MUJAHIDDAKWAH.COM, SULAWESI SELATAN – Musholla kayu itu sudah tidak lagi tegak berdiri. Beberapa bagian dinding papan bahkan terlihat sudah terbuka, lapuk dimakan rayap. Namun demikian, bacaan al qur’an selalu semarak terdengar dari balik musholla tua ini.
Sebanyak 80 anak, menjadikan musholla ini sebagai markaz belajar dan menghafal Al qur’an. Hawaty, salah satu diantaranya.
Hawaty yang kini telah menyelesaikan 20 Juz hafalan Al qur’annya itu bercerita bahwa aktifitas di musholla ini selalu ramai setiap harinya. Dimulai sejak dinihari. Dengan melakukan Sholat lail berjamaah.
Setelah sholat lail, sambil menunggu waktu sholat shubuh, mereka mengisi waktu dengan murojaah atau menambah hafalan.
Masing-masing harus menyetorkan hafalan tambahan minimal 1 lembar ayat al qur’an setiap ba’da sholat shubuh kepada ustadzah yang membina, setiap harinya.
“Alhamdulillah, kegiatan ini sudah berjalan selama 10 tahun. Seusia dengan musholla darurat ini. Santri yang belajar di sini, mayoritas dari keluarga pra sejahtera. Beberapa diantaranya bahkan adalah yatim,” ungkap Hawaty.
Semenjak almarhum ayah meninggal dunia. Ibu saya bekerja menggarap sawah sendiri untuk menafkahi 8 orang anaknya. Sempat terpikir apakah mungkin saya bisa melanjutkan sekolah lagi?
“Alhamdulillah, harapan untuk melanjutkan sekolah itu bisa terwujud. Saya diberikan kesempatan untuk menjadi santri di pesantren tahfidz hidayatullah putri parepare ini tanpa diberatkan dengan biaya-biaya dari pesantren,” tutur Hawaty.

Namun demikian, akhir-akhir ini kami sering khawatir saat berkegiatan di Musholla darurat ini. Bangunan mushollah kayu tua ini sepertinya tinggal menunggu waktu untuk roboh. Sementara belum juga bisa terganti atau minimal direnovasi.
“Bangunan musholla ini dulu memang dibangun secara darurat, dengan memanfaatkan balok, papan, dan seng bekas saja. Namun meski sifatnya darurat, musholla ini belum juga tergantikan. Bahkan setelah 10 tahun digunakan dalam kondisi yang serba darurat,” ujar Ustadz Muharram, salah satu pembina santri.
Saya dan teman-teman sering berkhayal, kapan musholla darurat ini bisa diperbaiki? Kami ingin musholla ini terus berdiri dan menjadi ruang istimewa.
“Ruang yang memberikan kesempatan bagi orang-orang lemah ekonominya, yatim-dhuafa- terus bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” harap Hawaty.
Laporan: Syamsuddin
Editor: Muhammad Akbar












































































