Sesungguhnya puasa membuat seorang muslim terbiasa memiliki akhlak yang baik, mudah mengerjakan berbagai macam amal taat, menjauhi perbuatan haram dan makruh, berbuat baik pada orang-orang yang membutuhkan, dan melembutkan hatinya untuk terus mengingat Allah. Maka manfaat puasa itu besar dan banyak. Manfaatnya jelas dan diketahui oleh banyak orang. Tampak pada diri orang yang berpuasa rasa khauf dan khasy-yah, tunduk, dan dekat dengan kebaikan. Hal yang tidak nampak pada orang yang tidak berpuasa.

Sepatutnya disadari bahwasanya puasa tidak bisa mendatangkan manfaat dan sifat terpuji ini kecuali jika pelaku puasa itu menjaga puasanya dari hal-hal yang merusak puasanya. Puasa itu bagaikan pakaian. Jika pemilik pakaian menjaganya, merawatnya, menutupinya, serta melindunginya dari panas dan dingin, pakaian tersebut akan menjadi pakaian yang nyaman dipakai untuk badannya. Pakaian tersebut akan membuat tampak indah tampilannya. Namun, jika pemilik pakaian tersebut tidak merawat pakainnya, bisa jadi pakaian tersebut robek dan kotor sehingga pakaian tersebut tidak lagi bermanfaat. Tidak bisa menjaga dirinya dari panas dan dingin, tidak pula menutupi auratnya. Seperti inilah perumpamaan puasa. Jika pelaku puasa tidak melindungi puasanya dari hal-hal yang merobek dan menodai puasanya, puasa tersebut tidaklah memberikan manfaat kepada pelakunya kecuali letih, lapar, dan haus. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan,

“Betapa banyak orang yang berpuasa jatahnya dari berpuasa hanyalah lapar dan haus. Betapa banyak orang yang shalat (qiyam Ramadan atau tarawih) dan jatahnya dari shalatnya hanyalah begadang.” [HR. Al Hakim dalam al-Mustadrak 1/431, Ahmad dalam al-Musnad 2/373, al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra 4/270, dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir 12/382 no. 13413. Al-Hakim berkata, “Sahih]

Kenapa bisa? Karena dia tidak menjaga dan melindungi puasanya dari hal-hal yang wajib ia jauhi. Orang yang berpuasa yang melepas kontrol lisannya dalam berkata-kata sehingga dia mengatakan yang haram, entah itu ghibah, namimah, mencaci maki, dan semua perkataan yang jelek, maka orang ini telah merobek mengoyak puasanya dengan aktivitas lidahnya. Lidah tidak akan ikut berpuasa kecuali dia ditahan agar tidak mengucapkan yang haram. Ia tidak akan ikut berpuasa kecuali digunakan oleh pemiliknya untuk mengingat Allah, membaca alQur’an, mengucapkan kalimat tasbih dan tahlil, serta berbagai amalan saleh lain yang dapat dilakukan oleh lisan. Inilah aktivitas lisan yang semestinya diperhatikan oleh orang yang berpuasa dan juga orang yang tidak berpuasa. Akan tetapi, lebih ditekankan lagi ketika puasa.

Demikian pula orang yang matanya jelalatan memandangi hal-hal yang haram. Dia tidak tundukkan pandangannya. Saat puasa malah sering pergi ke mall, ke tempat-tempat wanita berkumpul, ke dan tempat-tempat penuh godaan. Dia senangkanmatanya memandang yang haram, memandangi perempuan serta pandangan haram yang lain. Atauboleh jadi dia duduk di rumahnya sambil membuka layar televisi, video, atau kanal di internet. Dia menonton berbagai macam acara, film dan sebagainya dari kanal Amerika atau Eropa, bahkan dari semua kanal sampah di jagat ini. Yang disebarluaskan di kanal-kanal tersebut hanyalah pikiran cabul, aksi mengumbar nafsu dan tidak punya rasa malu, gambar telanjang, dan perbuatanperbuatan yang keji. Orang yang duduk di rumahnya sambil dia memandang hal ini, padahal dia sedang puasa, maka tiada lagi sisa pahala puasa untuknya. Yang tersisa dari puasanya tinggal lapar dan haus tiada tersisa puasa yang bermanfaat baginya di sisi Allah.

Demikian juga orang yang berpuasa dan tidak menjaga pendengarannya dari yang Allah haramkan. Mendengarkan nyanyian, seruling, alat-alat musik, dan perkataan yang haram. Dia dengarkan caci maki dan celaan, dia nikmati ghibah dan namimah, menggunjing dan kalimat dan adu domba. Orang ini tidak mendapat manfaat apa-apa dari puasanya di sisi Allah meskipun ia tidak diperintahkan untuk mengulang puasanya. Secara lahiriyah dia berpuasa, namun tidak ada baginya pahala di sisi Allah. Puasa semacam ini adalah puasa yang terkoyak dan robek. Dia adalah puasa yang jika diibaratkan pakaian tidak menutupi aurat apalagi memperindah penampilan, tidak menghangatkan badan dari dingin tiada pula melindungi dari panas. Dia adalah puasa jika diibaratkan pakaian yang jelek tenunannya, tidak berkualitas tenunannya, usang tiada memberi manfaat baginya.

