“Barang siapa ingin mengetahui hakikat dirinya maka hendaklah dia menghadapkan dirinya pada Al-Qur’an”-Hasan Al-Bashri
Inilah salah satu bentuk tarbiyah di kalangan tabi’in. Mereka menghadapkan diri mereka pada setiap ayat dalam Al-Qur’an agar menjadi barometer, lalu menghadapkan diri pada setiap perintah, lalu memeriksa diri mereka; sudahkah mereka mentaatinya? Sudahkah mereka melaksanakannya? Selanjutnya, mereka menghadapkan diri mereka pada setiap larangan, lalu memeriksa diri mereka; sudahkah mereka berhenti darinya dan meninggalkannya? Kemudian mereka menghadapkan diri mereka pada ayat-ayat yang menerangkan ahli jannah, lalu memeriksa apa yang tersedia pada diri mereka dari sifat-sifat tersebut. Kemudian mereka menghadapkan diri mereka pada ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat ahli neraka agar mereka segera bertobat dan mengobati diri mereka darinya. Begitulah keadaan mereka pada setiap ayat dalam Al-Qur’an.
Mutharif bin Abdillah bin Syuhair berkata, “Suatu malam aku berbaring di atas kasur mentadaburi AI-Qur’an dan membandingkan amalan-amalanku dengan amalan ahli jannah. Ternyata amalan-amalan mereka sangatlah berat: ‘Mereka sedikit Sekali tidur di waktu malam‘.(Adz-Dzâriyât: 17); ‘Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka’. (A1-Furqan: 64); ‘Ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri’.(Az-Zumar: 9) Maka, aku tidak melihat diriku termasuk dalam sifat mereka. Kemudian aku menghadapkan diriku pada ayat ini, ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?‘(A-Mudatsir: 43). Aku melihat bahwa mereka adalah kaum yang mendustakan. Dan, tatkala aku melewati ayat ini: ‘Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk‘. (At-Taubah: 102) maka aku berharap agar aku dan kalian, wahai saudara-saudaraku, termasuk dari mereka
Demi Allah, apabila kita hadapkan diri kita pada Al-Qur’an sebagaimana mereka maka tampaklah siapa sejatinya diri kita. Tatkala baru melalui satu atau dua ayat maka sebagaimana yang dikatakan Abdul Aziz bin Abi Ruwad, “Apabila aku menyebutkan keadaan kaum salaf di antara kita maka tampaklah jati diri kita semua.”
Beliau mengucapkan perkataan ini padahal beliau hidup pada zaman tabi’in. Pada kurun ke dua dan ke tiga hijriyah. Lalu apa yang akan kita katakan pada zaman kita sekarang? Pada zaman ketika Al-Qur’an sudah dijauhi.
“Kalau engkau mampu tidak didahului oleh seorang pun dalam beribadah kepada Allah maka lakukanlah”_Wahih bin Al-Wird
Barang siapa melihat keadaan generasi ini sekilas saja maka dia akan mendapati bahwa mereka adalah generasi yang sibuk dengan urusan ibadah sehingga hal tersebut menghilangkan segala keinginan yang lain, akan didapati juga bahwa mereka selalu dalam ketaatan. Hammad bin Salamah mengatakan, Setiap kita mendatangi Sulaiman At-Taimy kapan pun pasti kita mendapatinya berada dalam ketaatan. Apabila pada waktu shalat maka kita mendapatinya sedang shalat. Di luar waktu shalat kita mendapatinya sedang wudhu atau menjenguk orang sakit, atau mengiringi jenazah, atau duduk di masjid, dan kita melihatnya tidak pandai dalam berbuat maksiat. “
Setiap keadaan yang mereka lalui adalah dalam rangkaian tazkiyatun nafs. “Apabila mereka berucap, ucapannya adalah zikir kepada-Nya. Apabila bergerak maka dengan perintah- Nya. Apabila gembira maka karena dekat dengan-Nya. Apabila bersedih maka karena kemurkaan-Nya. Gizi mereka adalah mengingati-Nya. Waktu-waktu mereka diisi dengan munajat kepada-Nya menjadi indah. Mereka tidak sabar jauh dari-Nya meskipun hanya sesaat dan mereka tidak berbicara dalam hal yang tidak diridhai-Nya.”
Ada perbedaan yang cukup besar antara seseorang yang menjalankan salah satu amalan yang diwajibkan kemudian setelah itu melepaskan kekangan dari dirinya dalam amalan yang mubah dan orang yang engkau mendapatinya selalu sibuk dengan Allah Azza wa Jalla dalam tidur dan jaganya, bicara dan diamnya, dalam raut mukanya juga sinar matanya, semuanya karena Allah, dari Allah dan kepada Allah, dia selalu berada dalam langit akhlak dan cita yang tinggi.
Apabila jiwa telah menjadi besar
Badan lelah mengiringi keinginannya.
Saudaraku, beribadahlah karena Allah sebagaimana orang orang saleh dahulu sehingga kalian mendapatkan seperti apa yang mereka dapatkan. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh Sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isrâ’: 19)
“Barang siapa yang menghendaki mengolah ladang akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya.”(Asy-Syurâ: 20)
“Mengolah tanah adalah proses yang susah, harus dengan membelah tanah dan membaliknya serta memperbaikinya apabila membutuhkan perbaikan. Kemudian memupuknya dengan bahan yang menyuburkannya serta terus menerus mengikuti proses pemupukan dari waktu ke waktu, membersihkan lahan dari batu dan kotoran yang memengaruhi produksi. Setelah itu menabur dan memeriksa bibit sanmpai merata lalu menutupi bibit tersebut. Mencari air dengan membangun irigasi hingga air bisa sampai ke lahan yang ditanami tersebut. Memperhatikan pengairannya setiap hari dan pada musim panas tanaman membutuhkan pengairan dua kali sehari. Kemudian menjaga lahan tersebut dari burung-burung yang memakan bibit tersebut dan memeliharanya ketika baru tumbuh dan berkembang serta mengantisipasi dari bahaya angin dan hama.”
Ini adalah ungkapan yang paling tepat tentang pentingnya memerhatikan jiwa dan menyibukkannya dengan amal ketaatan. Inilah yang dipahami oleh para tabiin dahulu, dan menjadikannya sebagai manhaj hidup mereka. Husyaim mengatakan, “Kalau dikatakan kepada Mansur bin Zadan bahwasa malaikat maut sudah berada di pintu siap menjemputmu maka dia tidak bisa menambah amalan lagi. Ini karena di waktu shubuh dia pergi ke masjid untuk shalat subuh berjamaah, lalu duduk bertasbih hingga terbit matahari, kemudian dia shalat sunah hingga matahari tergelincir, kemudian shalat zhuhur, kemudian shalat sunah lagi hingga datang waktu ashar, lalu dia shalat Ashar, kemudian duduk bertasbih hingga datang waktu maghrib, lalu shalat Maghrib, kemudian shalat sunah lagi hingga datang waktu isya’, kemudian shalat Isya’ lalu pergi ke rumah dan dia mengisi waktunya dengan menulis. “
Demikianlah agenda harian yang mereka jalani. Tidak ada waktu bagi mereka untuk menganggur atau bersantai karena mereka mewarisi keyakinan dari para shahabat bahwa bersantai bagi lelaki adalah suatu kelalaian.
Tabi’in yang lain yang menempuh jalan yang sama adalah Amru bin Qais Al-Mulai pendidik dan guru bagi Sufyan Ats-Tsauri sebagaimana yang beliau tuturkan, “Amru bin Qais Al-Mula’i adalah orang yang telah mendidikku dan mengajariku membaca Al-Quran dan ilmu Fara’id. Aku mencarinya di pasar dan kalau aku tidak mendapatinya di pasar maka biasa aku mendapatinya di rumahnya sedang shalat atau membaca Al-Qur’an seakan-akan dia mengejar sesuatu yang tertinggal. Kalau aku tidak mendapatinya di rumah maka aku mendapatinya di salah satu masjid Kufah di salah satu pojok masjid seakan-akan pencuri yang sedang duduk menangisi dosanya. Dan, kalau aku tidak mendapatinya di masjid maka aku mendapatinya di kuburan sedang duduk meratapi dirinya.”
Orang berkata kepadaku, “Aku melihatmu terkucil
di antara manusia tanpa kawan.”
Aku jawab, “Tidak, tetapi orang-oranglah yang asing
aku berada di alamku dan inilah jalanku.”
Kekurusan pada setiap badan adalah musibah
Sedang musibah badanku tatkala ada kesenjangan asa
Amir bin Abd Qais pernah berkata, “Kalau Allah tidak menguji kita dengan perut maka Dia tidak melihatku kecuali selalu rukuk dan sujud.” Dalam sehari dia shalat 800 rakaat, namun dia berkata pada dirinya, “Sungguh, aku masih belum bersungguh-sungguh dalam beribadah.” Dia mencela dirinya dengan berkata, “Wahai diri, sesungguhnya engkau diciptakan hanya untuk beribadah! Wahai yang selalu memerintahkan kepada kejelekan, demi Allah aku akan membawamu kepada suatu amalan hingga tidak ada waktumu yang tersisa untuk tempat tidur.” Maka dia shalat hingga kedua kakinya bengkak.
Dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya surga bisa diraih dengan selain apa yang engkau perbuat, dan neraka juga bisa dijauhi dengan selain apa yang engkau perbuat.” Maka dia berkata, “Tidak, hingga aku nanti tidak mencela diriku maka aku akan tetap berusaha dengan sungguh-sungguh. Apabila aku nanti selamat maka itu adalah karena rahmat Allah, dan apabila aku ternyata masuk neraka maka itu karena kesungguhanku masih kurang.”
“Apabila dia selesai shalat Shubuh, dia duduk di salah satu sisi masjid dan berkata, ‘Siapa yang mau menyimakku? Maka datanglah sekelompok orang menyimaknya hingga apabila matahari telah terbit dan memungkinkan untuk shalat maka dia shalat hingga tengah hari lalu pulang ke rumah untuk tidur sebentar. Kemudian balik ke masjid tatkala matahari tergelincir dan shalat sunah hingga shalat Zuhur. Masuk waktu Ashar dia shalat Ashar. Selesai shalat Ashar dia duduk di salah satu sisi masjid dan berkata, “Siapa yang mau menyimakku?” Maka datanglah sekelompok orang menyimaknya hingga matahari terbenam lalu shalat Maghrib dan shalat sunah hingga shalat Isya di akhir waktu. Kemudian pulang ke rumah, makan sepotong roti dan berbaring sebentar, kemudian bangun shalat malam hingga tiba waktu sahur lalu makan sepotong roti dan minum air. Setelah itu pergi ke masjid.”
Adalah Khalidul Ashri, ia shalat shubuh di masjid tempatnya lalu berzikir hingga matahari terbit, kemudian mengurus rumah, membersihkannya dan diambillah untuknya dua bantal lalu dia menutup pintu dan berkata, “Selamat datang para malaikat Allah, demi Allah hari ini kalian akan menyaksikan kebaikan dari diriku, lalu beliau memulai membaca bismillah, subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah, wallahu akbar. Dia terus membacanya hingga tertidur atau keluar untuk shalat Jamaah.
Itulah kebanggaan, wahai semangat lelaki
Datang dan lihatlah olehmu manakah kemuliaan.
Saudaraku, Begitu tinggi semangat mereka hingga memilih amalan yang berat yang sesuai dengan tingginya semangat mereka, sebagaimana seorang wanita bekas budak Ibrahim An-Nakha’i sengaja puasa di hari yang sangat panas. Tatkala ditanyakan kepadanya, “Mengapa engkau memilih hari yang paling panas untuk puasa?” Dia menjawab, “Kalau harga murah maka semua orang akan ikut membelinya.”
Wahai orang yang lalai dari harga di masa harga murah, periksalah hatimu yang hilang. Kalau engkau tidak mendapatinya maka ratapilah dirimu dan tangisilah gelapnya hatimu semoga bisa bersinar kembali. Wahai kalian yang mengaku mukmin jangan nmengaku telah mengerjakan sesuatu dari amalan mereka karena sesungguhnya mereka telah mencuci tangan dari diriku dan kalian, sebagaimana yang dikatakan Ibrahim At-Taimi, “Apabila engkau melihat seseorang yang lalai dari mendapatkan takbir pertama dalam shalat jamaah maka cucilah tanganmu darinya.”
Saudaraku, yang menyerah dengan keadaan dan tertinggal, wahai yang tidak tergerak kecuali ditabuh genderang di kepala hingga muncul semangat, dimanakah semangat baja sebagaimana yang mereka miliki. Tangisilah dirimu, wahai orang yang miskin semangat.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 160-167
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=w_jB6kKQkq0Q7kNvwFZxPaO&_nc_oc=AdpQdcjzCaUi-RsvKtTkbmWl1lcOPKeQvmHowj2hd0zVSeU9Gpf3bo58Elp4J8OHYfE&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=xyuw0INZBFoeyqdTLreOYw&_nc_tpa=Q5bMBQJcPXsU1-twJf8iEHo1ho-Hck3uTJ2Ixi_Lz8T5UCHdeCPS7_nlKyKdaIQXZ9wYVPc9QKkPRxfd&oh=00_AQG1P23Pofq9-US07z7xF3D_yzwxOY8xE0G18UN9raaRkQ&oe=6A919676)


