“Tidak mungkin saya akan dapat melupakan hari itu. Saya sedang shalat Jumat di Sekolah Muallimin Muhammadiyah Ketanggungan Yogyakarta. Tahunnya sekitar 1940 atau 1941-an. Kebetulan sekali yang menjadi khatib dan imam shalat Jumat adalah Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah yang sekaligus guru di Madrasah Muallimin tersebut, yaitu KH Mas Mansur. Apa yang tidak pernah akan saya lupakan?
Peristiwanya sungguh mengesankan. Mengesankan sekali. Tempat di ruang shalat sudah penuh dan saya seperti halnya mereka yang tidak kebagian tempat, lalu terpaksa harus mendengarkan khutbah serta shalat di luar, di bawah terik matahari yang memang sedang menyinarkan cahayanya menyengat kulit.
Pada waktu KH Mas Mansur membaca surat al-Fatihah, tanpa saya sadari air mata meleleh di pipi. Saya menangis tersedu-sedu. Suaranya mengalun, sunguh-sungguh menyentuh perasaan, menusuk jantung rongga dada. Senar-senar jiwa yang paling halus bergetar dan begitulah yang terjadi. Air mata meleleh. Saya menangis terisak-isak. Terisak-isak. Padahal waktu itu matahari sedang panas memancar.
Mengapa nian dapat demikian? Baru kemudian saya mendapat keterangan dari ayah di kampung bahwa hal yang demikian terjadi, disebabkan bersihnya hati si pembaca ayat-ayat suci al-Quran itu tadi. Hati bersih seseorang bila membaca kalam Ilahi memantul dan mampu memberikan rasa kekuatan serta kedamaian bagi siapa yang mendengarnya, lebih-lebih bila cara memperdengarkannya dengan khusyu’ pula.”
Demikian penuturan Soebagijo I.N., penulis biografi KH Mas Mansur, yang menuliskan pengalamannya dalam pengantar buku tersebut.
Saya pun pernah mengalami kejadian serupa. Waktu itu akhir tahun 80-an, saya bermakmum di belakang imam shalat subuh di masjid al-Hijr-2 Universitas Ibn Khaldun Bogor. Di tengah kantuk yang luar biasa karena sehari sebelumnya mengikuti daurah, saya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang berbeda. Saya seperti sedang shalat di masjidil haram, meski waktu itu belum berhaji dan umrah. Saya merasa betul-betul berada di depan Ka’bah.
Hal tersebut terjadi karena saya menikmati bacaan surat al-Fatihah dan surat lain yang dibaca sang imam. Ada getaran yang menyentuh keseluruhan tubuh dan jiwa sehingga memberikan suasana yang lain seakan-akan berada dekat sekali di depan Ka’bah Baitullah. Subhanallah. Saya benar-benar menikmati shalat subuh kala itu dan kantukpun lenyap entah ke mana. Imam shalat subuh waktu itu adalah pimpinan Pesantren Ulil Albab tempat saya melakukan daurah, yang sekarang jadi pimpinan saya di kampus, yaitu Direktur Pascasarjana UIKA Bogor Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin MS.
Apa yang terjadi pada kedua kejadian di atas kira-kira sebabnya sama, yaitu ketulusan dan kebersihan hati orang yang membacanya. Mengapa bisa demikian? Bagaimana hati yang bersih bisa “menular” pada orang lain, terutama saat membaca ayat-ayat suci al-Quran? Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ membahas hal ini dalam bab “Keajaiban Hati”.
Menurut Imam Ghazali dalam diri manusia terdapat empat macam sifat. Sabu’iyah (kebuasan), bahimiyah (kebinatangan), syaithaniyah (setan), dan rabbaniyah (ketuhanan). Semua sifat itu berkumpul dalam hati. Masing-masing dari sifat itu bisa menonjol bisa melemah bergantung manusia itu sendiri. Dialah yang menentukan sifat mana yang akan mewarnai dirinya. Jika sifat rabaniyahnya berhasil mengalahkan dan mengendalikan ketiga sifat yang lain maka yang akan timbul adalah sifat-sifat manusia yang baik seperti iffah (menjaga diri), qana’ah (merasa cukup dengan yang ada), tenang, zuhud (tidak gila dunia), wara’ (menjauhi perbuatan dosa dan syubhat), takwa, gembira, malu, jujur, berani, dermawan, suka menolong, sabar, tahan menderita, memaafkan, teguh pendirian, mulia, pandai dan sebagainya.
