Istighfar
Istighfar dalam bahasa Arab berasal dari kata إستغفار yang berarti المغفرة طلب (meminta maghfirah). Karena wazan istaf’ala dalam bahasa Arab maknanya adalah meminta sesuatu. Sehingga istghfar maknanya adalah seseorang meminta maghfirah. Apa itu maghfirah? Maghfirah berasa dari kata mighfar yaitu semacam penutup kepala yang digunakan oleh seseorang yang seseorang berperang yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai penutup kepala dan melindungi dari hantaman pedang. Oleh karenanya tidak semua penutup kepala disebut mighfar seperti peci dan sorban karena hanya memiliki fungsi menutup dan tidak berfungsi sebagai pelindung. Maka demikianlah makna maghfirah. Oleh karenanya Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa tatkala seseorang mengatakan “Astaghfirullah”, makna pertama adalah dia meminta maghfirah kepada Allah yaitu meminta untuk ditutupnya aib-aib di dunia Oleh karenanya sering kita baca dalam dzikir pagi oetang sebuah doa yang meminta agar Allah menutup aib-aib kita,
“Ya Allah, tutupilah auratku, amankanlah apa-apa yang menjadi pemeliharaanku, lindumgilah kami dari bahaya yang datang dari hadapanku, dari belakangku, dari samping kananku, dari sampaing kiriku dan dari atasku dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya yang datang tak disangka dari bawahku.” (Ibnu Majah 2/1273 no. 3871)
Makna menutup aurat di dalam doa ini adalah kita memohon kepada Allah untuk menutup aib-aib kita. Karena jika Allah membuka aib dari dosa-dosa kita, maka sudah pasti tidak ada yang mau berteman bahkan duduk bersama kita. Oleh karenanya Muhammad bin Wasi’ berkata,
“Kalau sekiranya dosa itu memiliki aroma (bisa tercium), tidak seorangpun mau duduk dengan saya.”
Sehingga tatkala orang-orang menghargai kita, orang-orang segan dengan kita, semua itu bukan karena kita mulia, akan tetapi karena Allab menutup dosa-dosa kita. Maka dari itu seseorang perlu untuk banyak mengucapkan istghfar.
Makna yang kedua dari istighfar adalah perlindungan. Yaitu seseorang meminta kepada
Allah agar dosa yang ia lakukan tidak memberikan dampak buruk kepada pelakunya. Dan kita tahu bahwa dosa pasti memiliki dampak buruk. Sehingga orang-orang yang memperbanyak istighfar tidak akan mendapatkan dampak buruk. Bahkan sebagian salaf mengatakan, “Demi Allah saya mengetahui dampak dari maksiatku pada kendaraanku, keluargaku, pembantuku”. Seakan-akan dia tahu bahwa dampak buruk yang dia alami adalah buah dari maksiat yang dia lakukan.
Oleh karenaya makna istighfar adalah seseorang meminta kepada Allah untuk ditutupnya aib-aibnya, dan berlindung dari dampak buruk dosa-dosanya.
Dan sungguh beruntunglah orang-orang yang banyak beristighfar kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah 2/1254 no. 3818)
Akan tetapi di zaman sekarang ini, betapa banyak waktu kita yang terbuang tanpa dzikir kepada Allah. Melainkan banyak waktu kita diisi dengan dosa karena mengikuti hal-hal yang haram di handphone dan media sosialnya. Contohnya adalah melihat hal-hal yang haram, menyebar berita hoax, mencari-cari kesalahan orang lain, ikut dalam diskusi ghibah, dan yang lainnya. Maka dari itu hendaknyakita membiasakan diri untuk banyak beristighfar disetiap waktu-waktu senggang atau bahkan di waktu sibuk kita. Ketika membawa kendaraan kita bisa sambil berdzikir, ketika menunggu antrianpun kita bisa berdzikir. Hanya saja terkadang banyak di antara kita malu ketika berdzikir di tempat-tempat umum. Padahal hal tersebut hanyalah soal kebiasaan.
