“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim!” (QS Fushshilat: 33).
Ayat al-Quran itu sangat terkenal di kalangan para dai dan mahasiswa bidang studi ilmu Dakwah. Logisnya, anak-anak muslim berebut dan bangga menjadi dai. Begitu juga mereka harusnya bangga menjadi mahasiswa ilmu dakwah. Sebab, berdakwah dan menjadi dai adalah pekerjaan terbaik.
Anehnya, beberapa kali saya mendengar bahwa program studi ilmu dakwah di beberapa kampus, kekurangan mahasiswa. Padahal, biaya kuliah sudah ditekan serendah mungkin, atau bahkan digratiskan. Tidak sedikit, anak-anak para dai atau tokoh-tokoh umat Islam, enggan memasuki program studi ilmu dakwah, karena dianggap tidak ”keren”, alias tidak prospektif untuk meraih pasar kerja yang menghasilkan banyak uang.
Seorang dai senior pernah menyampaikan keprihatinannya kepada saya, bahwa anak-anaknya enggan mengambil kuliah dakwah, seperti yang dia inginkan. Bahkan, kuliah progam studi agama pun tidak mau.
Kasus seperti itu banyak terjadi. Tidak sedikit dosen ilmu dakwah atau guru-guru agama yang anak-anaknya enggan melanjutkan kuliah di program studi yang sama dengan orang tuanya. Mungkin orang tuanya sendiri memang tidak bangga anak-anaknya mengambil program studi ilmu-ilmu agama.
Dalam beberapa kali ujian Disertasi, saya bertanya kepada promovendus, ”Apakah ada anak Anda yang mengambil program studi agama, seperti Anda?” jawaban yang sering muncul, adalah, ”Tidak!”
Ada beberapa guru besar ilmu pendidikan yang saya tanya: ”Apakah ada anak Bapak yang kuliah di program studi pendidikan?” Jawabannya ”Tidak ada!” Itu baru beberapa saja yang saya tanya. Mungkin, banyak guru besar ilmu pendidikan lain yang anak-anaknya mengikuti jejak orang tuanya.
Mengapa banyak pelajar muslim lulusan SMA yang pintar, tetapi tidak bangga memasuki program studi ilmu dakwah, komunikasi penyiaran Islam, dan sejenisnya? Jawabnya sederhana: karena dianggap kurang memiliki prospek lapangan kerja yang menggiurkan. Berbeda dengan ilmu kedokteran, IT, Akuntansi, Aktuaria, dan sebagainya.
Inilah problem serius yang dihadapi Perguruan Tinggi Islam. Mereka dipaksa mengikuti konsep kampus industri. Setiap pendirian prodi (program studi/jurusan) disyaratkan kejelasan prospek lapangan kerja bagi lulusannya.
”Nanti lulusannya kerja dimana?” Itu pertanyaan yang biasa ditanyakan, saat visitasi pendirian suatu prodi. Tidak boleh dijawab, ”Lulusannya jadi orang sholeh. Lulusannya jadi mujahid, jadi pejuang di jalan Allah. Atau, lulusannya jadi istri shalihah.” Tidak boleh dijawab seperti itu. Biasanya memang begitu. Suatu prodi boleh didirikan jika peluang kerja lulusannya disebutkan.
Bahkan, kuliah ilmu dakwah pun, harus tunduk kepada logika industri dan pasar kerja. Lulusan fakultas dakwah biasanya diharapkan akan bekerja di bidang jurnalistik, kehumasan, atau per-tabligh-an. Maka, jika suatu prodi tidak dinilai prospektif pasar kerjanya, prodi itu ditutup atau tidak diijinkan untuk didirikan. ”Jangan menambah pengangguran baru,” kata seorang dosen yang biasa melakukan kunjungan ke berbagai calon prodi baru.
STID Mohammad Natsir
Alhamdulillah, hal seperti itu tidak terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Perguruan Tinggi milik Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da’wah) ini setiap tahun dibanjiri pendaftar. Tahun ini, dari sekitar 1200 pendaftar, hanya 200 mahasiswa yang diterima.
Setiap tahun, STID Mohammad Natsir meluluskan sekitar 80-100 sarjana dakwah – dengan prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Pengembangan Masyarakat. Mereka dikirim ke daerah-daerah yang memerlukan tenaga dai. Ada yang di Mentawai, Seram, NTT, Sulawesi, dan sebagainya. Mereka harus melaksanakan program dakwah selama dua tahun.
Alhamdulillah, hingga kini, STID Mohammad Natsir sudah meluluskan lebih dari 600 dai. Sekitar 30 persen para sarjana dakwah itu menetap di tempat praktik dakwahnya. Ada yang menikah dengan perempuan setempat. Beberapa diantaranya, kini memimpin pondok pesantren.
Dakwah adalah aktivitas yang sangat mulia. Sepatutnya para orang tua bangga jika anak-anaknya aktf sebagai dai. Aktivitas dakwah adalah satu kewajiban penting yang diamanahkan oleh Rasulullah saw kepada kaum Muslim. Dakwah, atau “al amru bil ma’ruf wa al-nahyu ‘anil munkar” (memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran), wajib dilakukan, apakah secara personal atau berjamaah.
Secara umum, kaum Muslim wajib mendukung tegaknya kebaikan dan melawan kemunkaran. Tugas ini wajib dilakukan oleh seluruh kaum Muslimin, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Rasulullah saw smengingatkan, agar siapa pun jika melihat kemunkaran, maka ia harus mengubah dengan tangan, dengan lisan, atau dengan hati, sesuai kapasitasnya. Namun, secara kolektif, umat juga diwajibkan melakukan aktivitas ini secara jama’iy. Sebab, ada hal-hal yang tidak dapat dilaksanakan secara individual (fardiy).
Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali menekankan, bahwa aktivitas “amal ma’ruf dan nahi munkar” adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan.
Allah SWT berfirman, yang artinya: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS al-Maidah: 78-79).
Semoga makin banyak orang tua yang bangga anaknya memasuki bangku kuliah dan mengambil program studi ilmu dakwah. Dengan tujuan utama: menjadi dai, menjadi pejuang untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah saw. Soal lapangan kerja dan penghasilan, Allah sudah menjamin:
“Jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7).
***********
Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku, Pendiri Pesantren At-Takwa Depok dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































