Jangan tunduk pada nafsumu, meskipun ia mengajakmu pada sesuatu yang menyenangkan
Mansur bin Ammar pernah berkata, “Keselamatan dari nafsu adalah dengan menyelisihinya, dan bencananya ada dengan menurutinya.”
Memang nafsu manusia dengan tabiat kebodohannya selalu condong kepada hal-hal yang menyebabkan kebinasaannya, condong kepada syahwat dan kenikmatan-kenikmatan fana. Oleh karena itu, manusia wajib mengekang dan senantiasa mengendalikannya. Salah satu sarana mendidik diri pada generasi tabi’in adalah tarbiyah menyelisihi apa yang diperintahkan oleh nafsu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan “(Yusuf: 53).
Siapa saja yang selalu mengikuti semua yang diperintahkan oleh nafsunya maka dia akan sesat dan tergelincir, dan siapa saja yang menyelisihi hawa nafsunya dan berpindah dari menaati perintah kepada kejahatan menjadi menaati perintah kepada kebaikan, memperbudaknya dan bukan malah diperbudak maka nafsunya akan berubah menjadi selalu taat kepadanya.
Oleh karena itu, generasi tabi’in sangat waspada terhadap nafsu sehingga selalu berusaha menyelisihinya sebagaimana yang dikatakan Yahya bin Muad, ‘Jangan tunduk kepada nafsumu meskipun dia mengajakmu kepada sesuatu yang menyenangkan.”
Ahmad bin Al-Hawari menjadikan hal ini sebagai pedoman dia berkata, “Aku mendengar para guruku mengatakan, Apabila di hadapanmu ada dua hal yang engkau tidak tahu mana yang baik dari keduanya maka lihatlah mana yang lebih dekat dengan hawa nafsu kemudian tinggalkanlah, karena kebenaran terletak pada menyelisihi hawa nafsu.”
Mereka begitu waspada terhadap nafsu sehingga menyelisihinya dalam setiap apa yang diinginkan oleh nafsu mereka. Apabila nafsu memerintahkan berbicara maka mereka diam, dan apabila nafsu memerintahkan diam maka mereka berbicara. Bisyr bin Al-Haris mengatakan, “Apabila Anda suka berbicara maka diamlah, dan apabila Anda suka untuk diam maka berbicaralah.”
Muhammad bin Yusuf mendengar seseorang meminta kepada Abu Nasr Bisyr bin Al-Haris agar membacakan hadits kepadanya, namun beliau menolaknya. Orang tersebut terus berusaha membujuknya, namun beliau tetap menolak. Setelah orang tadi menyerah lalu meningalkannya maka aku bertanya, Wahai Abu Bisyr, apa yang akan engkau katakan nanti ketika menghadap Allah jika menanyakan kepadamu kenapa engkau tidak mau membacakan hadits?” Bisyr menjawab, ‘Aku akan katakan, Ya Rabbi, alasanku waktu itu karena nafsuku sangat ingin membacakan hadits maka aku menolak membacakannya dan tidak mernuruti keinginannya’.
Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Sepatutnya seorangalim berbicara dengan niat dan maksud yang baik. Apabila dia suka akan berbicara maka hendaklah dia diam, dan apabila dia Suka akan diam maka hendaklah dia berbicara. Jangan berhenti dari mengoreksi diri karena nafsu suka kepada pujian dan popularitas.”
Seorang tabi’in yang bernama Aun bin Abdillah memalingkan pandangan kita kepada hakikat menyelisihi hawa nafsu pada hal-hal yang disukainya karena nafsu condong kepada istirahat dan kehidupan yang menyenangkan, serta enggan menetapi ketaatan, beliau berkata, “Apabila nafsumu tidak menaatimu pada hal-hal yang engkau benci maka jangan mentaatinya pada hal-hal yang dia senangi.
Saudaraku, mari kita perkuat kewaspadaan kita terhadap musuh yang selalu ada bersama kita yaitu nafsu. Lakukan apa yang tidak disukainya dan katakan tidak dengan semua yang disukainya.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 80-82
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































