MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Cuaca hari itu sedikit terang. Baru saja Hery sudah sarapan setelah belajar beberapa jam di asramanya yang terletak di Jalan Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.

Pemuda 22 tahun itu salah satu santri di program Sekolah Dai Wahdah Islamiyah angkatan ke delapan belas. Ia berasal dari Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Hery, begitu sapaan akrabnya, tak terhalang oleh keadaan ekonominya yang memaksanya menjadi kuli bangunan. Tak punya biaya cukup untuk sekadar melanjutkan pendidikannya, ia justru memilih untuk membantu kedua orang tuanya dengan bekerja sebagai buruh bangunan.

“Saya dulu kerja proyek, kuli bangunan, kerjain saluran, masang keramik juga, mengecat segala macam lah. Upah cukup buat adek dan bapak sama mamak,” ujanya, Kamis (26/2/2021).

Bekerja sebagai kuli, Hery bersyukur dengan upah pas-pasan guna menghidupi dirinya dan keluarganya di kampung. Dua tahunan menjalani profesinya itu, ia kemudian tak menyangka, jika garis takdirnya akan membawanya ke kota Makassar. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk memperdalam ilmu agamanya.

Ia bercerita sewaktu dulu masih di SMA, ia bergaul dengan teman-teman yang jauh dari masjid. Alhasil, ia pun terpengaruh dengan lingkungannya, salah satunya karena temannya adalah perook aktif. Sampai pada suatu ketika, ada seorang teman yang mengajaknya untuk belajar mengaji.

“Teman saya ajak saya mengaji. Kebetulan saya memang saat itu mau belajar, akhirnya keterusan, sampai saat ini,” tukasnya.

Ia sekarang bersyukur, berkat pertemuan yang tak segaja itu perlahan-lahan ia mencoba memperbaharui kehidupannya. Berhenti merokok, kemudian belajar, dan ia pun telah siap jika ditugaskan untuk berdakwah ke mana saja. Bahkan ia telah menghafal lima juz Al-Qur’an.

“Insya Allah,” pungkasnya.

Laporan: Wawan
Editor: Muh Akbar

Tinggalkan Balasan