Maka orang yang berpuasa wajib mengingat hal di atas dan menjaga puasanya. Jika perutnya puasanya dari makan dan minum, kemaluannya puasa dari hubungan biologis, hendaknya ia puasakan lidahnya dari perkataan yang haram, matanya dari pandangannya yang haram, pendengarannya dari suara yang haram, dan badannya berpuasa dari segala hal yang diharamkan oleh Allah.

Hal yang diharamkan atas orang yang berpuasa ada dua:

1.Sesuatu yang haram semata-mata karena puasa dan mubah seandainya tidak puasa, misalnya makan, minum, dan mengkonsumsi apa yang Allah halalkan. Ini haram baginya di masa puasa saja.

2.Haram atasnya berbagai hal yang sejak dulu haram sebelum dia berpuasa, akan tetapi kadar haramnya itu bertambah untuk orang yang berpuasa selama ia berpuasa. Itulah semua maksiat dan perbuatan yang haram. Maksiat itu haram bagi orang yang berpuasa dan tidak berpuasa, namun bagi orang yang berpuasa haramnya lebih keras. Kenapa lebih keras keharamannya? Karena maksiat tersebut di samping dia haram dan menyebabkan dosa, dia dapat merusak pahal dan membatalkan pahala puasa di sisi Allah. Di samping perbuatan tersebut haram dan merupakan dosa sepanjang tahun baik di saat puasa maupun tidak.

Oleh karena itu, wajib bagi orang yang berpuasa untuk mengingat hal-hal di atas. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah memberikan kita bimbingan untuk menahan lisan dari ucapan yang haram. Sampai-sampai jika orang yang berbicara dengan kata-kata yang menyudutkan, mencelanya, melontarkan sumpah serapah padanya, jangan dia balas.

Nabi mengajarkan,

“Jika ada yang mencelanya atau mencaci makinya, hendaknya dia katakana, ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa.’ ”

Tentang makna hadits ini ada beberapa pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa ucapan “inni shaim” (saya sedang puasa) diucapkan dengan lisan, dia katakan kepada orang yang mengajak dia ribut kalau dirinya sedang berpuasa. Sehingga dalam konteks ini maknanya adalah, “Seandainya bukan karena aku sedang puasa, tentu aku akan balas cacianmu.”

Pendapat kedua mengatakan bahwa kalimat ini diucapkan pada hati dan pada dirinya. Dia ingatkan dirinya kalau dia berpuasa sehingga dia tahan lisannnya agar tidak membalas orang yang mencaci makinya atau mencelanya.

Yang benar adalah keduanya. Hendaknya dia ucapkan “Saya sedang berpuasa” di hatinya dan lisannya. Ia ingatkan dirinya untuk mengendalikan amarah dan tahan lisannya untuk membalas. Padahal membalas caci maki asalkan dengan yang semisal hukumnya boleh karena hal tersebut adalah qishas.Meskipun demikian, orang yang berpuasa menahandirinya untuk melakukan itu. Kenapa? Karena hal ini bisa mempengaruhi puasanya. Lalu bagaimana jadinya orang yang lebih dahulu menzalimi orang lain dengan celaan, caci maki, ghibah, dan adu domba?

Maka hadits di atas adalah dalil penting wajibnya menjaga lisan. Lisan sendiri pada hakikatnya memiliki bahaya yang sangat banyak pada seseorang baik dalam kondisi puasa maupun di luar puasa. Orang banyak masuk neraka sebab lisan sebagaimana hadits Nabi,

Tidaklah manusia ditelungkupkan di neraka pada wajahnya kecuali hasil panen dari lidahnya.”[ HR. Ahmad 5/233, 237; at-Tirmidzi no. 2616; ibnu Majah no. 3973; Abd ibn Humaid dalam al-Muntakhab no. 212. Disahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5136]

Lidah tidak lelah ketika berbicara. Lidah merasakan kenikmatan dengan bicara dan lidah sulit kalau tidak berbicara. Akan tetapi, dampaknya besar dan siksa karenanya pedih. Wal’iyadzu billah.

Oleh karena itu, kegiatan berbicara ditampakkan indah oleh setan untuk banyak orang. Padahal, kegiatan berbicara itu memotong tenggorakan dan uratnya, mematikannya dan menyebabkan dia tertelungkup pada wajah dan hidungnya. Oleh karena itu seorang penyair mengatakan,

Jagalah lisannmu wahai manusia, jangan sampai ia mengigitmu karena dia adalah ular. Betapa banyak orang yang di alam kubur menjadi korban lisannya, yang ketakutan berjumpa dengan orang-orang yang gagah berani”

Penyair lain mengatakan,

Ada orang yang mati gara-gara tergelincir lidahnya dan umumnya tidak ada orang yang mati gara-gara terpeleset kakinya. Maka terpelesetnya lisan bisa menghilangkan kepalanya, sedangkan terpelesetnya kaki akan sembuh setelah beberapa waktu lamanya”

Saudaraku, semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari segala perbuatan yang bisa membuat puasa kita menjadi sia-sia, dan semoga kita senantiasa berada dalam kebaikan sehingga keberkahan dan keutamaan bulan Ramadhan bisa kita raih dengan maksimal, Aamiiin..

**********

Sumber: Mutiara Ramadhan, Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I., hal 4-14

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan