Menyembunyikan ibadah dengan menampakkan aktivitas lain
Ini adalah cara lain untuk menjaga keikhlasan, yaitu dengan menampakkan aktivitas lain setelah mengerjakan suatu ibadah untuk lebih menyembunyikan amalannya. Abu Tamim bin Malik mengisahkan:
“Adalah Mansur bin Al-Mu’tamir, apabila shalat Subuh ia menampakkan kebugaran kepada sahabat-sahabatnya (seakan-akan baru bangun tidur). la berbicara dengan mereka dan bolak balik kepada mereka, padahal semalaman ia bangun mendirikan shalat. Ia lakukan semua itu untuk menyembunyikan apa yang telah ia kerjakan.”
Mansur bin Al-Mu’tamir selalu berusaha menyembunyikan amalannya sampai diriwayatkan bahwa ia telah berpuasa selama 60 tahun, bangun malam mendirikan shalat di malam hari dan puasa di siang hari. la pernah menangis lama sekali hingga ibunya bertanya kepadanya, “Nak, apakah kamu habis membunuh seseorang?
la berkata “Aku mengetahui apa yang harus kuperbuat pada diriku.”
Apabila telah datang waktu subuh, ia mencelaki matanya, meminyaki rambutnya dan membelahnya menjadi dua sisi, baru kemudian keluar.”
Begitu pula Abu Ayyub As-Sakhtiyani Rahimahullah, beliau bangun shalat semalaman kemudian menyembunyikannya. Apabila datang waktu subuh maka beliau mengangkat suaranya seakan-akan baru bangun.
Mereka mengajarkan keikhlasan bukan hanya kepada diri mereka sendiri, tetapi juga kepada para pengikut mereka. Contoh, Raja’ bin Haiwah ketika melihat salah seorang dari muridnya mengantuk setelah subuh, beliau mengingatkannya, “Hati-hati, jangan sampai mereka mengira kalau ini karena pengaruh bangun malam.”
Kilasan kisah yang berharga semacam ini tidak akan keluar kecuali dari pendidik yang benar-benar menyadari dan mempunyai kemampuan untuk mencetak generasi yang dapat memperbaiki dunia. Yang demikian itu adalah ringkasan hasil eksperimen pendidikan yang mampu memberikan gizi yang baik bagi hati yang telah terkoyak oleh kepedihan musibah riya’. Tidak ada penawar selain dengan itu.
Betapa Payah Flu ini!
Para salafus saleh selalu berusaha menyembunyikan amal ibadah mereka dan memiliki kepekaan yang tinggi untuk menjadikan seluruh ibadahnya ikhlas karena Allah. Tak heran kalau mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menyembunyikannya. Lihatlah kepada salah seorang dari mereka, Ayyub bin Kaisan As-Sakhtiyani. Kadang kala ketika beliau berbicara tentang suatu hadits hatinya bergetar, lalu ia menoleh dan berpura-puramengeluarkan ingus dari hidungnya dan berkata, “Betapa payah flu ini!”
Tabi’in yang mengikuti cara ini adalah Amru bin Qais Al-Mula’i. Apabila hatinya bergetar, ia memalingkan wajah menghadap dinding dan berkata kepada kawan-kawan duduknya, “Betapa payah flu ini!”
Hasan AI-Bashri mensitati generasi tabiin ini, “Apabila seseorang duduk di majelis dan air matanya akan keluar ia berusaha menahannya, dan apabila khawatir tak mampu menahan, ia berdiri keluar dari majelis tersebut.”
Muhammad bin Wasi’ yang termasuk tokoh generasi ini mengatakan, “Aku mendapati beberapa orang, yang salah seorang dari mereka tidur sebantal dengan istrinya. Bantal yang di bawah kepalanya telah basah dengan air mata, namun istrinya tidak mengetahuinya. Aku juga menjumpai beberapa orang yang shalat di shaf pertama kemudian air matanya mengalir di pipinya, namun orang yang di sampingnya tidak mengetahuinya.” Beliau juga berkata, “Sungguh ada seseorang yang menangis selama 20 tahun, namun istrinya tidak mengetahuinya.”
Majelis Sufyan Ats-Tsauri dan Fudhail bin Iyadh
Seorang tabi’in terkenal, Sufyan Ats-Tsauri menceritakan kepada kita tentang ringkasan perjalanannya dalam masalah ini. Ia berkata, “Suatu hari hatiku bergetar dan aku pun menangis. Aku katakan pada diriku, ‘Seandainya salah seorang dari kawanku melihatku, pasti hatinya juga ikut bergetar Kemudian aku mengantuk dan tertidur, maka dalam mimpi aku melihat ada seseorang mendatangiku lalu menendangku dan berkata, ‘Ambil pahalamu dari orang yang kamu inginkan agar melihatmu!’
Tokoh-tokoh madrasah ini sering saling berwasiat dan menasihati karena kesungguhan mereka untuk mewujudkan kesempurnaan pendidikan.
Suatu ketika Sufyan Ats-Tsauri berjumpa dengan Fudhail bin Iyadh kemudian saling mengingatkan, lalu keduanya menangis. Sufyan berkata, “Aku sangat berharap majelis kita ini menjadi majelis yang paling berberkah.” Namun Fudhail berkata, “Itu kan harapanmu, tetapi aku khawatir kalau majelis kita ini menjadi majelis yang paling buruk. Bukankah ketika engkau melihatku, engkau berhias dengan sebaik-baik yang engkau mampu, dan begitu pula aku. Maka, sungguh engkau telah beribadah kepadaku dan aku beribadah kepadamu.” Maka Sufyan menangis keras dan berkata, “Semoga Allah menghidupkanmu sebagaimana engkau telah menghidupkan hatiku.”