Ketahuilah bahwa orang-orang yang banyak beristighfar akan diberikan oleh Allah banyak kebaikan dari dunia maupun akhirat. Lihatlahbalasan dunia bagi orang-orang yang senantiasa beristighfar dalam firman Allah Subahanhu wa ta’ala tentang perkataan Nabi Nuh ‘alaihissalam,
“Maka aku (Nuh) berkata (kepada kaumnya), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?”. (QS. Nuh : 10-13)
Balasan akhirat Allah sebutkan dalam ayat yang lain,
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahankesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim : 8)
Maka apakah ada yang lebih baik daripada Allah Subahanahu wa ta’ala? Ketika manusia meminta maaf kepada sesama manusia, yang diberikan hanyalah maaf. Akan tetapi ketika manusia berbuat dosa, bermaksiat, dan melanggar larangan Allah secara terang-terangan, kemudian kembali dan bertaubat kepada Allah, maka Allah Subahanhu wa ta’ala tidak hanya memberikan ampunanNya, akan tetapi Allah juga berikan balasan yang begitu banyak di dunia berupa rezeki, hujan rahmat, anak-anak, dan di akhirat Allah memberikan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai. Maka apa yang membuat kita enggan dan lalai dari beristighfar kepada Allah Subahanhu wa ta’ala?
Kemudian apakah perbedaan antara istighfar dan taubat? Istighfar biasanya ada pada diri seseorang yang meskipun dia tidak bertaubat atau masih terus bermaksiat. Dalam suatu hadits disebutkan,
“Dahulu, ada seorang yang telah berbuat dosa. Kemudian ia berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah dosaku!’. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.’ Kemudian orang tersebut berbuat dosa lagi dan ia berdoa; ‘Ya Allah, ampunilah dosaku!’. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
‘Sesungguhnya hamba-Ku mengaku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampuni dosa atau memberi siksa karena dosa.’ Kemudian orang tersebut berbuat dosa lagi dan ia berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah dosaku!’. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwasanya ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa atau menyiksa hamba-Nya karena dosa. Oleh karena itu, berbuatlah sekehendakmu, karena Aku pasti akan mengampunimu (jika kamu bertaubat).” (HR. Muslim 4/2112 no. 2758)
Maka dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa taubat adalah pintu yang berbeda dengan istighfar, meskipun sama-sama dapat mengugurkan dosa. Karena pada dasarnya istighfar adalah doa. Dan tentunya istighfar yang sempurna adalah yang disertai dengan taubat. Karena tatkala seseorang beristighfar dengan disertai taubat, maka akan timbul rasa takutnya kepada Allah, inabahnya, dan amalanamalan hati yang lain yang bisa menggugurkan dosadosa. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering menggabungkan keduanya dengan berdoa,
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadanya.”
Akan tetapi terkadang seseorang belum bisa bertaubat, sehingga dia masih tenggelam dalam maksiat. Oleh karenanya di antara pengakuan seorang hamba adalah tatkala dia membaca salah satu doa dzikir pagi petang,
“ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUUU LAKA BINI'MATIKA 'ALAYYA WA ABUUU LAKA BIDZANBI FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmatMu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu).” (HR. Bukhari no. 6306)
Dalam doa ini seseorang mengakui bahwa dosa-dosa yang dia lakukan belum bisa dia tinggalkan. Dan benar ada seseorang yang berusaha untuk meninggalkan perbuatan dosa, akan tetapi ada kondisi dimana dia belum bisa meninggalkan dosa tersebut. Akan tetapi dia tetap memohon ampunan kepada Allah tatkala berbuat dosa. Contohnya adalah orang yang bekerja di tempat riba, dan dia tahu yang dia lakukan adalah dosa. Akan tetapi karena suatu hal dia belum bisa meninggalkannya. Dan semoga orang-orang seperti ini kelak diberikan taufiq oleh Allah untuk meninggalkannya. Maka dari itu jangan di antara kita lupa untuk selalu beristighfar. Dan istighfar yang paling utama adalah di waktu sahur. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman
“Orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sahur (sebelum fajar).” (QS. Ali-‘Imran : 17)
“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 18)
Sempatkanlah diri kita untuk bangun tengah malam melaksanakan shalat dan memperbanyak istighfar di waktu tersebut meskipun hanya sepuluh atau lima belas menit.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