“Hati adalah cermin”, kata Bimbo. Setiap perbuatan yang dilakukan manusia akan menentukan gambaran cermin tersebut. Perbuatan yang baik dan terpuji akan menambah jelas cermin hati, cemerlangnya, cahayanya dan terangnya, sehingga kebenaran bersinar dalam hati dan hakikat perkara yang dicari dalam agama akan mudah tersingkap. Rasulullah bersada, “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, maka Dia akan menjadikan penasihatnya baginya dari hatinya.” (HR Dailami). Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.” (QS ar-Rad:28).
Sedangkan perbuatan jahat dan tercela akan menggelapkan cermin dan menimbulkan kerak yang akan bertumpuk-tumpuk menutupinya. Hati tidak bisa digunakan lagi untuk bercermin dan mencari jawaban atas hakikat perbuatannya. Ia terhijab dari kebenaran secara keseluruhan. Allah berfirman, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS al-Muthaffifin:14).
Manakala dosa-dosa bertumpuk maka hati menjadi gelap. Ia tertutup dari kebenaran dan kebaikan agama. Ia akan mudah melakukan kemaksiatan dan menganggap remeh urusan akhirat. Sebaliknya ia akan menganggap agung dan mulia urusan-urusan duniawi. Jika hatinya diketuk dengan urusan akhirat nasihat tersebut akan terpental. Masuk teling kiri keluar telinga kanan.
Inilah hati yang hitam. Maimun bin Mahran berkata, “Apabila seorang hamba berbuat dosa maka noda hitam menitik pada hatinya. Jika ia mencabut serta bertaubat maka hati itu kembali mengkilap. Kalau ia kembali berbuat dosa maka bertambahlah titik hitam itu, sehingga hatinya tinggi. Maka, itulah karat.”
Nabi saw bersabda, “Hati orang mukmin itu bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar dan hati orang kafir itu hitam lagi terbalik.” (HR Ahmad dan Thabrani). Kala lain beliau saw bersabda, “Hati itu ada empat. Hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar, maka itu adalah hati orang mukmin. Hati yang hitam lagi terbalik maka itu adalah hati orang kafir. Hati yang tertutup yang terikat tutupnya maka itu adalah hati orang munafik, serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak.” (HR Ahmad dan Thabrani).
Hati memang seperti cermin. Jika mengkilap, kita bisa bercermin dan melihat diri kita sendiri. Kita akan mudah menanyakan pada nurani kita, apakah perbuatan kita yang kita lakukan itu baik atau buruk, benar atau salah. Allah akan memberikan ilham kepadanya melalui cermin itu. Intuisi ruhaninya menjadi tajam. Perbuatan baik dan taubat akan mengkilapkan cermin kita. Sedangkan dosa dan kemaksatakan akan membuat kusam cermin kita bahkan berkarat. Ia tidak bisa menjadi sumber bertanya akan kebenaran karena telah tertutup kerak. Orang bilang, tidak punya nurani.
Bulan Ramadhan adalah bulan terbaik saatnya kita membersihkan diri, membersihkan jiwa. Bulan Ramadhan adalah bulan di mana kita berkesempatan membersihkan cermin diri kita. Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit kita lap cermin tersebut dengan banyak bertaubat dan mengerjakan amal kebajikan. Maka, apa yang dijanjikan Rasulullah bagi orang yang berpuasa akan menjadi bersih laksana cermin yang mengkilap. Beliau saw bersabda, “Siapa yang berpuasa dan bangun malam karena iman dan karena mencari keridhaan Allah, niscaya ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan ibunya.” (HR Ibnu Khuzaimah)
Semoga akhir Ramadhan cermin hati kita menjadi mengkilap sehingga kita mudah mematut-matut diri di hadapannya, alias senantiasa melakukan introspeksi diri (muhasabah).
************
Penulis: Dr. Budi Handrianto
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)












































































