Manfaat senyum yang ketiga, ditinjau dari segi kesehatan. Senyum sama dengan olah raga yang bermanfaat untuk mengurangi infeksi paru-paru, mengurangi sakit jantung, meningkatkan semangat dan mengurangi hormon dalam tubuh yaitu eniferin dan kortisol, serta menghasilkan endorphin, pemati rasa alamiah dan serotonin yang merupakan hormon pengendali rasa sakit, sehingga senyum bisa mempercepat proses penyembuhan penyakit dan mengurangi rasa nyeri.
Selain itu juga, senyum merupakan obat awet muda karena senyum menggerakkan banyak otot wajah, sehingga otot wajah terlatih dan menjadi lebih kencang. Sebaliknya selalu marah, sifat emosional yang tinggi dalam menghadapi sebuah persoalan akan menjadi pemicu terbesar datangnya sumber penyakit.
Keempat, secara spiritual, tersenyum akan memberikan manfaat sebagai penyejuk rohani, tanda kemurahan hati dan tentu saja ibadah karena senyum merupakan sedekah. Hati yang selalu tenang dengan senyuman akan membawa dampak yang jauh lebih besar terutama dalam menjaga ibadah dan ketaatan kepada Allah juga kepada orang yang ada disekitar kita. Menjadikan hidup lebih indah dan bermakna itu mudah, cukup dengan mengamalkan sunnah yang mulia ini. Semua masalah terasa ringan, dan pasti akan terselesaikan dengan mudah.
Saudaraku yang di rahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…
Lantas, bagaimanakah senyum yang diajarkan oleh Nabi kita? Apakah tersenyum itu sama dengan tertawa?
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Namun, tertawanya beliau adalah dengan tersenyum.” (HR. Bukhari, kita al-Adab)
Juga dalam riwayat yang lain dari Abdullah bin Harits bin Jaza Radhiyallahu ‘anhu ia meriwayatkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah tertawa melainkan dengan tersenyum.” (HR. At-Tirmidzi, kitab al-Adab).
Inilah cara Rasulullah ketika beliau tersenyum, sampai hal yang sangat lucu pun tidak membuat beliau tertawa dengan terbahak-bahak. Senyuman beliau membuat hati para sahabat begitu tenang tatkala mereka bersamanya. Berbeda dengan kita saat ini, ketika mendapati para pemuda tengah asik dengan perkumpulannya, terkadang tertawa dengan terbahak-bahak, bahkan sampai mengeluarkan ekspresi yang berlebihan pula. Maka hal seperti ini sesungguhnya tidak baik dan tidak seperti yang diajarkan oleh Nabi kita. Selucu apapun hal tersebut maka tatap disikapi seperlunya dan biasa-biasa saja
Ada beberapa dampak yang timbul akibat tertawa yang berlebihan, di antaranya adalah hilangnya wibawa seseorang. Orang yang menjaga wibawanya akan terhindar dari tertawa berlebihan, karena mereka yakin bahwa setiap perilaku yang ia tampilkan akan menjadi penilaian setiap orang. Makanya ia memilih untuk tetap tenang dalam menyikapi berbagai hal, meskipun menurutnya sesuatu yang sangat lucu dan sebagainya.
Bukan hanya itu, akibat yang lain adalah matinya hati seseorang karena terlalu sering tertawa secara berlebihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan beberapa nasihat kepada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, di antara nasihat tersebut adalah perkataan beliau:
وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati. ”
Rasulullah sendiri telah mengingatkan bahwa tertawa yang berlebihan dapat membahayakan diri. Bahaya tersebut ialah mematikan hati. Mengapa demikian, sebab seorang yang banyak tertawa akan seperti orang yang tidak memiliki sedikitpun tanggung jawab dalam hidupnya.
Padahal sebagai manusia tentunya tugas utama kita ialah untuk beribadah kepadanya. Seorang yang tertawa berlebihan akan bisa lalai terhadap tugasnya tersebut, sehingga lama- kelamaan akan mematikan hatinya.
Apabila seseorang terbiasa untuk tertawa dan bersenda gurau, maka hatinya menjadi keras dan sebagai akibatnya adalah ketika dinasihati itu tidak akan berguna bagi dirinya. Apabila ia diingatkan maka ia tidak akan pernah sadar, karena hatinya telah terlanjur dipenuhi canda, gurau, dan tawa hingga menjadikannya lemah.
Nantikan selanjutnya “Ketika Senyum Berbuah Hidayah” (BAG. 4)
***********
Penulis: Muhammad Ikram, S.Sos.I
(Penulis, Pembina Daar Al-Qalam dan Pemred Mujahid Dakwah)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)












































































