“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) dengan (nnembawa) kebenaran. Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”(Az- Zumar: 2)
Jalan itu bermula dari sini, dari pintu ikhlas. Barang siapa ingin sampai tujuan, ia harus melalui pintu ini. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), Hanya Allah saja yang aku ibadahi dengan menurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku. Maka sembahlah olehmu (hai orang-oran yang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia’. “(Az-Zumar 14-15). Orang yang merngharap amalannya diterima, ia akan bersungguh-sungguh menempuh jalan ini.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan, “Telah tersingkap bagi para pendidik hati dengan sinar iman dan cahaya Al-Qur’an, bahwa mereka tidak meraih kebahagian kecuali dengan ilmu, amal, dan ibadah. Semua orang akan celaka kecuali orang-orang berilmu; orang-orang beriimu akan celaka kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya; mereka yang mengamalkan ilmunya juga celaka kecuali mereka yang ikhlas dalam beramal, dan mereka yang ikhlas juga terancam bahaya yang besar.”
Ikhlas, sebagaimana dikatakan A-Junaid adalah, “Rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui oleh malaikat sehingga menulisnya, atau setan sehingga merusaknya, dan juga hawa nafsu sehingga mengganggunya.”
Atau sebagaimana yang dikatakan Ruaim bin Ahmad, “Ikhlas adalah engkau tidak menengok apa yang telah engkau kerjakan.”
Atau yang dikatakan Sahal bin Abdillah At-Tustary, “Orang-orang bijak mencari kata yang tepat untuk mendefinisikan ikhlas. Mereka tidak mendapatkan itu kecuali: hendaklah setiap gerak dan diamnya dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan hanya karena Allah Ta’ala semata, tidak bercampur dengan sesuatu pun, baik itu hawa nafsu maupun dunia.”
Atau seperti yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim , “yaitu memurnikan menjauhkannya dari perhatian makhluk bahkan dari dirinya sendiri. Barang siapa menganggap amalannya telah ikhlas maka keikhlasannya perlu keikhlasan lagi. Dikatakan pula bahwa ikhlas adalah melupakan perhatian makhluk dengan selalu mencari perhatian Sang Khalik.”
Para salafus saleh adalah madrasah keikhlasan. Dari mereka kita bisa belajar dan melalui petunjuk mereka kita bisa menempa diri. Orang-orang yang mulia telah tiada, yang tersisa hanya kawan riya’ dan suka tidur. Betapa jauh perbedaan antara zaman kita dan zaman mereka? Fudhail bin Iyadh berkata, “Kita pernah menjumpai orang-orang yang berbuat riya’ dengan apa yang mereka kerjakan. Namun sekarang, orang malah berbuat riya’ dengan apa yang tidak mereka kerjakan.” Apa yang akan beliau (Fudhail bin lyadh) katakan andaikata beliau hidup pada zaman kita?
Kebenaran Akan Dimenangkan Oleh Orang Ikhlas
Terkadang kita berbicara dengan berton-ton kata, tetapi hampir tidak ada satu kata pun yang mampu menyentuh hati manusia. Penyebabnya adalah sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mubarak, “Kita fasih dalam berkata-kata, tetapi tidak fasih dalam berbuat.”
Hal itu menyebabkan jiwa menjadi gersang dan hati menjadi tandus, air mata mengering, dan obor penerang hati padam. Sebab, hilangnya keikhlasan itu mematikan kata-kata yang keluar dan menguburnya di bawah tapak kaki. Ketika Hamdun bin Ahmad ditanya, “Mengapa perkataan orang-orang salaf lebih bermanfaat dari perkataan kita?” Beliau menjawab, “Karena mereka berkata untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan mengharap ridha Allah, sedang kita berkata untuk kemuliaan diri sendiri, mencari dunia, dan mengharap ridha makhluk.”
Ketika orang berusaha keras untuk ikhlas dalam berkata dan berbuat, maka terbukalah hati manusia untuknya setelah sekian lama tertutup; jiwa mereka mau menerima setelah berpaling; dan benteng-benteng lawan pun mulai bisa ditundukkan.
“Kebenaran tidak akan berkuasa dalam kehidupan ini, kebaikan tidak akan tersebar, kalimat iman tidak akan menjadi tinggi, dan bendera kemuliaan tidak akan berkibar melalui para penjual mabâadi’ (prinsip). Yaitu orang-orang yang beramal demi mengeruk keuntungan dan meraup dunia. Semua itu juga tidak akan terjadi melalui orang-orang yang riya’, yang tidak beramal kecuali untuk dilihat dan didengar manusia, disebut-sebut dan semua telunjuk mengarah kepadanya.
Akan tetapi, kebenaran, kebaikan, dan iman akan menang melalui orang-orang yang ikhlas, selalu memegang prinsip, mampu memberi pengaruh dan bukan terpengaruh, mau berkorban bukan mengambil manfaat, dan memberi bukan mengambil.”
*************
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.14-17
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah








































































