Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan di muka bumi ini. Dia adalah makhluk yang dibekali dengan berbagai macam keistimewaan dalam menjalani skenario hidup.

Demi cita-citanya dia rela menghadapi tantangan dunia yang seketika memberikan kerugian baginya. Kebahagiaan dunia telah ditampakkan dihadapan matanya, membuat dirinya lupa di bumi mana ia berpijak. Selama ini, pandangan hidupnya hanya dipersembahkan untuk menggapai dunia yang fana. Setiap saat hanya dihantui dengan masa depan.

Zaman demi zaman bergantian, mengharuskan dirinya tergiring dengan arus perubahan kebebasan. Mengejar dunia pun menjadi kesibukannya. Dia meletakkan dunia di hatinya, sehingga membuat dirinya terombang-ambing pada ambisi duniawi.

Wahai manusia yang lemah, kemana akan kau bawa dirimu?

Ketahuilah bahwa hidup adalah pertarungan antara kebenaran dan keburukan. Kalangan pejuang kebenaran menorehkan kehebatan sabar dan kekuatan iman. Sementara penganut kebatilan mencatatkan kelalaian dan kesesatan.

Dunia ini menampakkan kebahagiaan yang membuat manusia terperdaya dengannya, namun jika ia menakar dunia dengan kesholehan maka niscaya dirinya akan selamat. Boleh saja dia akan menjadi orang-orang yang selamat dengan kebahagiaan dunia yang fana dan akhirat yang kekal.

Sekarang, pahami kemana akan berpijak. Kita tidak ingin menjadi hamba dunia, namun tidak juga meninggalkan urusan dunia. Kebanyakan orang menjadikan dunia sebagai tujuan dan berambisi untuk menggapainya, sehingga sering berandai-andai lupa ada yang Maha Pemberi, yang memberikan segalanya jika kita dekat kepada-Nya. Sebagian yang telah merasakan himpitan dunia, mulai sadar akan tujuan hidupnya.

Akhirnya kegelapan dunia sekejap berubah menjadi lembaran sejarah baru yang lebih cerah. Ambisi dunia mulia terkikis dengan amaliyah (kegiatan) mendekatkan dirinya kepada sang Maha Pencipta.

Dunia pun tunduk dihadapannya, silih berganti kesenangan dan kebahagiaan berdatangan menghampirinya. Tapi melalui amaliyah kesholehannya, membuat dirinya sadar bahwa ini semua hanya bersifat sementara.

Sayangi dirimu dengan mengenal tujuan hidupmu. Perkara dunia, tidak seindah yang kita bayangkan. Jadi, perbanyaklah muhasabah (introspeksi) terhadap apa yang telah tercapai. Niatkan kebaikan dan harapan mendapat keridhaan-Nya apa yang akan diperbuat, niscaya hal yang berbau kebusukan terhindar darimu.

Letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu. Dunia berada pada genggaman tangan, akan menjadikan kita tidak terjebak pada sikap terlalu cinta dengan dunia. Hakikat hidup di dunia akan terasa bermakna dan bermanfaat, disaat kita tidak lagi dipenjara dengan ambisi dunia.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

اِرْتَـحَلَتِ الـدُّنْـيَـا مُـدْبِرَةً ، وَارْتَـحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِـكُـلِّ وَاحِدَةٍ مِـنْـهُمَـا بَـنُـوْنٌ ، فَـكُـوْنُـوْا مِنْ أَبْـنَـاءِ الْآخِرَةِ ، وَلَا تَـكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَـاءِ الدُّنْيَـا ، فَإِنَّ الْـيَـوْمَ عَـمَـلٌ وَلَا حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.

“Sesungguhnya dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak, karenanya, hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan kalian jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini adalah hari amal tanpa hisab (di dalamnya), sedang kelak adalah hari hisab tanpa amal (di dalamnya).” (HR. al-Bukhari).

************

Penulis: Dzulkarnain, S.E., ME
(Ketua PD LIDMI Makassar)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan