Kitab Al-Iman
Bab 6: Bagian dari iman hendaknya mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri
Hadis12
عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
Dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”.
Fawaid Hadits:
1. Di dalam hadis ini terdapat penafian keimanan seorang yang mengaku beriman kepada Allah hingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri. Para ulama berbeda pendapat tentang penafian ini, apakah ia penafian keshahihan iman atau penafian kesempurnaan iman ? Pendapat yang rajih adalah penafian kesempurnaan iman, sebab mencintai sesama muslim adalah salah satu penyempurna iman. Sebagaimana riwayat Ibnu Hibban terhadap hadis ini “tidaklah seorang hamba mencapai derajat hakikat iman”. Dan makna hakikat iman adalah kesempurnaan iman.
2. Lafadz “Al Khair” di dalam bahasa arab bermakna segala bentuk ketaatan dan kebaikan, baik dalam urusan duniawi ataupun ukhrawi.
3. Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini berisi anjuran untuk bersikap tawadhu terhadap sesama muslim. Karena seorang muslim hendaknya tidak merasa bahwa dirinya lebih baik dari saudaranya.
4. Al Kirmany rahimahullah mengatakan bahwa diantara tanda keimanan seorang muslim adalah membenci untuk saudaranya sebagaimana dia membenci hal itu untuk dirinya.
***********
Penulis: Ustadz Rahmat Badani, Lc., MA
(Dosen STIBA Makassar, Alumni Islamic University of Madinah & Kontributor Mujahid Dakwah.Com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































