu ikut laki-laki. Dengan demikian itu, dia telah kehilangan kepribadiannya dan tidak mendapatkan kebebasan bertindak. Hal inimasih bercokol di sebagian besar negara-negara modern yang undang-undangnya mengenai hak-hak wanita masih terpengaruh oleh Romawi. Dan pengaruhnya masih tetap kita rasakan sampai abad kedua puluh ini.

Dengan mengikuti undang-undang Romawi dan pengarulhnya, kondisi wanita pada masa Nashrani pertama sampai pada puncak keburukannya seperti yang disampaikan pemimpin India Jawaharlal Nehru. Sehingga sebagian seminar keagamaan meragukan kemanusiaan wanita dan tabi’at jiwanya. Lalu diadakan berbagai seminar di Roma guna mengkaji tentang wanita dan jiwanya, apakah dia menikmati jiwa seperti yang dirasakan oleh orang laki-laki, ataukah jiwanya seperti jiwa binatang, misalnya ular, anjing? Bahkan salah satu pertemuan di Roma menetapkan bahwa wanita sama sekali tidak mempunyaijiwa, dan dia tidak akan pernah dibangkitkan pada kehidupan yang lain.

Sedangkan wanita di Jazirah Arab, pada masa sebelum Islam, wanita di tengah-tengah banyak kabilah menjadi objek hinaan dan celaan. Dan anak wanita menjadi aib yang selalu dihindari oleh banyak orang tua dengan cara menguburnya hidup-hidup pada saat lahir.

Dakwah Islam telah mengupas kondisi yang sangat menyedihkan itu yang dialami kaum wanita di beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wata’ala telah melukiskan rasa malu dan hina yang hinggap pada diri masyarakat pada saat itu:

“Dan apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, maka hitamlah (merah padam) mukanya, dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan dirinya dan orang-orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup ke dalam tanah? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (Qs. an-Nahl: 59)

Allah Subhanahu Wata’ala juga melukiskan besarnya dosa menguburkan anak wanita yang masih suci bersih tanpa dosa dalam keadaan hidup:

” Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apa mereka dibunuh.” (At-Takwir: 8-9)

Sesungguhnya itu merupakan kondisi yang sangat menyedihkan dan menggores rasa kemanusiaan, khususnya kemanusiaan wanita di negara Arab pra lslam, juga di negara-negara berperadaban pada saat itu, khususnya negara Romawi. Serta pada masa Nashrani pertama dan di sebagian besar negara modern yang undang-undangnya mengenai hak-hak asasi masih terpengaruh oleh perundang-undangan Romawi, seperti yang diketahui oleh banyak ahli hukum.

Wanita Muslimah yang benar-benar sadar akan agamanya pasti mengetahui nikmat agung yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya ketika terbitnya matahari yang menyebarkan sinar ke seluruh dunia Arab:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Di antara yang memenuhi jiwa wanita Muslimah baik itu berupa kebahagiaan, kerelaan, ketenangan, dan kebanggaan serta bertambahnya tinggi kedudukannya adalah ditempatkannya posisi ibu di atas posisi bapak. Pernah datang seorang laki-laki kepada Nabi seraya bertanya kepadanya:

“Wahai Rasulullah, ‘Siapakah orang yang paling berhak saya pergauli
dengan baik? Rasulullah menjawab: Tbumu!’ Orang itu bertanya lagi:
Lalu siapa? 1bumu!’ jauwab beliau. Lalu siapa lagi? Tanya orang itu.
Beliau pun menjawab: lbumu!’ Selanjutnya bertanya: Lalu siapa?
Beliau menjawab: Bapakmu!’.” (Muttafaq Alaih).

Demikian itulah wanita diistimewakan penciptaan dan bentuknya serta tugasnya mengandung, menyusui dan mengasuh anak. Sesungguhnya semua itu merupakan tugas yang sangat berat dan pekerjaan yang tidak ringan. A-Qur’an telah melukiskan hal itu melalui firman Allah Subhanahu Wata’ala:

“Dan, Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orangtua, ibu dan bapak. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kalian kembali.” (Luqman: 14)

Berbeda dengan usaha yang berat yang dipikulkan di pundak wanita itu, laki-laki dibebani tugas memimpin keluarga dan kewajiban mencari nafkah. Namun demikian, dia (kaum bapak) tidak dapat mencapai posisi tertinggi yang telah diperoleh kaum ibu dalam Islam, sebagaimana kita telah mengetahui bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada seseorang yang menanyakan siapa yang paling berhak dipergauli dengan baik pada hadits di atas.

**********

Penulis : Ustadz Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi, Jati Diri Wanita Muslimah, h. 79-83

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan