Madrasah Tabi’in
Para tabi in banyak memiliki madrasah keikhlasan. Sebaiknya orang belajar dari mereka, duduk menanti di pintu untuk menjadi pelajar tarbiyah (berilmu dan beramal), bukan hanya pelajar kata-kata yang melangit. Di antara madrasah tersebut adalah:
•Ibrahim bin Adham dalam Menjauhi Popularitas
Ibrahim bin Adham pernah berkata, “Tidaklah seorang hamba jujur kepada Allah selama ia masih suka popularitas.
Ibnul Jauzi berkisah tentang Ibrahim bin Adham, “Ibrahim bin Adham adalah orang yang terkenal di suatu daerah, suatu ketika ada sekelompok orang mencarinya dan ditunjukkan bahwa ia berada di kebun Fulan. Mereka pun berkeliling mencarinya di kebun tersebut sambil berteriak, “Di manakah Ibrahim bin Adham? Di manakah Ibrahim bin Adham?” Beliau (Ibrahim bin Adham) pun ikut berkeliling bersama mereka sambil berteriak, “Di manakah Ibrahim bin Adham?”
Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Ibrahim bin Adham adalah orang yang suka merahasiakan amalnya. Tidak pernah aku melihatnya menampakkan tasbih atau kebaikan sedikitpun.
Seorang penyair berkata:
Jangan Anda sebut-sebut nama kami bersama mereka.
Tidaklah sama jalan orang sehat dengan jalan orang jompo
•Abdullah bin Mubarak dalam Menyembunyikan Amal
Beliau adalah salah seorang tokoh dalam madrasah ini. Muhammad bin A’yun mengisahkan, “Aku pernah menemani Abdullah bin Mubarak dalam sebuah perjalanannya. Pada suatu malam ketika kami pergi memerangi Romawi, dia pergi untuk meletakkan kepalanya pura-pura tidur. Aku berkata dalam hati, ‘Aku akan berbaring sambil berpegangan tombakdan meletakkan kepala pura-pura tidur juga.
Ketika dia mengira aku sudah tidur, dia pun bangun mendirikan shalat hingga terbit fajar dan aku terus mengamatinya. Ketika fajar terbit, dia membangunkanku dan mengira aku tidur. Dia berkata, ‘Hai Muhammad!” Aku menjawab, “Sebenarnya aku tidak tidur’ Ketika ia mendengar itu dan mengetahui apa yang telah kuperbuat, aku tidak pernah melihatnya berbicara denganku, dan aku tidak pernah menceritakan apa yang ia kerjakan dalam peperangannya. Sepertinya dia tidak suka kepadaku karena mengetahui apa yang dia kerjakan. Dan aku selalu mengetahui dia berbuat demikian itu hingga meninggal. Tak pernah aku melihat ada orang yang lebih mampu merahasiakan kebaikan daripadanya.”
Saudaraku, sekeras apa pun usaha salafus saleh menyembunyikan apa amalnya, namun bagaimana mungkin malam bisa menyembunyikan purnama?
Sudah sepatutnya kita didik diri kita menyembunyikan amal. Baik, sekarang mari kita simak Abdah bin Sulaiman, ia mengisahkan, “Aku pernah bersama Abdullah bin Mubarak dalam sebuah peperangan di daerah Romawi, dan kami bertemu dengan musuh. Ketika kedua pasukan berhadap-hadapan, keluarlah seseorang dari barisan musuh menantang duel, maka keluarlah salah seorang dari kami. Dalam beberapa saat saja dia berhasil mengalahkan musuh, menikam, dan membunuhnya. Kemudian keluar lagi satu dari mereka dan ia pun berhasil membunuhnya. Kemudian keluar lagi satu dari mereka dan dia berhasil membunuhnya. Kemudian datang yang lain dan dia berhasil lagi membunuhnya.
Orang-orang pun berkerumun di sekeliling lelaki tersebut dan aku termasuk salah seorang dari mereka. Namun, tiba-tiba lelaki tersebut menutupi mukanya dengan lengan bajunya. Maka aku memegang ujung lengan bajunya dan menariknya. Ternyata lelaki tersebut adalah Abdullah bin Mubarak. Maka ia berkata, ‘Dan engkau, wahai Abu Amru termasuk orang yang menjelekkanku’.”
Saudarakku, renungan apa yang beliau ucapan, “Dan engkau wahai Abu Amru termasuk orang yang menjelekkanku!” Beliau menganggap kalau amalnya dilihat orang adalah suatu kejelekan, padahal beliau telah berusaha keras menyembunyikannya.
Qasim bin Muhammad mengisahkan, “Aku pernah bepergian bersama Abdullah bin Mubarak, sering terbersit dalam hatiku untuk bertanya apa gerangan yang menyebabkan orang ini lebih utama daripada kami sehingga menjadi orang besar yang terkenal? Kalau dia shalat kami juga shalat, dia puasa kami juga puasa, dia ikut perang kami juga ikut perang, dan ia haji kami pun haji.
Karena itu, dalam sebuah perjalanan ketika di wilayah Syam, suatu malam kami makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu padam. Salah seorang dari kami bangun untuk mengambil lentera; ia keluar untuk mencarinya. Kami pun diam menunggu beberapa saat, kemudian ia datang dengan membawa lentera di tangan. Aku melihat wajah Abdullah bin Mubarak, dan jenggotnya telah basah dengan air mata.
Aku berkata pada diriku, “Sungguh, rasa takut kepada Allah inilah yang membuat lelaki ini lebih utama dari kami. Mungkin ketika lampu padam dan suasana menjadi gelap, beliau teringat kegelapan hari kiamat’. “
Mereka adalah bintang-bintang yang engkau cari apabila
Tidak tampak olehmu jalan ketika berjalan wahai kawan.
Maka ikutilah jalan mereka, kenali hakikat mereka
Bacalah perjalanan hidup mereka dengan kecintaan wahai
kawan.
•Muhammad bin Aslam dalam Merealisasikan Amal Berharap Kedua Malaikat Tidak Melihatnya.
Ia salah satu tokoh dalam madrasah ini, yang bersungguh-sungguh menyembunyikan alaman-amalannya hingga berharap agar kedua malaikat tidak melihatnya. Sebaimana yang dikisahkan oleh mantan budaknya, Abu Abdillah:
“Aku menemani Muhammad bin Aslam sekitar dua puluhan tahun, tidak pernah aku melihatnya mengerjakan shalat sunah, membaca Al-Qur’an atau bertasbih, dan tidak ada orang yang lebih mengetahui apa yang ia kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan daripada aku. Aku pernah mendengarnya bersumpah, ‘Andai aku mampu mengerjakan amalan sunah tanpa sepengetahuan dua malaikat yang mengawasiku, sungguh aku akan mengerjakannya karena takut riya’.”
Begitulah generasi tabi’in senantiasa mewariskan panji keikhlasan ini kepada generasi setelahnya hingga keikhlasan menjadi prinsip dan sifat mereka. Dengannya mereka mendidik pribadi mereka dan pengikut mereka. Abu Hazim Al-A’raj Salma bin Dinar berkata kepada salah seorang muridnya, “Sembunyikanlah kebaikanmu lebih daripada engkau menyembunyikan kejelekanmu.” Maka, orang yang ikhlas dalam kamus mereka adalah seperti yang dikatakan Ya’qub Al-Makfuf, “Menyembunyikan kebaikan lebih dari ketika menyembunyikan kejelekan.”23 Daud bin Abi Hindun telah berpuasa selama 40 tahun, namun istrinya tidak mengetahuinya, begitu pula orang lain. Beliau adalah seorang penjual sutera. Ia pergi pada pagi hari dengan membawa bungkusan makanan yang disiapkan olen istrinya kemudian menyedekahkannya di jalan. Ia pulang pada malam hari, dan berbuka bersama mereka. Orang-orang pasar mengira beliau makan di rumah, sedang istrinya mengira kalau beliau makan di pasar.
Tokoh lainnya dalam madrasah ini ialah seorang tabi’in bernama Amru bin Qais Al-Mula’i. Beliau telah puasa selama 20 tahun, tapi istrinya sendiri tidak mengetahui hal ini. Beliau berangkat dari rumah ke toko dengan membawa bungkusan makanan, kemudian beliau menyedekahkannya dan berpuasa, sedang keluarganya tidak mengetahui hal ini.
Contoh lain dari tabi’in yang telah berhasil menjadikan ikhlas menyatu pada dirinya adalah Ibrahim bin Yazid An- Nakha’i. Diriwayatkan dari A’masy ia berkata, “Aku pernah bersama Ibrahim dan ia sedang membaca Al-Qur’an dari mushaf, tiba-tiba ada seseorang minta izin masuk, maka cepat-cepat dia menutup mushafnya dan berkata, ‘Aku tidak ingin orang ini melihatku membaca Al-Qur’an setiap saat’.”
Cara cerdas dalam pendidikan iman bagi jiwa agar selalu ikhlas adalah seperti yang dikerjakan Thallhah bin Mutharif bin Amru bin Ka’ab is. Beliau adalah seorang qâri (Ahli Al-Qur’an) di tengah penduduk Kufah. Mereka belajar Al-Qur’andari beliau. Ketika beliau melihat banyak orang berdatangan kepadanya untuk belajar A-Qur’an, maka beliau mendatangi A’masy lalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya. Setelah itu orang-orang pun beralih belajar kepada A’masy dan meninggalkan beliau (Thalhah).
*************
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal.17-22
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah








































