Mereka sedih terhadap orang-orang yang memperlihatkan ketaatan dan ibadahnya hanya untuk mencari popularitas, riya dan perhatian. Abu Hazim berkata, “Boleh jadi seorang hamba mengerjakan suatu kebaikan yang menggembirakannya ketika ia mengerjakannya, namun ternyata Allah tidak menciptakan suatu kejelekan yang lebih berbahaya daripadanya. Dan boleh jadi seorang hamba mengerjakan suatu kejelekan yang menyedihkannya ketika ia mengerjakannya, namun ternyata Allah tidak menciptakan suatu kebaikan yang lebih bermanfaat daripadanya.
Hal itu karena ketika ia mengerjakan suatu kebaikan, ia menjadi sombong dan merasa lebih utama dari orang lain, sehingga kemungkinan Allah menolak amal tersebut dan juga banyak amalan lainnya. Sedangkan seorang hamba mengerjakan kejelekan yang menjadikannya jelek dan bersedih, tetapi boleh jadi Allah kemudian memberinya rasa takut, dan ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan masih membawa ketakutan pada dirinya itu,”
Perumpamaan orang yang beramal karena riya’ dan sum’ah (mencari perhatian) adalah seperti seseorang yang pergi ke pasar dan mengisi penuh karungnya dengan kerikil. Orang-orang berkata, “Penuh sekali karung orang itu!” Namun, tidak ada manfaat baginya kecuali hanya omongan orang, meskipun ia juga berkeinginan membeli sesuatu.
Begitu pula orang yang beramal karena riya’ dan sum’ah tidak ada manfaat baginya kecuali hanya pujian orang, dan tidak ada pahala baginya di akhirat. Allah Ta ala berfirman:
“Dan Kami hadapi segala amal (baik) yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al- Furqan: 23).
Senada dengan itu, Ar-Rasyid berkata, “Orang yang riya’ itu seperti bulan ketika terjadi gerhana, dia keluar dari ketenangan dan diamnya, kemudian membutuhkan kegaduhan suara tabuhan, teriakan anak-anak kecil dan membangkitkan semangat orang-orang renta (kebiasaan suku pedalaman Arab kalau terjadi gerhana).”
Sebuah nasihat untuk kita, “Belajarlah keikhlasan dari pengembala kambing. Apabila ia shalat di sekitar kambing-kambingnya, ia tidak mengharap pujian dari kambingnya. Begitu pula hendaknya seseorang dalam beramal, jangan peduli dengan orang-orang yang melihatnya, sehingga selalu beramal ikhlas karena Allah baik ketika bersama manusia maupun ketika sendiri, semuanya sama saja, dan tidak mengharap pujian dari manusia.”
Alangkah indah kalau sujud ini dikerjakan di rumahmu saja!
Hal ini menjadi perhatian para pendidik yang waspada terhadap syahwat nafsu yang tersembunyi dan takut akan masuknya tipu daya setan ke dalam hati manusia dari sela-sela ketaatan. Abu Umamah pernah melintasi seseorang yang sedang sujud dan memanjangkan sujudnya sambil menangis, maka beliau menegurnya dan berkata, “Alangkah indah kalau sujud ini dikerjakan di rumahmu saja!”
Perbaikilah niat, tempuhlah jalan mereka, karena keberhasilan ada jalan mereka. Seorang Muslim yang benar adalah yang membantu, tetapi tidak diketahui, berkorban tetapi tidak disebut, dan mampu memberikan pengaruh pada kelompoknya sebagaimana peran akar pada pohon. Dengan akar itu tegak dan hiduplah pohon, tetapi ia tersembunyi di dalam tanah tidak terlihat oleh mata.
Atau, bagaikan peran pondasi pada bangunan. Kalau bukan karena pondasi, dinding tidak akan bisa tinggi menjulang, atap tidak akan bisa menaungi, dan rumah tidak akan bisa berdiri, Namun begitu, tidak ada seorang pun yang melihatnya seperti halnya dinding dan teras. As-Syauqy berkata:
“Pondasi tersembunyi dari pandangan karena tawadhu’ Setelah berhasil mengangkat bangunan yang didirikan.”
Terakhir, ketahuilah, wahai saudaraku, kepada orang yang jujur dalam beramal, makaAllah akan memberikan pengukuhan dan pertolongan pada dakwahnya. Sedangkan kepada orang yang berdusta, maka Allah akan menyingkap kebohongannya meskipun setelah beberapa waktu kemudian. Betapa kita memerlukan ikhlas, yang pengaruhnya mengalahkan ceramah yang memukau dan keluar dari lisan para pendongeng.
*************
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.22-27
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah







































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=w_jB6kKQkq0Q7kNvwFZxPaO&_nc_oc=AdpQdcjzCaUi-RsvKtTkbmWl1lcOPKeQvmHowj2hd0zVSeU9Gpf3bo58Elp4J8OHYfE&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=xyuw0INZBFoeyqdTLreOYw&_nc_tpa=Q5bMBQJcPXsU1-twJf8iEHo1ho-Hck3uTJ2Ixi_Lz8T5UCHdeCPS7_nlKyKdaIQXZ9wYVPc9QKkPRxfd&oh=00_AQG1P23Pofq9-US07z7xF3D_yzwxOY8xE0G18UN9raaRkQ&oe=6A919676)


