Kasih sayang orang tua bukan hanya perasaan semata kepada keluarganya namun pengorbanan yang berat demi mendatangkan kebahagiaan. Bahkan, dalam satu kondisi mereka rela mengorbankan nyawa demi menghilangkan kesedihan dan kepedihan orang yang disayanginya.

Pengorbanan yang melampaui batas yang tidak ditimbang lagi. Semuanya itu dilakukan, agar kelak yang disayanginya bisa tersenyum manis menjalani hidupnya. Terkadang insan mulia ini menyembunyikan keluh kesahnya, menahan air matanya, dan berupaya kuat, hanya untuk menahan kegelisahan dan keputusasaan dari orang yang disayanginya.Orang yang disayanginya adalah buah hatinya atau anaknya.

Setiap orang tua, memiliki titipan meski tidak pernah disampaikan. Titipannya sedikit dan tidak sebanyak titipan anak kepada orangtuanya. Titipannya adalah cukup sang anak sukses dan bahagia. Insan mulia ini dalam setiap ungkapan harapan kepada anaknya, jarang atau bahkan tidak pernah mengharapkan imbalan atas pengorbanan yang diperbuat selama hidupnya.

Maka sangat wajar agama Islam memuliakan kedua insan ini dengan memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada keduanya, walau mereka ingkar terhadap kebenaran Islam. Dan masih banyak lagi kemuliaan yang hanya diperuntukkan untuk mereka.

Melihat orang tua yang mulai termakan usia, membuat sebagian anak mengubah motto hidupnya untuk bisa membahagiakan keduanya, memberangkatkan haji ke Baitullah dan impian lainnya.

Tapi kadang kali, orang tua menanggapi dengan ungkapan kasih sayang “Nak, cukup kamu sehat, ibu dan bapak sudah bahagia”. Sekali lagi, mereka tidak butuh imbalan. Tapi anak yang sadar terhadap pengorbanan mereka akan berupaya membahagiakan keduanya fiddunya wal akhirah.

Titipannya adalah cukup bahagia dan sukses. Tapi engkau yang jauh dari kehidupannya. Mereka berharap, agar engkau kembali kepada keduanya menjadi orang yang lebih baik. Mereka melepaskanmu dari pelukan hidupnya, karena keyakinan terhadap dirimu. Jadi buatlah mereka bahagia dan berupayalah untuk menghalangi kesedihan dari hidupnya.

Engkau sang Anak, jadilah investasi kebaikan dunia dan akhirat untuk keduanya. Seringlah doakan kebaikan dan ampunan untuk keduanya. Jangan pernah lepas dari ibadah-ibadah kepada Allah Ta’ala, karena sejatinya apa yang kau perbuat itu pula yang akan dipetiknya.

Engkau yang jauh, sering-seringlah mengirimkan kabarmu kepadanya, karena itu sangat berarti bagi mereka. Meski engkau sibuk mengejar kesuksesanmu, meski engkau mubaligh dengan jadwal ceramah yang menumpuk ataukah kesibukan dalam mengajak orang lain pada ketaatan, atau apapun profesimu, tetaplah alirkan kebahagiaanmu untuk mereka.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631).

***********

Penulis: Dzulkarnain, S.E., M.E
(Ketua LIDMI Makassar, Aktivis Dakwah)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)